Putra Konglomerat

Putra Konglomerat
Baju Pengantin


__ADS_3

Mendengar pengakuan Mama Arini aku kaget dan tidak percaya bahwa aku dan Ayasha satu bapak.


Ternyata masih banyak rahasia yang tidak aku ketahui.


"Mas!" Aisyah membuyarkan lamunanku dan dia tersenyum menenangkan hatiku.


"Iya sayang." Aku menoleh dan menggenggam tangannya.


Melisa memang tak tahu diri karena dia tetap mengaku bahwa Albert adalah darah dagingku Tapi kenapa aku tidak yakin kalau Albert anakku. Aku mencoba menenangkan diri dan aku mencoba berpikir positif.


"Rendra, Apakah kamu tidak merasa pernah menyentuhku sehingga kamu menolak Albert."


"Tapi jika memang dia anakku, kenapa baru sekarang kamu memberitahuku hah? " Aku begitu marah dengan kata-kata Melisa.


Plak...plak...Sebuah tamparan keras dari Mama Arini melayang di pipi kanan Melisa.


"Melisa, ingat jangan pernah ganggu putraku karena dia sudah memiliki pendamping yang jauh lebih baik darimu!" Mama marah dan menampar Melisa kembali.


"Maaf Nyonya Arini, saya berbicara kebenaran bahwa Albert adalah anak Tuan Rendra."


Melisa dan Pak Darmawan kemudian pergi meninggalkan kami. Seperti yang kami lihat Melisa pergi dengan wajah yang penuh kebencian.


"Rendra, kamu percaya Mama kan?"


"Rendra bingung Ma, Apakah Rendra harus mengakui Albert karena Rendra takut Aisyah akan kecewa dan meninggalkanku."


"Mas, sekarang aku tidak akan mengungkit masa lalumu dan aku akan menerima Mas Rendra apa adanya dengan kelebihan dan kekuranganmu." Aisyah tersenyum kemudian dia memelukku.


"Terimakasih sayang!" Aku mengecup keningnya.


Mama Arini yang melihat kami tersenyum ikut bahagia.


Akhirnya kami masuk ke ruangan Kakek Hadinata.


Aku akan mengajak Aisyah ke butik langganan Mama Arini untuk mencari baju pengantin yang akan diadakan besok di Taman Mansion Hadinata.


###


Di kediamanan Darmawan


Sampai di rumah Melisa marah-marah tidak jelas. Sampai Darmawan yang melihat tingkah putrinya hanya bisa mengelus dada.


"Melisa, tidak perlu kamu sesali karena ini sudah takdir." Darmawan menasehati putrinya


"Pa, tapi aku gak mau nantinya mereka akan menghancurkan perusahaan kita!"


"Melisa, semua ini karma buat kita yang telah menyia-nyiakan Rendra karena dulu dia miskin."


"Sudahlah Pa, tapi sekarang aku bisa memanfaatkan Albert ."


"Melisa kamu lupa siapa Albert?"


"Aku akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan Mas Rendra kembali."


Rosa yang mengetahui putri kesayangannya marah-marah menghampirinya.


"Ini ada apa kok ribut-ribut! bukannya tadi baru bertemu dengan putra pewaris Hadinata Group.?"


"Kita baru saja bertemu dengan putra konglomerat itu Ma."


"Lalu kenapa marah-marah?"

__ADS_1


"Dia adalah Rendra."


Mendengar nama Rendra, Rosa begitu kaget dan syok.


"Maksud kamu Babu itu?"


"Ma, jangan sebut Babu lagi, Rendra orang kaya bahkan kekayaannya berkali lipat dari kita."


Rosa terlihat tidak percaya seolah-olah Melisa berbohong.


Darmawan meyakinkan istrinya bahwa putra konglomerat itu mantan suami Melisa.


"Ma, dia memang Rendra mantan menantu kita yang pernah Papa usir karena kesalahpahaman."


"Apa?" Rosa membelalakkan matanya dan akhirnya dia pingsan.


###


Di Butik langganan Arini


Aku menyuruh Aisyah memilih pakaian yang paling baru dan paling mahal. Namun Aisyah justru memilih baju pengantin sederhana yang akan di pakai besok.


"Mas, aku pilih ini saja!" Aisyah menunjukkan kebaya putih yang menjuntai panjang dengan hiasan sederhana.


Menurutku itu bagus tapi karena harganya paling murah aku tidak menyetujuinya.


"Kenapa milih itu sayang?"


"Aku suka modelnya yang tidak terlalu berlebihan." Aisyah menjawab singkat.


Akhirnya aku menyetujuinya kemudia Aisyah juga memilihkanku jas pengantin dengan warna senada.


Saat Aisyah mencoba baju pengantin aku sempat terpana ternyata Aisyah wanita yang sangat cantik dan sempurna.


