
Aisyah ketakutan namun Hadinata langsung menenangkannya. Budi yang mengejar orang itu kembali dalam keadaan tangan kosong.
"Kamu tahu orangnya?" tanya Hadinata.
"Maaf tuan, wanita itu larinya sangat cepat sehingga saya kehilangan jejak."jawab Budi.
"Sudahlah sekarang ayo kita kembali pulang sebelum wanita itu mengganggu Aisyah." perintah Hadinata.
"Tuan, tapi saya sepertinya mengenali wanita itu?" ucap Budi.
"Menurutmu, siapa yang benci dengan Aisyah dan keluarganya?" tanya Hadinata.
"Apa mungkin Melisa?" ucap Budi
"Apa? tapi, dia tidak mungkin karena dulu dia pergi tanpa pamit kenapa harus kembali dengan cara seperti ini!" Hadinata tak percaya.
Aisyah juga mengira itu adalah Melisa karena hanya Melisa yang menjadi saiangnnya untuk mendapatkan hati mas Rendra.
"Kek, tapi menurut Aisyah itu memang Mbak Melisa karena hanya dia yang menginginkan Mas Rendra." ungkap Aisyah.
"Tapi saya gak yakin." jawab Hadinata.
Hadinata mengajak asistennya untuk segera menjalankam mobilnya.
Sementara di Singapura, Rendra sedang menemani putrinya ketemu dengan Dokter Robert.
"What language should I use, Doctor?" tanya Rendra
"I can speak Indonesian too, but if you want English I'm happy." jawab Dokter Robert.
"Ok, I will use indonesian only." jawab Rendra
Dokter Robert dan Rendra akhirnya memilih menggunakan Bahasa Indonsia.
"Dokter, bagaimana keadaan cucu buyutku?" tanya Antonius.
"Sepertinya untuk penyembuhan membutuhkan waktu yang cukup lama karena syaraf yang harus saya sembuhkan sangat lembut." ungkap Dokter Robert.
"Berapa pun waktunya saya akan siap menunggu demi masa depan putriku."jawab Rendra.
"Tapi semoga saya bisa menyelesaikan lebih cepat dari perkiraan."
"Kira-kira butuh waktu berapa lama Dokter?" tanya Rico.
"Perkiraan saya bisa setahun sampai dua tahun. Tapi jika dia bisa berjalan atau merespon yang lain lebih cepat itu luar biasa." jawab Dokter Robert.
Pagi harinya, Dokter mulai melakukan observasi terhadap Mutia. Bayi berusia dua bulan itu harus tergeletak lemas karena syaraf banyak yang tidak berfungsi. Menangis pun juga jarang terjadi. Masalah yang sangat rumit dan membutuhkan ekstra kesabaran untuk menanganinya.
Rendra dan Kakek Anton sengaja menyewa rumah untuk tempat dia pulang yang dekat dengan Rumah Sakit. Perkembangan Mutia sudah sangat pesat. Kini dia sudah bisa menangis keras dan dia bisa merespon dengan senyum jika ada yang mengajak bicara. Usia Mutia tepat setahun dan Rendra sampai melupakan kehamilan Aisyah.
"Kek, hari ini usia Mutia sudah satu tahun dan Aisyah pasti sudah melahirkan. Kenapa aku melupakan Aisyah ya?" Rendra sedih
__ADS_1
"Rendra, jika kamu selalu mencari kabar Aisyah kamu tidak akan fokus dengan Mutia!"
"Benar juga dan ini hanya tinggal menunggu Aisyah bisa berjalan dan berbicara setelah itu kita akan segera kembali ke Indonesia."ucap Rendra.
Perawat yang dia sewa oleh Rendra dan Antonius akan segera datang. Dia yang akan membantu Rendra merawat Mutia.
"Rendra, tadi pagi perawat dari Agency sudah kesini."
"Alhamdulillah ada yang membantuku menjaga Mutia." ucap Rendra.
"Papa Rico kenapa gak pernah ke sini?" tanya Rendra.
"Dia harus menggantikanku memimpin perusahaan di sana. Dan tadi aku mendapat laporan jika Aisyah sudah melahirkan 3 bulan yang lalu."
"Alhamdulillah berarti sekarang dia sudah melahirkan?" Rendra begitu senang itu artinya Aisyah sudah bisa menyusul kesini menemaninya.
"Kakek, anak kami?"tanya Rendra.
