
Aisyah melihat Roy keluar dari sebuah pintu di pojok kamarnya.
"Mas, kamu darimana?" tanya Aisyah.
"Aku...aku habis jenguk adikku!" jawab Roy ragu.
"Adik?" Aisyah terlihat sangat kaget karena Roy menyebut Adik.
Roy menceritakan kisah Melani dan keluarganya. Tak terasa air mata Aisyah menetes membanjiri kedua pipinya.
" Mas, kenapa bisa seperti itu?" tanya Aisyah penasaran.
"Suami adikku adalah keturunan Prayoga dan mama membenci keluarga itu karena dulu pernah dihina dan dicampakkan!" Roy bercerita pada Aisyah.
"Prayoga?" tanya Aisyah.
"Benar anak sulung Prayoga adalah suami adekku dan dia mempunyai seorang anak perempuan yang sangat cantik!" Roy mengingat wajah keponakannya saat masih bayi.
(Apakah benar Komar dan Alika adalah suami dan anak Adiknya Mas Roy? aku harus menyelidikinya.) batin Aisyah.
"Semoga mereka segera ketemu ya Mas!" Aisyah menenangkan Roy.
"Terima kasih!" Roy memeluk Aisyah dan mencium keningnya.
"Mas, boleh aku bertemu dengan adikmu?" tanya Aisyah.
"Belum saatnya jika nanti sudah tiba waktunya aku akan bawa kamu menemuinya." Roy membelai rambut Aisyah.
"Mas, kok kamu gak keluar dari kamar ini?" tanya Aisyah.
"Loh, inikan kamar aku!" Roy tersenyum pada Aisyah.
"Ih curang katanya gak mau sekamar tahunya sudah diajak ke kamar!" Aisyah cemberut.
"Mau gak? atau kamu aku suruh tinggal di kamar sebelah?" goda Roy.
"Gak aku pilih tidur sini sama kamu, tapi kamu gak boleh macam-macam!" Aisyah melotot ke arah Roy.
"Macam-macam juga gak papa sama calon istri!" Roy terus menggoda Aisyah.
Kedua mata mereka bertemu, Roy langsung mencium bibir Aisyah yang begitu menggoda. Meski Roy akui, Melisa lebih menggoda tapi bagaimanapun ambisinya untuk memiliki Melisa tidak akan mudah karena dia sudah bernaung pada keluarga Hadinata.
"Eh Mas, kamu melamun?" tanya Aisyah mengagetkan Roy hingga dia keceplosan memanggil Melisa.
"Melisa...! ups maaf!" Roy merasa bersalah pada Aisyah.
"Sebel, semua orang selalu Melisa yang diingat!" Aisyah membuang mukanya. Dia malas menatap Roy karena hatinya sudah kecewa dengan Roy.
" Sayang, maaf aku tidak sengaja!" Roy meminta maaf.
"Melisa yanga ada di pikiranmu!" Aisyah marah.
"Sayang, bantu aku dong lupain wanita itu!" pinta Roy.
Aisyah tersenyum lalu memandang Roy. Mereka terbawa suasana hingga mereka melakukan hal yang seharusnya tidak mereka lakukan. Tapi mereka melakukan atas dasar suka sama suka.
__ADS_1
Sementara di kediaman Hadinata, Rendra masih marah dengan pengkhianatan Aisyah dengan Roy.
"Kenapa harus Roy lagi?" Rendra berteriak di hadapan Melisa.
"Mas, kamu yang sabar ya mungkin sudah takdir kita seperti ini!" Melisa menenangkan suaminya.
"Melisa, aku hanya heran kenapa takdirku harus berurusan dengan Roy?" Rendra terlihat sangat frustasi.
Tiba-tiba Arini datang menggendong Billy. Rendra memandang Billy iba, dia merasa kasihan bayi yang belum genap berusia satu tahun itu harus kehilangan ibunya.
Rendra mendekati Billy kemudian mencium keningnya.
"Sayang, papa janji kamu akan bahagia disini tanpa mamamu karena masih banyak orang yang sayang padamu." Rendra mencium anak lelakinya.
"Rendra lupakan Aisyah dan fokuslah pada kehamilan Melisa yang kini mulai membesar!" pinta Arini.
"Rendra akan berusaha melupakan Aisyah dan membuka lembaran bari hanya dengan Melisa dan anak-anak!" Rendra tersenyum pada Melisa.
Rendra kemudian memeluk Aisyah dan mencium keningnya.
Suasana di ruangan itu tambah bahagia ketika Albert datang dengan segala candaannya.
"Papa, mama, kapan Oma punya dedek?" tanya Alebert menggoda Arini.
"Nantk kalau Oma punya dedek siapa yang sayang sama dedek Billy dan Albert? belul lagi nanto adik yang masih diperut mama!" Arini tersenyum pada Albert.
"Arini, tuh kode dari cucumu!" goda Hadinata.
"Ayah, Arini pingin sendiri saja! Arini sudah trauma menikah!" jawab Arini.
"Tapi Arini ragu, ayah!" ucap Arini.
"Mama, papa Rico itu orangnya baik!" bujuk Rendra.
