Putra Konglomerat

Putra Konglomerat
Tragedi Pagi Hari


__ADS_3

Budi mulai melacak pengirim email misterius di email mendiang Hadinata.


Budi bisa menemukan dengan cepat dengan bantuan detektif dan seorang hecker terkenal.


Penyelidikan itu langsung ia laporkan pada Rendra. Dugaan awal prlakunya adalah Roy Aldi Pujangga.


"Oh jadi biang keladinya Roy!" Rendra mengepalkan tangannya.


Namun Surya Pranaja, seorang hecker yang diundang untuk menyelidiki menyimpulkan jika pelakunya orang yang pernah dekat dengan almarhum.


Surya memberikan alasan kuat jika pelakunya memang bukan Roy tapi orang lain yang mengambinghitamkannya.


"Maaf saya belum bisa memutuskan karena kasus ini terlalu rumit tapi saya berjanji dalam waktu kurang dari 24 jam akan saya ketahui." ucap Surya Pranaja.


"Saya percayakan semuanya padamu, Tuan Surya." ucap Rendra.


Namun Rendra tidak tinggal diam, dia juga mengeluarkan segala kemampuan mata batinnya yang baru saja dia pelajari. Dia lalu berinisiatif untuk membalas email itu dan mengatakan jika dia bukan Roy.


Rendra memperingati pengirim misterius agar tidak bermain-main dengannya.


"Budi, tunggu!" Rendra menghentikan langkah Budi yang hendak keluar bersama anak buahnya.


"Iya Tuan!" dengan sopan Budi menghampiri tuannya.


"Kenapa menurut pengamatan dalam diri saya pelakunya adalah Romi." ucap Rendra.


"Romi?" Budi sangat kaget.


"Tuan, tapi kita harus tetap menyelidiki dan mengawasi Romi!"


"Maksud kamu?" tanya Rendra


"Aku yakin jika pelakunya adalah Romi." Budi menjelaskan.


"Kenapa kamu seyakin itu?" tanya Rendra.


Kemudian Rendra membuka laptop milik kakeknya dan memindahkan file itu ke email pribadinya.


"Bud, Apa tujuan Romi melakukan semua itu padahal Kakek sudah tiada." Rendra bertanya pada asistennya.


"Tuan, tapi saya yakin dia punya dendam khusus pada keluarga ini." Budi mencoba meyakinkan Rendra.


"Aku hanya ingin kita main halus untuk membuat Romi jera dan takut padaku." Rendra mengepalkan tangnnya.


"Apa yang harus kami lakukan untuk membantu Tuanku?"


Rendra hanya menggeleng kemudian dia akan membuat Romi jatuh miskin. Dia akan mengusut kasus korupsi dan penyelewengan di perusahaan Prayoga.

__ADS_1


Budi diperintahkan untuk menemui Prayoga di kediamannya. Mereka lalu mengambil peralatan untuk melindungi diri mereka. Sedangkan Rendra tetap fokus pada layar laptopnya. Dia sibuk memindahkan file penting milik mendiang kakek ke akun pribadinya.


Setelah selesai, Rendra kembali ke dalam kamarnya menemui istrinya. Rendra mencium kening istrinya lalu merebahkan tubuhnya di samping Melisa.


"Mas, baru masuk?" Melisa tee


Hanya anggukan dan senyuman yang dikeluarkan oleh Rendra. Dia kemudian memejamkan matanya dan mengistirahatkan pikirannya.


Pagi hari suasana Mansion kembali sedikit normal. Semoga menjadi lebih baik dari sebelumnya seperti yang Rendra harapkan.


"Mas, ada masalah?" tanya Melisa


Rendra hanya menggeleng menutupi semuanya. Dia tidak tega melibatkan istrinya dalam kasus besarnya. Dia tidak ingin Melisa banyak pikiran yang akan berpengaruh pada kehamilannya.


Pagi harinya, Rendra memerintakan Budi untuk bertemu dengan Romi. Setelah dia menyelesaikan masalah dengan para investor, dia akan menemui Prayoga.


Para investor merasa bahagia bertemu dengan Rendra karena mereka yakin jika Rendra akan lebih hebat dari Hadinata.


Setelah kesepakatan terjadi, seluruh investor tidak menarik semua saham mereka justru menambah investasi mereka.


Perusahaan Hadinata Corp. kini menjadi perusahaan yang berkembang lebih pesat. Dan semua investor sangat puas dan mereka mendapatkan untung yang luar biasa.


***


Kehamilan Melisa sudah menginjak sembilan bulan. Hanya tinggal menghitung hari anak kedua dari Rendra dan Melisa akan segera lahir.


