
Renata dan Regita sangat bahagia karena kini kakeknya mau menerima keluarganya. Prayoga mau mengakui Renata dan Regita sebagai cucunya.
"Kek, terima kasih karena kakek kami bisa bebas." ucap Renata.
"Renata, kakek hanya ingin bahagia sampai kakek menutup mata." Prayoga menjawab sambil meneteskan air mata.
"Kakek akan menemui wanita itu dan membawa menantu kakek kembali bersama keluarganya." ucap Prayoga.
"Siapa yang Kakek maksud?" tanya Renata.
"Neneknya Alika." jawab Prayoga.
Prayoga berniat ingin mempersatukan keluarga kecil kedua anaknya. Dia hanya ingin melihag keturunannya bahagia.
Rendra mengajak Prayoga untuk berbicara empat mata. Diam-diam Romi memperhatikan gerak-gerik mereka berdua. Dia berusaha mencuri dengar untuk mencari tahu tapi ternyata Budi mengawasinya.
Rendra membawa Prayoga ke kedai kopi dekat dengan Rumah Sakit. Dia ingin membicarakan pengembalian klien yang pernah direbut paksa.
"Silahkan duduk tuan Prayoga!" Rendra mempersilahkan Prayoga untuk duduk.
"Ada apa Nak Rendra?" tanya Prayoga.
"Aku tahu semua tentang Romi yang telah memfitnah kakek Hadinata sehingga mereka bisa bekerja sama dengan perusahaanmu. Dan aku tahu sekarang Romi masih menyimpan dendam padaku. Untuk itu aku minta berhati-hatilah pada menantumu karena dia yang akan menghancurkan anda." ucap Rendra.
"Apa yang harus saya lakukan?" tanya Prayoga.
"Aku akan tetap mengambil seluruh klien itu tapi aku masih berbaik hati padamu kamu masih berhak mendapatkan 30% sahammu disana Tuan Prayoga!" ucap Rendra.
"Baiklah, aku setuju dan semoga kerja sama kita bisa berjalan dengan lancar." Prayoga menjabat tangan Rendra.
"Tuan Rendra, tapi aku minta satu hal." ucap Rendra.
"Apa yang harus saya lakukan agar Nak Rendra tidak mengambil semuanya?" tanya Prayoga.
"Jangan pernah katakan jika kamu masih memiliki saham di perusahaanmu pada Romi karena aku masih ingin mengetes kesungguhannya berubah." ucap Rendra.
Prayoga menyetujui persyaratan dari Rendra. Kemudian mereka kembali ke ruang rawat Regita.
Keadaan Regita sudah semakin membaik tapi dia masih butuh pengawasan dari Dokter. Jadi untuk sememtara waktu dia masih harus dirawat di Rumah Sakit.
Rendra yang masih banyak urusan harus kembali ke Mansion karena Melisa sudah menelponnya jika Lukman mencarinya.
Hari juga semakin malam jadi, Rendra harus segera pulang.
__ADS_1
"Bud, kita pulang sekarang!" ajak Rendra.
"Baik Tuan!" Budi mengikuti Rendra di belakangnya.
Di perjalanan Rendra mengingat masa lalunya saat mereka bersama mengantar pakan ternak di mansion Hadinata.
"Bud, kamu ingat dulu jam segini kita baru pulang mengantar barang?" Rendra tersenyum mengingat masa lalu mereka.
"Tuan, semua ada hikmahnya karena dengan cara itu Allah mempertemukan anda dengan keluarga Hadinata." jawab Budi.
"Benar sekali dan karena aku seperti sekarang, Melisa mau menerimaku padahal dulu dia sering menghinaku!" ucap Rendra.
"Lalu bagaimana dengan Nona Aisyah?" tanya Budi.
"Kita sudah bercerai karena Aisyah lebih memilih lelaki lain." jawab Rendra.
"Mungkin karena dia tidak mau di madu, Tuan!" ucap Budi
"Tapi aku sendiri tidak bisa memilih salah satunya, aku terlalu mencintai Melisa." jawab Rendra.
Mereka akhirnya tertawa saat Rendra mengingat mereka di marahi Pak Muctar.
"Gimana kabar Pak Muchtar sekarang ya?" tanya Rendra.