"Terserahlah, mama nurut aja yang penting jika dia gak bisa bikin mama bahagia kalian semua kena imbasnya!" ancam Arini.
"Siap bos!" mereka menjawab serentak.
Mereka tertawa bahagia karena Arini menyetujui perjodohan Rico dengannya. Mereka akan segera memberi tahu Rico secepatnya.
"Biar Rendra yang menghubungi papa Rico kalau mama sudah bertekuk lutut padanya!" goda Rendra.
Namun tiba-tiba suara Rico sudah datang ke ruangan itu.
"Tidak perlu menelponku, aku sudah disini!" Rico keluar dari tempat persembunyiannya.
"Mas Rico!" Arini merasa sangat malu.
Rico datang kemudian menggendong Alebert dan mereka saling senyum.
"Terima kasih cucu opa!" ucap Rico.
"Siap opa sayang, jangan lupa cepetan bikin dedek bayi!" Albert menggoda Rico.
Seluruh orang dalam ruangan itu hanya tertawa lepas. Hadinata hanya menahan sesak didadanya . Dia sangat bahagia meski dia merasakan sakit hebat didadanya.
__ADS_1
"Kakek...!" Rendra terlihat sangat panik.
"Arini, Rico cepatlah menikah sebelum kakek pergi!" ucap Hadianata.
"Ayah, jika ayah pergi aku tidak akan menikah! buat apa aku bahagia jika ayah tidak melihatnya." Arini menangis.
"Arini, ayah bahagia jika melihatmu bersama orang yang tepat. Ayah hanya mohon selalu berdamailah kalian agar ayah bisa tersenyum bahagia nantinya!" Hadinata tubuhnya semakin dingin.
Rendra kemudian menyuruh Budi untuk membawakan penghulu ke rumah untuk menikahkan Arini dan Rico.
Namun sebelum Budi pergi, Antonius sudah membawa penghulu untuk segera menikahkan Arini dan Rico.
Setelah Rico mengucap ijab kabul, Hadinata menghembuskan nafas terakhirnya. Dia menutup matanya untuk selamanya. Hadinata pergi dengan wajah tersenyum bahagia.
"Arini menangis di pelukan Rico, karena ayahnya pergi begitu cepat.
Tidak ada lagi orang berwibawa di keluarga Hadinata. Rendra belum mampu memimpin perusahaan seperti Hadinata meskipun dia sudah banyak belajar dari Hadinata.
Keluarga Hadianta berselimut duka. Berita kematian Hadinata terdengar hingga ke penjuru dunia. Semua turut berduka cita atas meninggalnya pengusaha sukses dan kaya raya. Namun keluarga Prayoga tersenyum bahagia ketika mendengar berita kematian Hadinata.
"Hadinata, akhirnya orang yang merasa sok kuat itu mati juga!" terlihat senyum bahagia di wajah Prayoga.
"Ayah, siapa yang meninggal?" tanya Romi.
"Mantan mertuamu telah meninggal dunia!" Prayoga tertawa bahagia.
"Akhirnya tua bangka itu meninggal dunia dan kita bisa dengan mudah menghancurkan perusahaannya!" ucap Romi dengan tatapan penuh dendam.
"Mas, tapi kita masih harus membebaskan kedua putri kita!" Karina mendatangi suaminya
Romi bisa lari membawa Alika keluar dari ruangan bawah tanah kelaurga Hadinata dengan kecerdikan Alika. Dia meminta pengawal yang membawa kunci untuk menolongnya saat dia pura-pura sakit.
"Ayah, bantu Karina membebaskan Renata dan Regita!" pinta Karina.
"Ayah akan mencoba mengirim mata-mata di keluarga Hadinata." Prayoga tersenyum sengit.
"Tapi ayah, kita tidak perlu gegabah karena Renata dan Regita masih di tawan dalam mansion itu!" ucap Romi sedikit khawatir.
Keluarga Prayoga menyiapkan siasat untuk menghancurkan kelaurga Hadinata. Lain halnya dengan keluarga Hadinata yang masih berduka kehilangan sesepuh di keluarga itu. Arini yang belum bisa berhenti menangis meratapi kepergian ayah tercintanya.
"Arini, masih ada aku yang akan melindungi kalian semua!" ucap Antonius.
"Ayah, Arini sudah kehilangan semangat hidup!" tangis Arini semakin menjadi.
Rico mencoba menenangkan Arini dan membawanya ke dalam kamarnya.
"Sayang, jika kamu terus bersedih musuh bisnis kamu akan bahagia dan mereka akan dengan mudah menghancurkanmu!" nasehat Rico.
Arini mempertimbangkan perkataan Rico. Dia akan mencoba mengikhlaskan kepergian Hadinata.
"Baik Mas, aku menangis untuk terakhir kalinya. Dan aku akan semakin kuat untuk menghadapi semua orang yang akan menghancurkan keluargaku" ucap Arini.
Rico tersenyum bahagia ketika menyemangatinya.
"Aku Arini Hadinata akan meneruskan perjuangan ayahku, siapapun yang akan menghancurkan keluargaku akan kubalas tanpa ampun!" tekad Arini.
__ADS_1