"Anakmu laki-laki dan dia sangat tampan sepertimu." jawab Kakek Anton sambil menunjukkan bayi mungil di dalam layar Handphonenya.
Terlihat binar bahagia di wajah Rendra, terucap rasa syukur di hatinya. Semua tidak seperti yang dia bayangkan, pernikahan bahagia yang bisa bersanding dengan anak istri setiap saat namun nyatanya dia harus berpisah dengan istrinya demi kesembuhan anaknya.
Kesabaran yang besar untuk melewati situasi seperti ini namun Rendra begitu sabar menerimanya.
Tak terasa air mata Rendra membasahi kedua pipinya. Antonius ikut merasakan tangisan bahagia dan sedih Rendra yang bercampur menjadi satu.
Hari demi hari, Rendra melaluinya dengan penuh semangat. Hingga akhirnya Rico datang menjenguknya bersama calon istrinya.
"Tenang dulu, ini surprisa buat papa dan putraku." Rico mencium tangan Melisa.
Rico dan Melisa sampai di rumah yang ditempati Rendra dan Antonius. Saat sampai di depan rumah, Rico memencet bel dan mangetuk pintu. Seorang perempuan cantik yang menjadi perawat di rumah itu membukakan pintu.
"Sorry Sir and Madam who are you looking for?" tanya perawat itu.
"Tuan Antonius!" jawab Rico
Perawat itu langsung masuk dan mempersilahkan Rico dan Melisa duduk.
Antonius datang dan dia langsung memeluk putranya dengan senyum bahagia.
"Rico, apa kabar?" tanya Antonius
"Kabar baik Pa, gimana dengan keadaan Mutia?" tanya Rico
"Dia sudah menunjukkan perkembangan yang luar biasa. Mungkin dia hanya membutuhkan waktu setengah tahun untuk dinyatakan sembuh total." ungkap Antonius.
Merasa papanya melirik ke arah wanita yang ada di sampingnya, Rico langsung memperkenalkan Melisa pada Antonius.
"Oh iya pa, kenalkan ini Melisa calon istri Rico."
Melisa mengulurkam tangannya dan memperkenalkan diri pada Antonius.
__ADS_1
"Nah begitu dong, lah di luar ada yang lebih bening gitu." goda Antonius.
"Pa, Melisa ini seorang pengusaha muda di Yogyakarta." Rico menjelaskan pada papanya.
"Wow hebat sekali masih mudah sudah sukses." Antonius memuji Melisa.
"Apa Mutia sedang terapi di Rumah Sakit?" tanya Rico
"Iya paling sebentar lagi dia pulang."Jawab Antonius
Tiba-tiba dari arag luar tersengar suara tersenyum menggoda Mutia.
"Tuh Opa Rico sudah datang sama calon Oma!" Rendra memberi pengertian putrinya yang mulai bisa tersenyum dan berbicara sedikit.
"Opa...Opa...!" Suara menggemaskan itu kini sudah keluar dari bibir kecil Mutia.
Mereka menoleh ke arah Mutia dan betapa terkejutnya Rendra dan Melisa saat tatapan mata mereka bertemu.
"Mas Rendra!" Melisa bengong
"Melisa!" Rendra bengong
Rico yang melihat ekspresi keduanya begitu penasaran dengan.
"Kalian sudah saling kenal?" tanya Rico.
"Iya Mas!" Melisa mengangguk
Melisa langsung mendekati Mutia dan menggendongnya.
" Mutiara bukan? anak pinter dan cantik." Melisa mengajak bermain Mutia.
Mutia juga terlihat bahagia bermain dengan Melisa.
"Rendra, lihat itu anakmu bahagia banget sama Melisa!" Rico menunjuk ke arah Melisa dan Mutia.
"Mungkin Mutia kangen sama mamanya." jawab Rendra tanpa semangat.
"Kok kelihatannya aku capek banget ya, nitip Mutia boleh?" tanya Rendra.
"Biar Mutia sama calon Omanya dulu, kamu istirahatlah!" perintah Rico.
Rendra akhirnya mengistirahatkan tubuhnya di kamarnya. Dia sedikit frustasi dengan kenyataan yang harus dia hadapi bahwa mantan istrinya akan menjadi ibu tirinya.
"Melisa...kenapa harus kamu!" Rendra membanting sesuatu yang ada di depannya.
Yeay ....semakin menarik!
Yuk dukung terus dengan like dan komentarnya agar author bisa semangat up nya!
HAPPY READING KAKAK...
__ADS_1