
Arini menyandarkan kepalanya di dada bidang Rico. Dia seperti terhipnotis dengan rayuan maut Rico sehingga dia benar-benar lupa dengan suaminya.
"Arini, aku masih sama seperti dulu!" ucap Riko sambil memeluk Arini.
Rico merasa mendapatkan lampu hijau dia langsung menggiring Arini masuk ke dalam kamarnya.
"Mas, aku juga kangen banget saat bersamamu!" ucap Arini.
Rico hanya tersenyum memandang wajah Arini yang meskipun sudah mulai menua tapi masih terlihat sangat cantik dan menarik.
Antonius melihat ulah anaknya hanya tersenyum bahagia. Dia sangat mendukung Rico dengan Arini. Selain cantik, Arini juga kaya raya.
"Aku sangat menyetujui rencanamu Rico!" gumam Antonius.
Di dalam kamar itu Rico mulai melancarkan aksinya, dia memaksa Arini untuk melayaninya seperti dulu.
Hingga pagi harinya, Arini tersadar bahwa dia telah melakukan kesalahan besar bersama mantan kekasihnya.
"Rico, kamu jahat!" Arini memukul dada Rico
Arini menyesali karena telah mengkhinati suaminya yang sangat baik.
"Arini kamu masih sangat luar biasa dalam bermain!" terlihat senyum penuh kepuasan dari Rico.
"Rico, aku sudah mengkhianati suamiku! hiks...hiks....!" Arini menangis
Rico mendekati Arini dan mencoba menenangkannya. Dia memeluk Arini yang masih tetap menangis.
"Rico, aku mohon rahasiakan ini semua dari Mas Romi!" perintah Arini.
"Pasti sayang, aku akan merahasiakannya tapi ada syaratnya!" Ucap Rico.
"Syarat?" tanya Arini
"Benar, aku ingin selama disini kamu mau menemaniku kapanpun aku mau!"
"Tidak, itu tidak mungkin!" Arini menolak dengan menggelengkan kepalanya.
Arini kemudian memakai kembali semua pakaiannya yang berserakan di lantai. Kemudian dia keluar dari kamar Rico dan kembali ke kamarnya.
Rendra yang melihat mamanya keluar dari kamar papanya tampak heran dan bertanya dalam hatinya.
(Kenapa mama keluar dari kamar papa?)batin Rendra
Sesampai di kamarnya, Arini langsung menuju kamar mandi dan mengguyur tubuhnya di bawah shower.
"Mas Romi, maafkan aku! aku telah mengkhianati cinta kita! hiks...hiks..." Arini menangis.
Arini keluar kamar mandi karena ada yang mengetuk kamarnya. Dia langsung bergegas memakai pakaiannya dan membuka pintu kamar.
"Rendra!"
"Boleh Rendra masuk, Ma!" tanya Rendra
Arini hanya mengangguk dan dia kemudian memeluk putranya sambil menangis.
__ADS_1
"Mama kenapa?" tanya Rendra
"Mama tidak apa-apa sayang! Mama hanya kangen sama Papa Romi." ucap Arini.
"Mama gak bohong kan?"tanya Rendra.
"Sayang, Mama gak bohong kan?" Rendra masih penasaran.
"Mama baik-baik saja sayang!" ucap Arini
Namun Rendra tetap merasa ada yang disembunyikan oleh Mamanya. Dia akan bertanya kembali jika keadaan mamanya sudah tenang.
"Ma, Rendra siap mendengarkan keluah kesah Mama! ceritakan apapun yang Mama alami sehingga bisa mengurangi beban pikiran Mama!" Ucap Rendra sambil memeluk mamanya.
"Iya sayang, nanti mama bakal cerita tapi tidak sekarang! Oh iya sayang, semoga pernikahan kalian lancar!" Arini mendoakan Rendra.
Rendra kemudian pamit keluar dari kamar Arini.
"Rendra, kamu dari mana?" tanya Rico
"Dari kamar Mama, Pa!" jawab Rendra.
"Mama baik-baik saja kan." tanya Rico.
"Iya Pa, mama baik-baik saja tapi_?" Belum sempat melanjutkan Rico sudah memotong pembicaraan Rendra.
"Tapi kenapa sayang?"tanya Rico
"Mama sepertinya sedang ada masalah tapi dia tidak mau mengaku pada Rendra." jawab Rendra.
"Mungkin Mama sedang capek sayang, hanya saja dia belum mau cerita masalahnya." ucap Rico
Rendra masuk ke kamar Mutia dan disana sudah ada Melisa yang menjaganya menggantikan Rendra.
"Melisa!" panggil Rendra.
Melisa langsung berdiri dan menghampiri Rendra.
"Mas, Mutia sedang tidur!"
