
Roy tersenyum melihat Rendra yang jatuh terpental keluar saat terjadi kecelakaan. Dia tertawa menang lalu pergi meninggalkan lokasi.
Berita kecelakaan menyebar di seluruh penjuru Inggris melalui media sosial. Melisa yang baru saja membersihkan diri mendengar Bi Inah berteriak histeris langsung keluar kamar.
"Tuan.....!" Bi Inah menangis
"Bu, ada apa?" tanya Melisa
"Melisa lihat ini!" Bi Inah memberikan Handphonenya pada Melisa.
"Mas Rendra!" mata Melisa terbelalak saat menyaksikan mantan suaminya dibopong dan dibawa oleh ambulance.
"Bu, kita harus kesana melihat Mas Rendra!" Melisa mengajak Bi Inah ke Rumah Sakit.
"Tapi Non, siapa yang akan menjaga rumah ini?" Bi Inah menolak.
Melisa tidak berkata sepatah katapun dan dia mengambil tas di kamarnya lalu pergi ke Rumah Sakit dengan taxi online.
Sepanjang perjalanan Melisa hanya menangis memikirkan mantan suaminya. Dia teringat Aisyah yang akan melahirkan. Melisa bingung bagaimana dia akan memberi tahu Aisyah jika suaminya kecelakaan.
"Aisyah! kamu yang sabar ya dan jangan khawatir aku disini akan menjaga mas Rendra!" Aisyah berbicara sendiri sambil menangis.
Mobil sudah sampai di depan Rumah Sakit, Melisa turun dan langsung masuk ke ruangan di mana Rendra sedang di periksa. Sehingga ada salah satu dokter yang menghampirinya.
" You're his wife?" tanya Dokter itu
"Yes, I'am his wife." jawab Melisa
"Sorry your husband lost a lot of blood so we need blood donors!" Dokter itu menjelaskan.
"Doctor, what is my husband's blood type?" tanya Melisa.
"Your husband's blood type is AB!" Jawab Dokter itu.
"Doctor, my blood type happens to be AB! Take my blood whatever is important my husband is safe!" Melisa akan mendonorkan darahnya untuk Rendra.
"Semoga aku bisa menyelamatkanmu mas!" Melisa menangis di ruang tunggu.
"Mrs. Melisa!" perawat memanggil Melisa untuk memeriksa apakah jenis darahnya cocok untuk Rendra.
Melisa mengikuti perawat untuk menjalani pemeriksaan. Dan tidak menunggu lama, hasilnya keluar dan perawat akan segera mengambil darah Melisa.
Melisa masuk ke dalam ruangan Rendra. Hatinya begitu sedih melihat orang yang dia cintai terbaring lemah.
(Mas Rendra, aku akan mencintaimu!" Melisa menangis.
"Please lay down Mrs. Melisa!"Perawat meminta Melisa untuk berbaring di ranjang samping Rendra.
Darah Melisa sudah di transfusi langsung ke dalam tubuh Rendra. Setelah selesai Melisa di persilahkan istirahat terlebih dahulu karena darah yang diambil sangat banyak.
" Mrs. Melisa, Please rest first because we took quite a lot of blood!"
__ADS_1
Melisa hanya manggut-manggut karena kepalanya terasa pusing.
Melisa tertidur karena tubuhnya semakin lemah.
Kini darah Melisa mengalir di dalam tubuh Rendra. Dan Rendra akhirnya melewati masa kritisnya.
Tengah malam Melisa terbangun saat ada suara memanggilnya.
"Melisa....melisa....!" Rendra memanggil nama Melisa
(Mas Rendra, kenapa kamu memanggil namaku? Seberapa besar cintamu padaku mas?)batin Melisa.
Tak terasa air mata Melisa menetes karena dia merasa bersalah pada Aisyah yang kini sedang berjuang untuk melahirkan anaknya.
( Ya Allah, aku harus bagaimana? disisi lain aku kasihan sama Mas Rendra namun aku tidak mau disebut pelakor.)batin Melisa
Melisa bingung dengan perasaannya sendiri, Rendra sangat membutuhkannya sekarang dan Aisyah sangat mengharapkan kedatangannya.
Melisa memutuskan untuk mendekat ke arah ranjang Rendra.
Melisa menggenggam erat tangan Rendra dan dia mendapat balasan genggaman tangan yang sangat kencang.
Rendra membuka matanya dan dia tersenyum pada Melisa.
