Putra Konglomerat

Putra Konglomerat
Sandiwara 1


__ADS_3

Aku membeli buah-buahan di kios dekat dengan Rumah Sakit. Aku membeli Parsel buah seharga Rp. 200.000,00. Bagiku dengan harga segitu sudah mewah tapi mungkin bagi keluarga mertuaku itu bagian kecil dan tak berarti apa-apa.


Setelah itu aku melajukan motorku menuju Rumah Sakit tempat mertuaku di rawat. Seperti biasa aku parkir sepeda motorku di paling ujung agar Melisa kalau berkunjung tidak malu jika melihatku.


Aku berjalan masuk melewati lorong Rumah Sakit lalu naik ke lantai tiga. Mertuaku dirawat di ruang VIP Rumah Sakit itu. Aku langsung menuju kamar Papa mertuaku. Saat aku buka pintu kamar, ternyata sudah kosong dan kembali rapi.


Aku bertanya pada perawat yang sedang berjaga di bangsal itu.


"Maaf Sus, pasien di kamar itu dipindah kemana?" tanyaku sambil menunjuk ke arah kamar mertuaku.


"Pak Darmawan maksutnya mas,?"


"Iya sus." Jawabku sambil mengangguk.


"Beliau sudah diijinkan pulang sejak siang tadi." jawabnya.


"Baik terimakasih!" Aku langsung berbalik ingin segera kembali ke rumah.


Pikiranku sudah tidak tenang karena sampai rumah pasti dua wanita itu akan memarahiku. Aku mau cari seribu alasan takkan mempan untuk mereka yang terlanjur membenciku.


Aku mengambil motorku lalu melajukan dengan kecepatan lumayan tinggi agar aku segera sampai ke rumah.


Setelah sampai rumah, seperti biasa aku bunyikan klakson dan pintu dibukakan Pak Satpam yang bertugas di rumah itu. Aku parkir sepeda motorku di dekat pos satpam dan aku segera masuk ke rumah. Tak lupa aku bawa buah- buahan yang tadi aku beli untuk oleh- oleh.


Baru saja sampai depan pintu, aku sudah dihadang dua wanita yang membenciku. Siapa lagi kalau bukan nyonya rumah alias Mama mertuaku dan Melisa istriku.


"Bagus jam segini baru sampai rumah!" Mama mertuaku mendorongku hingga aku hampir jatuh.


"Heh babu, keluyuran dimana?" dengan angkuhnya istriku bertanya padaku.


"Maaf tadi aku sepulang kerja mampir ke Rumah Sakit dan ternyata Papa sudah pulang." jawabku sedikit gemetar.


Lalu aku berikan buah- buahan itu kepada istriku. Bukannya dia bilang terima kasih malah buah itu ia lempar kembali ke arahku.


"Buah pinggir jalan, gak salah kamu belikan ini untuk kami?" mama mertuaku meremehkanku.


"Maaf." jawabku.


"Kami bisa muntah makan buah pinggir jalan." dengan sombongnya Melisa mengatakan itu padaku.


Sakit hatiku tetapi aku mencoba menerima semua ini dengan ikhlas. Aku tidak menyangka sama sekali hidupku akan seperti ini. Dulu aku membayangkan akan menikah dengan wanita yang baik, sopan kepadaku dan menghargaiku. Aku berharap bisa menikah dengan gadis yang selama ini selalu memberiku semangat disaat aku sedang terpuruk. Namun takdir berkata lain aku harus menjalani pernikahan palsu dan menyakitkan dan harus melupakan gadis kecilku.


Setelah bosan menghinaku akhirnya mereka pergi dengan berbagai umpatan yang masih bisa aku dengar. Aku tak peduli aku menyusul mereka masuk menuju kamarku.


Aku berganti pakaian kemudian bersiap menjalankan sholat maghrib. Sebenarnya aku ingin melihat papa mertuaku namun aku tak punya keberanian yang ada nanti terjadi keributan.


Saat aku memdengar adzan berkumandang aku langsung menjalankan sholat Maghrib kemudian berdzikir sampai Isyak.

__ADS_1


Aku kepikiran Papa mertuaku, akhirnya aku putuskan menjenguknya sebelum aku tidur.


Kebetulan pelayan di rumah itu sudah kembali sehingga tugasku tidak seberat kemaren.


Aku langkahkan kaki perlahan menuju kamar Papaku dan ternyata tidak dikunci.


Beliau sedang duduk di ranjang sendiri.


"Assalamulaikum Pa!" aku mengucapkan salam lalu masuk.


"Waalikum salam Rendra, ayo masuk!" Beliau menyuruhku masuk.


