
Aisyah melayangkan tamparan ke pipi Rendra.
"Mas, aku bukan wanita murahan seperti yang kamu kira! Aku selalu menjaga kehormatanku sewaktu menjadi istrimu." Aisyah menatap tajam ke arah Rendra.
Roy maju dan melayangkan pukulan di wajah Rendra.
"Rendra, jangan berbuat kasar pada istriku!" Roy mengancam Rendra.
"Istri? bukankah kalian belum menikah? surat dari pengadilan belum turun tuan Roy!" Rendra tertawa mengejek.
"Asal kamu tahu, kami juga sudah mengurus surat di pengadilan dan hasilnya antara kamu dan Aisyah sudah tidak punya hubungan apapun." Roy menegaskan.
"Aisyah, aku tidak akan pernah mengijinkanmu bertemu dengan Billy karena kamu lebih mementingkan lelaki brengsek itu!" Rendra menuding ke arah Aisyah.
Aisyah hanya menangis, dia mencoba melupakan anaknya karena dia tidak mau ada bayang-bayang masa lalunya. Tapi sekuat apapun Aisyah dia tetap rapuh dan mempunyai hati yang sangat lemah.
"Sayang, sabar ya suatu saat aku akan mengambil Billy untukmu!" ucap Roy.
Melinda yang melihat pertengkaran antara Melisa dan Rendra, hanya bisa menangis. Dia mengetahui bagaimana perasaan Aisyah saat harus melupakan anak kandungnya sendiri.
"Aku rindu anakku!" Aisyah menangis.
"Aisyah, kamu tidak ingin menderita?" tanya Roy.
Aisyah hanya mengangguk, kemudian memeluk Roy.
Aisyah tidak mengetahui jika Roy bukan lelaki yang tulus. Meskipun dia menerima Aisyah namun hatinya masih mengingjnkan Melisa.
"Aisyah, sini sayang!" Melinda memanggil Aisyah untuk mendekat.
"Nyonya, Aisyah rindu Billy!" ucap Aisyah.
"Aisyah, kamu tidak usah mengkhawatirkannya karena mantan suamimu pasti akan merawatnya dengan baik karena Billy anaknya. Besok jika Billy besar dia akan mencarimu!" Melinda menasehati Aisyah.
Rendra kembali ke ruangan Melisa dengan amarah yang masih menempel ditubuhnya. Dia luapkan segala kesalnya dengan menendang sesuatu yang ada di depannya.
"Ah sial, dasar wanita murahan dan lelaki brengsek!" Rendra menendang tiang di lorong Rumah Sakit.
Saat sampai di depan ruang rawat Melisa, Rendra masuk dengan wajah yang semrawut. Arini yang melihat putranya begitu berantakan mendekatinya.
"Rendra, kamu kenapa?" tanya Arini.
"Ma, aku ketemu Aisyah dan Roy!"
"Aisyah?" Arini memastikan dia tidak salah mendengar.
"Iya Aisyah ternyata dia benar-benar pengkhianat!" Rendra mengepalkan tangannya.
__ADS_1
"Rendra, bukankah kamu yang memulai jadi wajar jika Aisyah mencari kebahagiaannya." Arini menjawab dengan santainya.
"Benar kata mama kamu jika mantan istrimu berhak bahagia dan kamu jangan mengganggunya lagi!" Rico menasehati.
Rendra terdiam dan dia merenungi kesalahannya. Dia mencoba mencerna nasehat dari kedua orang tuanya.
Pandangan Rendra tertuju pada wanita di depannya dan dia meneteskan air mata ketika dia mencoba memikirkan wanita lain. Tapi pikirannya harus segera bisa bangkit dari keterpurukan karena perusahaan sangat membutuhkannya. Rendra berdiri dan memutuskan untuk menitipkan anak dan istrinya pada mamanya.
"Ma, aku titip Melisa dan Baby A karena besok jadwalku meeting dengan para investor!" ucap Rendra.
"Mama akan menyewa perawat khusus untuk mereka dan kamu fokuslah pada pekerjaanmu karena Hadinata Group sekarang ada dibawah tanganmu!" Arini menasehati putranya.
"Aku tidak mau perusahaan hancur karena masalah cinta. Biarkan semua berjalan sesuai alurnya." Rendra tiba-tiba berkata pada mamanya.
"Sayang, sekarang pulanglah biar papamu yang mengantar karena kamu sangat capek sekali!" pinta Arini.
Rico berpamitan pada Arini. Tak lupa peluk dan cium seperti pasangan muda yang sedang dirundung asmara.
Rendra yang memperhatikan kedua orang tuanya sebahagia itu hanya bisa tersenyum.