"Mas, perutku rasanya sudah gak enak!" ucap Melisa.


Rendra mengajak Melisa jalan-jalan di taman belakang rumah. Dia sudah kepayahan jika harus berjalan terlalu jauh.


"Mas, kok aku pingin ngajak Albert sama Billy jalan-jalan ke mall ya!" ucap Melisa.


"Sayang, kehamilanmu sudah besar jadi aku takut kalau harus membawamu ke mall." Rendra menolak keinginan istrinya.


Melisa kecewa dan dia marah sama Rendra. Dia berdiri dan hendak meninggalkan Rendra.


"Sayang, kamu mau kemana?" tany Rendra.


Melisa tidak menjawab dan dia langsung berlalu pergi meninggalkan Rendra.


Rendra masih duduk di gazebo taman dan membiarkan Melisa masuk sendiri. Namun dari dalam suara teriakan terdengar.


"Tolooong!...tolong!" suara Bi Narti dari dalam.


Rendra langsung berlari ke dalam dan betapa terkejutnya dia ketika melihat Melisa terkapar dibawah tangga dengan darah mengalir dari kepala belakangnya.


"Melisa...! Rendra langsung menyuruh Pak Yanto menyiapkan mobil dan dia meminta Budi membantu membawa Melisa ke dalam mobil.

__ADS_1


"Rico dan Arini sangat panik, mereka langsung menyusul Rendra dan Melisa ke Rumah Sakit.


Di Perjalanan, Rendra terus menangis dan memohon pada Allah agar mereka selamat.


(Ya Allah selamatkan istri dan anakku!) batin Rendra sambil meneteskan air mata.


Setelah sampai di Rumah Sakit, Dokter dan perawat sudah menunggu kedatangan Rendra dan Melisa. Ketika mobil Rendra sudah sampai di depan lobby, perawat langsung membawa Melisa ke ruang periksa khusus. Melisa sudah banyak kehilangan darah.


Rendra menemui Dokter Rangga sahabatnya, dia memohon untuk menyelamatkan istri dan anaknya.


"Rangga, aku mohon selamatkan istri dan anakku!" Rendra memohon pada Rangga.


"Ren, aku memang seorang Dokter tapi kemampuanki juga terbatas dan aku mohon doanya semoga aku bisa menyelamatkan istri dan anakmu!" Dokter Rangga memberi pengertian pada Rendra.


Rendra hanya diam tak mampu bersuara. Dia menyesal telah membiarkan istrinya berjalan sendiri masuk ke dalam rumah dalam keadaan marah.


( Ya Allah, selamatkan istri dan anakku! aku mohon!) doa Rendra dalam hatinya.


Rendra keluar dari ruangan Rangga menuju ke ruang tunggu bergabung dengan papa dan mamanya.


"Rendra...!" Arini memeluk putranya yang berjalan lesu dan tak bertenaga.


Budi langsung berjalan memapah Rendra untuk duduk. Arini memberikan sebotol air mineral pada Rendra.


"Mama...!" Rendra terlihat sangat lemah.


Dia tidak tahu lagi harus berbuat apa, andai uang bisa membeli semuanya dia akan beli tapi ini takdir yang harus dia terima.


Dokter Rangga keluar dari ruang periksa dan menggelengkan kepalanya.


Dokter Rangga berkata pada Rico tentang keadaan Melisa dan kandungannya.


"Om, maaf dengan berat hati saya akan memberi tahu jika_!"


"Rangga, jangan bilang istriku_!" Rendra menarik krah Dokter Rangga. Dia sangat marah tapi Rangga hanya diam tak membalas perlakuan Rendra.


"Sabar dulu...!" Rico menghentikan Rendra yang mengamuk pada Dokter Rangga.


"Rendra, Om, Tante, dengan berat hati kita harus menyelamatkan bayinya terlebih dahulu karena_!"


"Karena apa lagi, Ngga?" tanya Rendra marah.


"Rendra, aku mohon dengarkan aku dulu!" Rangga membentak Rendra.


Rico memegang Rendra dan mencoba menenangkannya. Rangga menjelaskan jika operasi pengangkatan Babynya harus segera dilakukan meskipun ibunya belum sadarkan diri. Karena menurut pemeriksaan kemungkinan pasien akan mengalami koma sementara waktu.


"Lakukan yang terbaik untuk menantuku!" Arini langsung mengambil keputusan.

__ADS_1


"Silahkan, salah satu keluarga ikut ke ruangan saya untuk menandangani surat pernyataan." Dokter Rangga mengajak Rico masuk keruangannya.


Rendra pingsan saat mengetahui istrinya akan mengalamj koma.


__ADS_2