"Sayang, kamu mau makan apa?"


" Apa ajalah mas yang penting sama."


Aku memanggil pelayan dan memesan makanan.


Saat kami menunggu pesanan mataku tak sengaja menangkap dua orang yang kukenal sedang bermesraan.


B**ukannya itu Ayasha dan Roy.(Batinku.)


"Mas, kamu lihatin apa?"


"Bukannya itu Ayasha sama Roy!" Aku menunjuk ke arah mereka.


"Benar mas, aku kemaren sudah bilang kalau mereka ada main di belakang Mbak Melisa."


"Roy...ternyata itu maksud kamu dan aku tidak akan tinggal diam setelah studyku selesai aku akan menghancurkanmu." Aku mengepalkan tangan dan menatap Roy marah.


"Mas, kamu yang sabar ya!" Aisyah menenangkanku dengan senyumnya.


Aku menatap Aisyah dan tersenyum lalu aku mencium tangan Aisyah.


"Terimakasih sayang kamu selalu menguatkanku."


"Iya Mas, aku mencintaimu karena Allah."


"Sayang aku hanya ingin bertanya padamu sekali lagi tentang Albert."

__ADS_1


Seketika aku melihat wajah Aisyah berubah namun dia langsung menatapku dengan senyum manisnya.


"Tanyakan saja dan aku akan menjawab jujur."


"Jika memang Albert terbukti anakku apakah kamu masih mau menerimaku menjadi suamimu?"


"Mas, aku sudah pernah katakan apapun masalalumu aku tidak akan membencinya dan aku akan menerimamu apa adanya termasuk menerima Albert dalam hidupmu."


aku kemudian memeluk Aisyah dengan cinta.


Saat kami sedang makan tiba-tiba Ayasha menghampiri kami dan dia tetap meminta pertanggungjawaban kepadaku atas kehamilannya.


"Mas Rendra, akhirnya kita ketemu disini." dengan sok manis Ayasha mendekatiku.


"Lepas!" Aku mengibaskan tangannya sehingga dia memasang muka melasnya.


"Mas, kamu tega memperlakukan aku seperti ini? Hiks...hiks..." Ayasha pura-pura menangis.


"Ayasha, aku tahu siapa dirimu dan jangan coba-coba mengganggu keluargaku!" ancamku


"Maksud kamu apa?"


"Anak itu anak Roy kan? anak kakak iparmu sendiri." Ayasha terlihat kaget karena aku mengetahui kebohongannya.


"Bukan tapi anak ini anakmu."


"Ayasha...Ayasha...itu tidak mungkin karena aku sama sekali aku belum pernah menyentuhmu bahkan kakakmu Melisa yang pernah aku sentuh hamil bukan karena aku apalagi kamu." Aku tersenyum merendahkan.


Aku akhirnya mengajak Aisyah pulang meninggalkan restoran. Dan aku juga mengancam Ayasha untuk menjebloskan ke penjara atas kasus penculikan Aisyah.


"Ingat Ayasha, kamu dan Roy harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu di penjara." Aku menoleh dan mengancam Ayasha.


Aku melihat raut wajah ketakutan pada Ayasha sehingga dia langsung pergi meninggalkan kami. Kami juga akan pergi dari restoran karena selera makan yang sudah hilang.


Aku mengemudikan mobil menuju kediamanku. Saat aku memasuki gerbang mansion, ada mobil yang sepertinya aku kenal.


Aku menoleh ke arah Aisyah yang sedari tadi hanya diam.


"Sayang, sepertinya aku kenal mobil itu?"


"Mobil siap Mas?"


"Mobil Melisa."


"Mungkin dia masih ingin menekanmu lewat Albert putranya." Aisyah tersenyum padaku.


"Tapi kamu siap menghadapi segala kemungkinan yang terjadi? karena jujur aku sendiri tidak tahu Albert anakku atau bukan."


"Mas, jika benar Albert anak kamu aku siap mengasuhnya." Aisyah menggenggam tanganku sambil tersenyum.


Aku sangat bahagia mendengar Aisyah dengan ketulusannya mau menerimaku dan masalaluku.


Saat memasuki ruang tamu Aku dan Aisyah menuju ruang tamu. Di sana sudah ada Melisa dan Mama Arini serta Albert.


Melihat kedatangan kami mereka berdiri. Mama Arini menghampiriku dan beliau terlihat sangat khawatir.


"Rendra, Aisyah kamu yang sabar ya!"


"Memangnya kenapa Ma?" Aku bertanya dan memandang Mama Arini penuh selidik


Namun Mama Arini tidak menjawab beliau hanya memberikan sebuah amplop coklat padaku.

__ADS_1


HAPPY READING


Jangan lupa terus dukung karyaku dengan like dan komentarnya ya....


__ADS_2