"Aku akan menyempatkan waktu menemuinya karena bagaimanapun juga ada andil Pak Muctar sehingga saya bisa seperti ini." ucap Rendra.
Adzan Isyak berkumandang tepat saat mereka melewati sebuah Masjid. Rendra mengajak Budi berhenti sebentar untuk sholat berjamaah di Masjid itu.
Masjid Baiturrohim, Rendra mengingat saat dulu dia masih susah selalu menjalankan sholat berjamaah. Kini setelah Allah menaikkan derajatnya, dia sering lupa menjalankan kewajibannya. Budi hanya menurut permintaan Tuannya, dia mengikuti di belakangnya.
"Rendra dan Budi menjalankan sholat Isyak berjamaah. Rendra menangis menyesali kelalaiannya selama ini. Seorang Ustadz mendatangi dan bertanya pada Rendra.
"Tuan, kenapa anda menangis?" tanya Ustadz Haqi.
"Ustadz, dosaku sungguh banyak, aku lalai menjalankan kewajibanku setelah Allah mengangkat derajatku!" Rendra mencurahkan kegelisahannya.
Budi yang melihat sahabatnya sekaligus Tuannya menyadari kesalahannya, ikut meneteskan air matanya.
"Tuan, jika boleh tahu siapa namamu?" tanya Ustadz Haqi.
"Rendra Ustadz." Rendra menjawab dengan suara yang semakin lemah.
"Bolehkah aku tahu, dimana tempat tinggalmu?"
__ADS_1
"Tuan Rendra ini cucu dari pemilik Hadinata Group." Budi memberi tahu.
"Maaf Tuan Rendra, saya benar-benar tidak tahu." Ustadz Haqi membungkukkan badannya.
"Ustadz, aku bukan siapa-siapa jadi tolong bersikap biasa pada saya." jawab Rendra.
"Tapi Tuan, saya_!" belum sempat melanjutkan kata-katanya Rendra langsung memotongnya.
"Ustadz, namaku Rendra jangan panggil Tuan." ucap Rendra.
Rendra menceritakan keluh kesahnya pada Ustadz Haqi. Dia memberi saran untuk kembali pada Sang Pencipta.
Setelah selesai, Rendra pamit pulang bersama Budi. Mereka kemudian pamit pulang menuju Mansion.
"Bud, kita langsung pulang karena Lukman masih menungguku!" pinta Rendra.
"Siap Bos!" Budi langsung mengemudi mobilnya menuju Mansion.
Setelah sampai di Mansion, Rendra langsung menemui Lukman yang sudah tertidur di sofa ruang tamu.
Budi membangunkan Lukman perlahan.
"Lukman, bangun! Tuan Rendra sudah kembali." Budi menggoyang tubuh Lukman.
Lukman mulai membuka matanya dan dia langsung bangun dan hormat pada Rendra.
"Tuan Rendra, maaf jika saya mengganggu malam-malam." ucap Lukman.
"Tidak apa, apakah ada hal yang mendesak sehingga kamu harus bertemu denganku!" tanya Rendra.
"Tuan, saya sudah membuat jadwal anda bertemu dengan para investor besok pagi sekitar jam 10.00." Lukman memberi tahu pada Rendra.
"Kenapa mendesak?" tanya Rendra.
"Mereka yang menginginkan bertemu dengan penerus Hadinata, mereka ingin meminta kejelasan tentang kerjasama kita. Untuk itu saya sengaja menemui Tuan Rendra kesini." Lukman menjelaskan pada Rendra.
Setelah selesai menyampaikan pada Rendra, Lukman pamit pulang. Dia akan segera menghubungi seluruh investor untuk bertemu dengan Rendra besok.
"Tuan, kiranya sudah cukup saya mohon pamit!" Lukman pamit pada Rendra.
Rendra juga langsung menuju ke ruang kerjanya. Dia akan memeriksanya email yang masuk di email mendiang Hadinata.
Rendra terperanjat dengan sebuah email yang masuk yang menjelek- jelekkan Hadinata. Rendra merasa tidak terima Rendra mengepalkan tangannya. Dia akan mencari tahu siapa pengirim email yang menghina mendiang Hadinata.
__ADS_1
"Rendra langsung menghubungi Budi dan menyuruh menyelidiki siapa pengirim email misterius.