Putra Konglomerat

Putra Konglomerat
Aku Bisa Tanpamu


__ADS_3

Melisa memandang suaminya penuh tanda tanya.


"Melisa, aku tahu dimana Aisyah tapi aku tidak punya niat untuk kembali padanya tapi untuk Billy aku masih punya kewajiban menafkahinya." Rendra menjelaskan pada Melisa.


Rendra jujur pada Melisa karena dia tidak mau ada masalah baru jika dia tidak jujur pada Melisa.


"Mas, kenapa gak ajak Billy kembali kesini?"


"Aku kasihan sama Aisyah, dia sudah memutuskan untuk tidak jadi menikah dengan Roy karena dia jahat.


Melisa hanya diam mendengarkan penjelasan suaminya. Dia juga tidak akan protes karena semua sudah menjadi keputusan Rendra.


Rendra merebahkan badannya didekat Melisa. Entah mengapa Rendra menjadi sangat kasihan pada Aisyah. Hanya karena obsesinya untuk kembali pada Melisa tapi dia tega mengabaikan Aisyah yang kala itu sedang merawat Billy.


Mungkin semua orang akan memandang Rendra itu jahat tapi semua itu sudah takdirnya. Dia harus mempunyai dua wanita dalam hidupnya. Melisa yang dulu jahat bisa berubah menjadi sangat baik dan bahkan bisa membuat Rendra tak mau berpisah dengannya. Arini yang dulu menghina Melisa dan ingin menjauhkan Rendra dari Melisa. Arini berubah menjadi sangat menyayangi Melisa dan bahkan berbalik menjadi membenci Aisyah.


(Aku harus bisa membuat Melisa dan Aisyah kembali akur seperti dulu! Aku bisa menerima Melisa yang dulu mengkhianatiku secara terang-terangan kenapa aku tidak bisa memaafkan Aisyah yang hanya melakukan kesalahan kecil.) batin Rendra.


Rendra merasa berlaku tidak adil dengan Melisa dan Aisyah. Namun satu kenyataan bahwa dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa masih ada secuil hati untuk Aisyah.


Rendra mencoba memejamkan matanya namun sangat sulit karena dia memikirkan Aisyah yang sendirian di villa puncak milik keluarga Hadinata.


(Aisyah sedang apa ya?) batin Rendra. Dia benar-benar sangat gelisah memikirkan Aisyah.


Rendra hendak beranjak dari tidurnya. Dia mengambil ponsel di nakas kamarnya lalu menuju balkon. Rendra menghubungi Aisyah karena dia tidak bisa memejamkan matanya karena pikirannya hanya untuk Billy dan Aisyah.


Dia pencet aplikasi warna hijau di layar ponselnya dan dia tekan nama Billy.


[Hallo!] Aisyah mengangkat telepon dari Rendra.


[Ais, Billy sudah tidur?] tanya Rendra yang menggunakan Billy sebagai alasan untuk mengetahui kabar Aisyah.


[Billy baru saja tidur dari tadi rewel terus.] jawab Aisyah dari seberang telepon.


[Kamu baik-baik saja kan?] tanya Rendra.


[Aku baik-baik saja memangnya kenapa?] tanya Aisyah sangat kaget karena tiba-tiba Rendra menanyakan kabarnya.


[Ya sudah kalau begitu, kamu lanjut istirahat.] ucap Rendra sambil menutup teleponnya.


Rendra tersenyum senang karena akhirnya dia bisa mendengar suara Aisyah meskipun hanya lewat telepon.

__ADS_1


Sementara Aisyah justru semakin bingung karena Rendra menelponnya tengah malam dan menanyakan kabar Billy adalah alasannya.


(Kenapa mas Rendra menelponku dan menanyakan kabarku? Apakah dia akan memintaku kembali padanya?) batin Aisyah.


Aisyah mencoba membuang pikiran buruknya dan dia mencoba memejamkan matanya di samping Billy.


Hingga pagi menyapa tiba-tiba pintu kamarnya diketuk oleh seseorang. Aisyah kaget karena dia tidak ada yang mengetahui keberadaannya kecuali Rendra.


"Siapa pagi-pagi sudah mengetuk pintu?" Aisyah berbicara sendiri.


Sebelum membuka pintu kamar, dia mencuci muka di kamar mandi terlebih dahulu kemudian merapikan baju dan rambutnya.


Tok...tok...! pintu kamar terus di ketuk oleh seseorang.


Aisyah berjalan ke arah pintu, dadanya bergetar karena dia takut jika keberadaannya diketahui oleh orang lain. Dia langkahkan kaki perlahan seolah dia ragu dan takut untuk membuka pintu.


Dengan penuh keberanian, akhirnya dia membuka pintu kamar itu dan betapa terkejutnya ketika Arini dan suaminya menemuinya.


"Mama...!" Aisyah nampak kaget dengan kehadiran mantan mertuanya.


"Oh jadi Rendra sudah berani berbohong padaku!" ucap Arini sedih.