Rendra dan Rico pergi meninggalkan Arini di Rumah Sakit. Mereka akan langsung ke mansion utama karena hari sudah lewat tengah malam.
"Ren, kita langsung pulang?" tanya Rico.
Rendra hanya mengangguk dan berkata, "Kita mampir ke rumah mama Rosa!" ajak Rendra.
"Rendra, rumah mamamu itu jauh dan kamu bisa kecapaian di jalan!" Rico melarang.
"Tapi Melisa tidak mengingat kami!" Rendra memandang papanya dengan tatapan sendu.
"Papa tahu yang kamu rasakan tapi kamu harus sabar dan itu hanya sementara nanti mamamu yang akan membantu pemulihan Melisa." Rico menasehati.
Rendra menurut dan akhirnya mereka langsung pulang ke mansion utama.
Setelah memarkir mobilnya, mereka berdua masuk ke dalam mansion. Rendra merebahkan tububnya di sofa ruang keluarga. Dia sangat capek dan badannya pegal semua.
Pagi harinya, Rendra dibangunkan oleh Albert yang sudah siap masuk sekolah.
"Papa...papa sudah pulang? mana mama dan adik bayi?" tanya Albert dengan suara polosnya.
Rendra mengucek matanya kemudian dia tersenyum pada anak kecil di depannya. Rendra langsung meraih tubuh mungil itu, menariknya untuk duduk dipangkuannya. Rendra menciumi pipi gembul Albert yang semakin menggemaskan.
(Sayang, kamu teristimewa buat papa meski dulu sempat meragukanmu.) batin Rendra.
Albert melayangkan ciuman kecil di pipi papanya kemudian tersenyum.
"Pa, kapan dedek bayi pulang?" tanya Albert.
__ADS_1
"Mama masih sakit sayang dan dedek bayi harus temenin mama!" Rendra menjawab dengan perasaan sakit.
(Ya Allah bagaimana jika Albert tahu kalau mamanya tidak mengingatnya.)batin Rendra.
"Papa, Albert berangkat dulu ya!" Albert pamit pada papanya kemudian mencium pipi dan tangannya.
"Sayang, hati-hati ya!" Rendra melambaikan tangannya.
Rendra berdiri lalu menuju ke kamarnya di lantai dua. Dia akan membersihkan badannya yang masih lengket karena sehari semalam tidak mandi.
Rendra masuk ke kamar mandi, dia mulai membuka pakaiannya satu persatu. Dia mengingat biasanya saat mandi istrinya yang menyiapkan segala keperluannya. Pakaian ganti, air hangat dan semua keperluan mandi lainnya.
"Melisa, aku sudah mulai merindukanmu! Apakah setelah pulang dari Rumah Sakit kamu akan mengingaku sebagai suamimu?" Rendra menatap dirinya dari pantulan kaca sambil tersenyum.
Rendra mulai mengguyurkan air ke tubuhnya. Setelah selesai dia berendam di bathup untuk menyegarkan tubuhnya yang terasa pegal.
Setengah jam Rendra berendam, hingga tubuhnya merasa segar dia keluar dari kamar mandi. Dia mencari sendiri pakaian kerjanya.
Betapa kagetnya Rendra ketika membuka almari pakaiannya, setelan kemeja kerja sudah tertata rapi lengkap dengan dasinya.
"Melisa kamu sudah menyiapkan semuanya untukku, terima kasih sayang!" Rendra tersenyum melihat deretan pakaiannya yang sudah rapi dan tinggal pakai.
Rendra menghadap ke arah cermin, biasanya Melisa selalu memeluknya sebelum berangkat ke kantor tapi kini terasa hampa. Kamar besar itu terasa sangat sepi tidak ada suara yang selalu menegurnya.
"Melisa, aku kangen sama kamu!" ucapn Rendra sedih.
Rendra turun ke lantai bawah untuk sarapan bersama papanya.
"Nah gitu dong, anak papa kelihatan gantengnya!" puji Rico.
"Papa mau ke kantor?" tanya Rendra.
"Iya kasihan kakekmu harus mengurus bisnisnya sendiri."
"Iya sih, tapi kenapa papa gak gabung aja sama perusahaanku!" Rendra mengajak Rico bekerja di kantornya.
"Rendra, papa masih ingin melanjutkan bisnis papa sama kakekmu!" ucap Rico.
Mereka berdua makan namun tidak selahap biasanya.
Rendra kembali termenung ketika mengingat Melisa yang selalu mengambilkan makanan untuknya.
Saat Rendra menyendokkan makanannya, tiba-tiba Bi Narti datang dan memberi tahu ada tamu.
"Tuan, maaf ada yang ingin bertemu dengan anda!"
"Siapa Bi?" tanya Rendra penasaran.
__ADS_1