Akupun berjalan mendekati beliau lalu mencium tangan beliau.


"Sendiri Pa, memang mama kemana? " tanyaku.


"Dari tadi sore papa sendiri Ren, mereka sedang cari makan keluar." jawabnya.


"Alhamdulillah Papa sudah sehat sekarang, maafkan Rendra tidak bisa menjenguk di Rumah Sakit."


"Tidak apa-apa, Papa mengerti kok!" Papa mertuaku mengelus pundakku.


Begitu nyaman hatiku saat aku bersama papa mertuaku. Beliau sangat menghargai aku dan menganggapku seorang menantu sesungguhnya.


(Andai mama dan Melisa bersikap seperti ini maka bahagia hatiku dan lengkap sudah hidupku namun semua iti hanya mimpi.) batinku


"Rendra..!" Papa membuyarkan lamunanku


"Iya Pa, aku tidak punya keahlian apapun dan aku juga cuma tamatan SMK." jawabku jujur.


"Bekerjalah di kantor Papa!" Beliau menawarkanku pekerjaan.


Sebelum aku menjawab tiba- tiba mama dan Melisa datang.


"Tidak...mama tidak setuju ! " Mama mertua teriak dari arah pintu.


"Maaf Pa, saya juga tidak bisa karena saya masih terikat kontrak dengan Toko Pakan itu." Aku berbohong agar Papa tidak memaksaku.


"Mas, kenapa tidak terima tawaran Papa!" Melisa mendekatiku dan memegang tanganku. Jlegg...hatiku terasa runtuh dengan sikap lembut istriku.


Namun itu hanya sandiwara agar Pak Darmawan tidak memberikan kepercayaan perusahaan kepadaku.


Mama yang melihat sikap Melisa melongo dan heran.


"Maaf Pa, meski papa dan Melisa memaksa aku akan tetap pada pendirianku menjadi kuli." Jawabku tegas.


Kulihat Melisa tersenyum puas dengan jawabanku.

__ADS_1


Melisa berpamitan pada papanya dan mengajakku keluar.


"Papa...! Melisa ajak Mas Rendra keluar dulu ya!" sambil menarik tanganku.


"Iya sayang...!" jawabnya dengan wajah penuh bahagia melihatku dan Melisa berjalan keluar.


Setelah aku dan Melisa turun dari tangga dia melemparku dan mendorong tubuhku.


"Heh babu..tanganku kotor karena sandiwara ini.!" sambil mendorongku .


"Maaf Nona, bukannya tadi Nona yang mulai." jawabku polos.


"Aku..!.hahhah... itu akting agar Papa tidak memberikan kepercayaan perusahaannya padamu!" Melisa kembali menghinaku.


"Aku mau istirahat." Aku membalikkan badanku menuju kamarku di samping dapur.


"Heh...heh...inget ya besok kalau Papa sudah sembuh total kamu tidur di kamarku" Sambil menarik tanganku.


Akhirnya Melisa melepaskanku dan aku kembali ke kamarku untuk istirahat.


Besok aku akan tetap membantu pelayan membersihkan rumah.


Aku merebahkan badan lalu memejamkan mataku.


Tak terasa saat tengah malam aku terbangun, tenggorokanku terasa sangat kering. Aku menuju dapur dan membuka kulkas lalu mengambil air mineral lalu aku duduk di kursi dan meminum air mineral itu sampai habis.


Setelah selasai aku ambil air wudlu dan menjalankan sholat malam seperti biasanya. Aku berdzikir berdoa padaNya sampai aku tertidur lalu tiba- tiba ada yang masuk ke kamarku dan menyiramku dengan air.


Byur....Byur...( suara air yang disiramkan ke tubuhku)


"Heh..babu bangun enak sekali jam segini masih tidur." Melisa menyiramku sengan air dingin.


"Melisa...kenapa menyiramku ini kan belum Subuh.!" aku mencoba membela diriku.


"Sekarang ganti bajumu lalu ke kamarku sebentar lagi Papa bangun!" perintahnya.


Akupun berganti dan mengikuti Melisa ke kamarnya.


Saat aku masuk kamarnya aku begitu takjub karena kamar itu sangat luas dan ranjang yang ditempati Melisa sangat besar.


"Heh..tidur di sofa aku mau kembali tidur." sambil melempar bantal ke mukaku.


"Baik." aku mengangguk.


"Jangan keluar kamar sebelum ada yang membangunkan!" perintahnya.


Akupun menurut dan akhirnya aku tertidur sampai ada suara yang membangunkanku.

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir dan jangan lupa like dan komentarnya agar kami semangat melanjutkan ceritanya.💖💖💖


Lop you semua readerku!!!


__ADS_2