"Ma, maafkan aku!" Aisyah memundurkan langkahnya dan mempersilahkan Arini dan Rico masuk.


Rico hanya diam karena dia tidak mau ikut campur terlalu dalam dengan rumah tangga Rendra yang terlihat ruwet. Beristri dua memang tidak semudah yang dibayangkan tetapi harus pandai mengatur segalanya dengan adil.


"Sayang, sabar ya!" ucap Rico.


"Mas, aku sebenarnya kasihan dengan dia hanya saja aku tidak suka karena dia masih berlindung dibawah naungan Rendra. Dulu Melisa juga pernah berada di posisi dia tapi dia tidak pernah meminta bantuan pada keluargaku!" Arini dengan jelas membandingkan kedua menantunya.


"Ma, maafkan aku! Aku memang tidak seperti mbak Melisa yang punya segalanya tapi aku juga punya harga diri!" jawab Aisyah.


"Ha...ha...ha...Kamu membahas tentang harga diri? Gak salah dengar aku?" ucap Arini ketus.


Bulir bening jatuh dari netra Aisyah membasahi kedua pipinya. Dia benar-benar tidak menyangka akan mendapatkan hinaan dari mantan mertuanya. Padahal dia sudah tidak berharap akan kembali pada Rendra dan dia juga sudah berniat pergi jauh dari kehidupan Rendra.


"Kenapa menangis? Aku bukan Rendra yang bisa kamu tipu dengan air mata buayamu!"


"Ma, sekarang apa mau mama?" tanya Aisyah.


"Aku ingin kamu pergi jauh dari kehidupan Rendra dan jangan pernah menampakan batang hidungmu dihadapannya lagi karena aku ingin Rendra bahagia dengan keluarga kecilnya." ucap Arini.

__ADS_1


"Baik kalau itu yang Mama mau, aku akan pergi jauh dari kehidupan mas Rendra dan aku akan bawa Billy pergi!" Aisyah menatap ke arah Arini.


Dia mulai memberanikan diri melawan mantan mertuanya karena dia tidak mau direndahkan dan dihina.


"Berapa yang kamu minta?" tanya Arini.


"Aku masih bisa berdiri dengan kedua kakiku tanpa harus menerima belas kasihan dari kalian semua!" ucap Aisyah.


"Billy masih keturunan Hadinata jadi aku tidak mau menjadi manusia serakah dan akhirnya berdosa."


"Maksud Mama?"tanya Aisyah.


"Billy akan tetap bersama kami dan pergilah sesukamu dan cari lelaki yang bisa membahagiakanmu!" ucap Arini.


Namun Aisyah tidak setuju jika harus menyerahkan Billy karena bagaimanapun keadaannya, Billy harus ikut dengannya. Aisyah berjanji pada dirinya sendiri jika dia akan berjuang untuk membesarkan Billy dengan tangannya dan tanpa campur tangan keluarga Hadinata.


"Aku tidak setuju jika Billy ikut dengan kalian!"


"Apa kamu sanggup membiayai hidupnya? Apa kamu sanggup membiayai pendidikannya?" tanya Arini dengan nada meremehkan.


Hati Aisyah benar-benar sakit ternyata selama ini dia cuma di peralat oleh keluarga Hadinata. Dia tidak pernah dianggap menantu oleh mereka. Mungkin karena perbedaan kasta yang sangat jauh berbeda sehingga dia memang harus mengalah dan pergi.


"Aku pasti sanggup dan pasti bisa." jawab Aisyah.


"Baiklah, silahkan kamu kemasi barang-barangmu dan pergi dari sini!"


Aisyah membalikkan badannya dan dia mengambil tas besar miliknya dan memasukkan semua barang-barang kedalamnya.


Aisyah menggendong Billy yang masih tidur dan menenteng tas besar itu. Dia kesusahan tapi Arini dan Rico hanya diam memandang Aisyah. Dia biarkan mantan menantu dan cucunya itu pergi dari Villa milik keluarganya.


"Ma, Aisyah pergi!" Aisyah berpamitan pada kedua mertuanya dan dia hendak menyalami keduanya namun mereka tolak.


"Aku tidak sudi tanganku kotor dengan tanganmu." ucap Aisyah.


Aisyah melangkahkan kakinya dengan langkah gontai. Dengan isakan tangis dan air mata yang tak bisa dibendung lagi. Dia kembali menolah ke arah mertuanya dengan tatapan sayu.


(Kenapa Mama sangat membenci kami? Padahal Billy adalah cucu kandungnya dan dia tidak melakukan kesalahan apapun.) batin Aisyah.


Dia mencoba ikhlas menerima takdirnya karena memang dia tidak pantas menjadi keluarga Hadinata. Statusnya hanya mantan istri kedua dan Aisyah juga sadar jika dia masih banyak kekurangannya.


Namun saat tiba di halaman Villa tiba-tiba dia dikejutkan dengan seseorang yang sudah menunggunya di luar.

__ADS_1


Aisyah benar-benar kaget dengan kehadirannya.


__ADS_2