
Rosa mengajak Revan ke sebuah supermarket di dekat rumahnya.
"Mama Rosa...!" seseorang memanggil Rosa saat di dalam supermarket.
"Roy...kamu...!" Rosa hendak cepat-cepat meninggalkan Roy.
"Ma, bagaimana keadaan Melisa dan ayasha?" Roy bertanya pada Rosa.
Setelah membayar semua belanjaan, Rosa pergi meninggalkan Roy. Dia pergi dengan sedikit berlari agar Roy tidak mau mengejarnya.
"Mama...tunggu!" Roy tetap mengejar Rosa.
Roy berhasil menarik baju Rosa. Dia menghampiri mantan mertuanya dan bertanya," Ma, siapa anak ini?"
"Bukan urusanmu," jawab Rosa.
"Sepertinya dia anakku, dilihat dari umurnya," ucap Roy.
"Roy, jangan ganggu hidup kami lagi!" Rosa memohon pada Roy.
"Ma, katakan dulu siapa anak ini!" Roy bertanya berteriak.
"Roy, sudah mama katakan jangan ganggu hidup kami!" Rosa meninggalkan Roy.
Rosa berlari meninggalkan super market. Dia langsung menuju mobilnya dan melajukannya sedikit kencang. Roy langsung mengikutinya dari belakang. Dia hanya ingin memastikan bahwa anak itu adalah anaknya.
( Aku yakin dia anak Ayasha, aku akan merebutnya kembali.)batin Roy.
Sesampai di rumah, Rosa langsung masuk dan mengunci pintu rumahnya. Dia tidak mau Roy mengambil Revan setelah tahu dia adalah anaknya.
"Bi, tolong bawa Revan ke kamar ya!" perintah Rosa.
Semetara itu dugaan Rosa benar jika Roy akan mengikuti sampai rumahnya.
Rosa membukakan pintu rumahnya. Dia bersikap tenang seolah tidak terjadi apa-apa, padahal dia sangat khawatir dengan Revan.
"Roy, ngapain kesini?" Rosa bertanya.
"Mama yang paling aku hormati, aku tanya sekali lagi. Siapa anak tadi?" tanya Roy dengan suara kerasnya.
Rosa gemetar ketakutan karena dia tahu Roy orang yang sangat berbahaya.
"Roy...!"
"Mama...!" Roy membentak Rosa.
"Iiiyaa Roy," jawab Rosa dengan gemetar
"Siapa anak tadi?" Roy semakin berteriak.
"Dia anaknya Ayasha," jawab Rosa.
"Berarti dia anakku, bukan?" Roy bertanya pada Rosa.
Rosa hanya mengangguk dan dia meneteskan air matanya.
"Lalu dimana wanita murahan itu, hah..." Roy berbicara kasar.
__ADS_1
"Ayasha sudah meninggal," jawab Rosa sambil menangis.
"Ha...ha...ha...!" Roy tertawa bahagia.
"Kenapa kamu tertawa?" Rosa bertanya.
"Mama, aku bahagia akhirnya wanita murahan itu mati," jawab Roy
"Roy, kamu bahagia setelah menghancurkan kebahagiaan putriku dan kamu yang menyebabkan kedua anakku tidak akur." Rosa terlihat sangat marah.
"Aku bahagia karena Ayasha mati tapi aku tidak bahagia karena Melisa kembali pada Rendra." Roy pura-pura sedih.
"Roy, sekarang apa maumu hah?" Rosa bertanya.
"Aku mau Melisa kembali padaku dan anak itu bersamaku," jawab Roy singkat.
"Tidak, Melisa sudah bahagia dengan suaminya dan Revan akan selalu bersamaku." Rosa dengan berani menjawab Roy.
Roy tidak tinggal diam, dia akan mencari cara untuk mendapatkan keduanya. Dia hanya tersenyum licik karena sudah merencanakan sesuatu.
Selama ini Roy menghilang kareba di penjara telah menghilangkan nyawa seseorang. Keluarganya tidak terima dan dia dituntut hukuman dua tahun penjara.
Roy berpura-pura baik, dia menurunkan nada suaranya agar diijinkan bertemu dengan Revan.
"Mama, maafkan Roy jika terlalu kasar tapi aku mohon ijinkan aku bertemu dengan putraku," pinta Roy.
"Tidak...aku tidak akan mengijinkan," cegah Rosa.
Namun Roy tetap merayu mantan mertuanya untuk menemui anaknya.
Dia sangat tampan sepertinya dan berkulit putih seperti mamanya.
"Baiklah tapi setelah ini jangan ganggu kami lagi," Rosa berjalan menuju lantai dua untuk mengembil Revan.