" Sayang, saat ini jadwal Mutia terapi. Apa kamu mau ikut?" tanya Rendra.
"Boleh, sekarang aku bersiap dulu ya!" pamit Melisa.
Belum sempat pergi namun Rendra sudah menarik tangan Melisa. Mereka saling pandang kemudian mereka saling memadu kasih. Meskipun tidak sampai melakukam hubungan badan tapi mereka terbawa suasana.
"Mas, tunggi kita halal ya!" pinta Melisa.
Rendra terlihat sedikit kecewa namun dia menghargai keputusan Melisa.
"Ya sudah, sekarang kamu ganti baju dan bersiap!" perintah Rendra.
Melisa keluar dari kamar Mutia menuju kamarnya untuk membersihkan diri dan bersiap karena akan ikut mengantar Mutia terapi.
Rendra mempersiapkan keperluan Mutia karena mereka akan seharian di Rumah Sakit.
__ADS_1
"Mas, ayo!" ajak Melisa sambil menggendong Mutia.
Mutia tersenyum bahagia melihat Melisa. Dia sangat nyaman karena mungkin dia merindukan mamanya.
"Sayang, Mutia anteng kalau sama kamu!" ucap Rendra
"Mungkin dia kangen mamanya, Mas!" jawab Melisa.
"Ups jangan bahas Aisyah kalau kita sedang berdua." Rendra meletakkan jari telunjuknya di bibir Melisa.
"Mas, apa kamu yakin akan menikahku padahal kamu tahu kalau aku dulu jahat dan sering menyakitimu!" ucap Melisa.
"Sayang, sebenarnya sejak kita dijodohkan aku sudah menaruh hati padamu meski waktu itu aku mencintai Aisyah."jawab Rendra.
"Berarti Aisyah cinta pertamamu ya?"
"Iya hanya saja dulu dia memang wanita yang mau menerimaku apa adanya!" jawab Rendra.
"Sudah sayang, gak perlu kita bahas dan aku akan berlaku adil pada kalian berdua!" jawab Rendra.
Melisa langsung menggenggam tangan Rendra dan menciumnya.
"Aku hanya berharap bisa mengabdikan diriku padamu sampai tua, Mas!"
Mereka sampai di Rumah Sakit dan bertemu dengan Dokter Robert untuk melakukan terapi. Terapi berjalan dengan lancar dan perkembangan Mutia sangat cepat. Dokter mengatakan bahwa semua ada pengaruh dari mamanya.
"Sayang, terima kasih karena kamu perkembangan Mutia sangat baik dan semoga dengan hadirnya kamu disini bisa mempercepat pemulihan perkembangan Mutia." Rendra mengucapkan terima kasih pada Melisa.
Sebelum pulang ke rumah, mereka akan mampir ke taman bermain yang ada di tengah kota.
Kini Mutia sudah bisa berjalan meski masih sering terjatuh namun untuk bicara masih sedikit kesusahan.
"Mas, alhamdulillah Mutia sudah bisa berjalan ya!" ucap Melisa.
"Aku juga seneng di usianya yang masih setahun dia sudah bisa berjalan tapi aku sedikit takut karena bicaranya masih sulit!" jawab Rendra.
Saat Rendra dan Melisa asyik ngobrol, Mutia berjalan ke arah jalan raya dan dia tertabrak sepeda motor. Darah berceceran dan Mutia tergelatak di pinggir jalan.
Rendra langsung berlari bersama Melisa dan membawanya ke Rumah Sakit.
Sesampai di Rumah Sakit ternyata Mutia tidak dapat tertolong.
"Mutiaaaaaaa......! jangan tinggalkan Papa sayangggg! hiks...hiks..." Rendra menangis memeluk Jenazah Mutia.
"Mas, maafin aku!" Melisa mendekati Rendra.
"Melisa, Mutia pergi dan dia gak akan kembali padaku." Rendra menangis memeluk Melisa.
Melisa langsung menghubungi Rico dan keluarga Rendra.
Setelah keluarga mereka berkumpul, mereka memutuskan akan membawa Jenazah Mutia kembali ke Indonesia.
Aisyah pasti sangat mengizinkann Mutia kembali ke Indonesia. Aisyah yang mendapat kabar jika Mutia sudah berpulang hanya menangis histeris. Dia seperti orang gila yang berantakan dalam penampilannya dan dia menyesali semuanya karena awal mula Mutia seperti itu karena kesalahannya.
Kini Mutia sudah berpulang kembali padaNya dan itu membuat Rendra semakin menyalahkan Aisyah padahal itu murni kesalahannnya yang juga lalai menjaganya.
__ADS_1
AUTHOR : Bagaimana Kisah selanjutnya yuk ikuti terus ya kakak.
Jangan lupa like dan komentarnya untuk mendukung karyaku.