"Melisa kamu datang?" Rendra menatap Melisa
"Iya Mas, aku disini dan aku akan menjaga Mas Rendra!" Melisa masih menggenggam tangan mantan suaminya.
"Terima kasih sayang!" Rendra mencium tangan Melisa.
Tiba-tiba Dokter datang dan akan memeriksa Rendra.
"Good evening Mr. Rendra, how are you?" Dokter bertanya pada Rendra tentang keadaannya.
"Doctor, my condition has improved, I just have a little headache!" jawab Rendra
"Previously you were in critical condition due to heavy blood loss but your wife, Mrs. Melisa has saved you by donating her blood!" Dokter memberitahu Rendra.
Rendra semakin mempererat genggaman tangannya lalu kembali mencium tangan Melisa.
"Thank you Melisa and I Love You!"
"Mas, ini Rumah Sakit!" Melisa merasa malu karena Rendra menyatakan perasaannya.
Dokter dan perawat hanya tersenyum melihat pasiennya sudah sadarkan diri dan keadaannya sudah membaik.
"Mr. Rendra still has to undergo a follow-up examination and we recommend that he stay in the hospital until he is fully recovered!" Dokter menjelaskan kemudian mereka pergi meninggalka Rendra dan Melisa karena masih harus memeriksa pasien lain.
Rendra kembali menatap ke arah Melisa. Hal itu menyebabkan Melisa merasa salah tingkah karena di pandang oleh Rendra.
"Melisa, Do you love me?" Rendra bertanya pada Melisa.
__ADS_1
"Mas, kamu pikirkan dulu kesehatanmu jangan mikir yang lain!" Melisa mengalihkan pembicaraannya.
"Jawab dulu pertanyaanku!" Rendra memohon
"Tapi...!" Melisa bingung
"Kenapa?"
"l Love you too but what about Aisyah?" jawab Rendra
"Aisyah, dia pasti mengkhawatirkan aku karena dia akan melahirkan putriku!" Rendra terlihat khawatir
"Mas, aku telepon Bu Inah agar mau mengabari Aisyah!" Melisa mengambil handphonenya.
Rendra akhirnya menyetujuinya, dan dia menghubungi Bu Inah.
Bu Inah : Halo Melisa, ada apa? bagaimana keadaan tuan Rendra?
Melisa : Ibu, Mas Rendra sudah melewati masa kritisnya. dan sekarang tinggal pemulihan saja.
Bu Inah : Melisa, tadi Nyonya Arini telepon dan aku kasih tahu kalau Tuan Rendra kecelakaan!
Melisa : Lalu ibu bilang apa?
Bu Inah : Aku bilang sekarang di Rumah Sakit ditemani Melisa. Beliau langsung tutuo teleponnya sepertinya agak marah.
Melisa merasa tidak enak, dia bingung mau meninggalkan Rendra tidak tega tapi jika nanti Nyonya Arini kesini bisa jadi sasaran kemarahannya.
"Melisa, bagaimana?"
"Mas, Nyonya Arini sudah telepon dan dia tahu aku ada disini menjagamu, perasaanku jadi tidak enak karena....!"
"Karena apa? karena mama akan tahu? tapi itu bagus dan aku akan jujur pada mama kalau aku masih mencintaimu!" Rendra tersenyum memandang Melisa.
"Mas, tapi aku tidak siap dicaci dan di benci mamamu!" ucap Melisa
"Aku takut!"
"Kesini kalau takut biar aku peluk!" Rendra merentangkan satu tangannya. Dia lalu memeluk Melisa kemudian mencium keningnya.
"Mas, andai waktu bisa diputar pasti kita sekarang sudah bahagia ya!" Arini menyandarkan kepalanya di dada Rendra.
"Semua sudah takdir dan sekarang kita bertemu juga bagian dari takdir!" jawab Rendra.
Melisa terlelap di pelukan Rendra, begitu juga sebaliknya Rendra merasa nyaman saat memeluk mantan istrinya.
Tak terasa pagi hari menyapa dan mereka dibangunkan dengan sebuah teriakan.
"Kalian!"
Aduh babang Rendra lagi seneng, kenapa ganggu sih! tapi kalau gak di ganggu bakalan nganu dan bikin Author berhalu-halu!
__ADS_1
HAPPY READING!!
MOHON DUKUNGANNYA DAN JANGAN LUPA GOYANG JEMPOLNYA LALU KASIH KOMENTAR YA....