Sesampainya di kamarnya ternyata Revan sudah tidur dan dia akan menyuruh Roy datang lain waktu.
"Roy, Revan sedang tidur kamu boleh datang besok." Rosa berkata lembut.
"Kamu tidak bohong?" Roy tidak percaya.
"Aku tidak bohong dan jika aku bangunkan apakah kamu tidak kasihan padanya?" Rosa menekankan.
"Baiklah, aku akan kembali besok dan pastikan jaga dia baik-baik." Roy membalikkan badannya dan pergi meninggalkan Rosa.
Rosa merasa sedikit lega karena dia tadi begitu khawatir jika Roy akan membawa Revan pergi.
Di perjalanan Roy akan mencari cara menemui Melisa. Dia sangat kangen dengan wajah cantiknya yang selalu menjadi bayang-bayang di setiap tidurnya.
"Melisa...aku kangen sama kamu, aku ingin bertemu denganmu." Roy berbicara sendiri sambil mengendarai mobilnya.
Di perjalanan dia melihat seseorang sedang menyebrang jalan. Wanita itu seperti yang pernah aku lihat di Inggris menemui Rendra waktu itu.
(Aku harus mendekatinya dan mencari informasi tentang Rendra dan Melisa.) batin Roy.
Roy menghentikan mobilnya dan masuk ke dalam supermarket.
Kebetulan Aisyah kesulitan mengambil barang yang letaknya paling atas.
__ADS_1
"Mbak mau ambil ini!" Roy mendekati Aisyah dan mengambilkan barang yang dimaksud.
"Terima kasih," ucap Aisyah.
"Mbak maaf sepertinya aku pernah melihatmu," Roy pura-pura mengenal Aisyah.
"Dimana ya?" Aisyah bertanya.
"Emmm...Di Inggris mungkin!" Roy mencoba menebak.
"Benar saya memang pernah ke Inggris waktu itu menemui suami saya." Aisyah menjawab.
"Tuh kan bener soalnya kebetulan waktu itu saya bertemu dengan teman saya disana namanya Rendra." Roy mencoba mengarahkan pembicaraan.
"Suami saya namanya juga Rendra, kok kebetulan ya?" Aisyah bertanya.
"Mungkin orang yang sama, temen saya itu pemilik perusahaan besar Hadinata Group." Roy menjelaskan.
"Tuh kan benar, Rendra suami saya itu temen kamu," jawab Aisyah.
(Yes, aku dapat titik temu untuk menghancurkan Rendra.) batin Roy bahagia.
"Boleh ngobrol sebentar di kedai kopi depan?" Roy mengajak Aisyah.
"Tapi_!" belum sempat melanjutkan Roy sudah memotong pembicaraan.
"Tidak lama janji," bujuk Roy.
"Baiklah, aku selesaikan belanja dulu ya!"
"Oke aku temani."
Setelah selesai belanja, Roy membayar semua belanjaan Aisyah. Kemudian mereka berjalan ke kedai kopi yang ada di samping supermarket.
Mereka duduk di kursi paling ujung karena Aisyah takut jika pertemuannya dengan Roy dilihat orang dan menjadi fitnah.
"Perkenalkan namaku Roy!" Roy mengulurkan tangannya.
"Aisyah." Aisyah membalas uluran tangan Roy.
(Laki-laki ini sangat baik meskipun segi fisik lebih cakep Mas Rendra tapi kenapa aku kagum padanya.) batin Aisyah.
"Aisyah, bukannya istrinya Rendra itu Melisa?" Roy pura-pura bertanya.
"Benar dan aku hanya dijadikan istri kedua dan rasanya begitu menyakitkan," ucap Aisyah.
Aisyah menangis menceritakan kisah hidupnya oada lelaki di depannya yang mengaku temannya Rendra.
"Aku siap menjadi teman curhatmu!" Roy menawarkan diri.
"Aku senang bisa dipertemukan denganmu, kamu benar-benar beda dengan Mas Rendra." Aisyah memuji Roy.
Dalam hatinya Roy tertawa bahagia, rayuannya untuk menghancurkan Roy sudah terbuka jalannya. Roy akan mendekati Aisyah dan kemudian menghancurkannya. Setelah Rendra hancur aku akan merebut Melisa dan Albert kembali.
"Mas Roy...!" Aisyah membuyarkan lamunan Roy.
"Ah iya, kamu cantik." Roy pura-pura keceplosan padahal dia sengaja untuk memancing Aisyah.
__ADS_1
Aisyah senang mendapat pujian dari Roy, dia merasa sangat bahagia.
Mereka saling tukar nomor telepon agar lebih mudah berkomunikasi.