Putra Konglomerat

Putra Konglomerat
Aku Ingin Pergi


__ADS_3

Rendra memeluk istrinya yang tak sadarkan diri. Dia menyuruh Bi Narti untuk mengambilkan air hangat untuk Melisa.


"Bi, tolong ambilkan air hangat!" Pinta Rendra.


"Siap Den...!" Bi Narti berlari ke dapur untuk mengambil air hangat.


Rendra sangat panik karena Melisa belum sadarkan diri. Kepalanya membentur tembok yang lumayan keras sehingga dia pingsan.


"Ma, apa sebaiknya kita bawa ke rumah sakit?" tanya Rendra yang panik.


"Sebaiknya iya Ren, takut terjadi apa-apa sama Melisa." ucap Arini.


Rico menelpon Pak Yanto untuk menyiapkan mobil. Namun tiba-tiba suara rintihan Melisa terdengar.


"Aww...sakit!" Melisa mulai membuka matanya.


Melisa memandang ke arah Rendra dan Arini. Lalu dia tersenyum dan dia memeluk suaminya.


"Mas, aku kangen sama kamu!" Melisa memeluk Rendra.


Rendra hanya melongo karena dia kaget saat Melisa tiba-tiba memeluknya.


"Melisa, kamu...!"


"Mas ini aku Melisa, kenapa kamu malah bingung seperti itu?" tanya Melisa heran pada suaminya.


"Ya Allah sayang, alhamdulillah kamu sudah mengingat semuanya!" Rendra langsung memeluk istrinya erat seperti enggan melepaskan.


Seluruh yang ada di ruangan itu mengucap syukur karena Melisa sudah kembali mengingat semuanya.


"Melisa, mama seneng banget akhirnya kamu kembali mengingat semuanya." Arini tersenyum pada menantunya.


Arini langsung naik ke lantai dua mengambil Albert dan Baby A. Arini membawa Albert dan Baby A ke hadapam Melisa.


"Sayang, ini anak-anak kamu yang sudah kangen sama kamu!" Arini memberikan bayi mungil itu pada Melisa.


Albert langsung memeluk mamanya dan dia juga sayang banget sama baby A.


"Albert, maafkan mama ya sayang!" Melisa mencium Albert.


"Ma, Albert sayang sama dedek bayi." Albert menciumi pipi gembul Baby A.


"Dedek bayi juga sayang sama Kak Albert yang ganteng!" Melisa menirukan suara anak kecil yang gemas.


Rendra tersenyum bahagia melihat Melisa telah kembali ingatannya dan dia berencana akan mengadakan aqiqohan dan syukuran ketiga anaknya.


"Mas, aku tidak mau buat acara besar-besaran." ucap Melisa.

__ADS_1


"Sayang, aku hanya ingin berbagi kebahagiaan tapi jika kamu tidak setuju kita bisa dengan cara lain." jawab Rendra.


"Aku setuju aja." Melisa tersenyum bahagia.


Arini dan Rico memandang anak dan menantunya merasa bahagia.


"Mas, akhirnya mereka bisa bersatu lagi!" ucap Arini pada suaminya.


Mereka berdua naik ke kamarnya dan membiarkan Rendra dan Melisa berdua melepas kangen bersama kedua anaknya.


"Mas, kita ajak anak-anak ke kamar yuk!" Melisa mengajak suaminya.


Setelah sampai di kamar mereka berdua bermain dengan kedua anaknya. Terlihat bahagia dan menjadi keluarga yang sempurna.


(Andai hidup berjalan dengan mulus dan tak ada rintangan apapun mungkin rasanya akan semakim bahagia. Dan jika kakek juga masih ada dia pasti sangat bahagia.) batin Rendra.


Rendra lalu mendekati anak dan istrinya. Mereka bersendau gurau penuh kebahagiaan.


***


Sementara di rumah Melinda, Roy dan Aisyah bertengkar hebat karena Aisyah mengetahui Roy masih mencintai Melisa. Mereka berdua akan melangsungkan pernikahannya seminggu.


"Mas, aku tidak mau kita menikah dengan bayang-bayang Melisa." Aisyah terlihat sangat marah dengan Roy.


"Roy, ngapain kamu masih memikirkan wanita itu bahkan dia sudah tidak peduli denganmu!" ucap Melinda dari atas kursi rodanya.


"Kamu dan Melisa itu beda! pantas saja Rendra lebih memilih Melisa." ucap Roy.


"Sekarang kamu pikir mana ada lelaki yang mau mencintai wanita yang sudah beranak dua, hah...?" ucapan Roy yang menyakiti Aisyah.


Mendengar hinaan dari Roy, Aisyah langsung menggendong Billy dan membawanya keluar dari rumah Melinda.


"Ais, kamu mau kemana?" Melinda mencoba menghentikan Aisyah namun dia tidak mampu berdiri untuk mengejarnya.


Aisyah tidak mendengar teriakan Melinda dia langsung pergi meninggalkan rumah Melinda.


"Roy, kenapa kamu diam? kejar dia!" Melinda memohon pada putranya.


"Ma, tapi Roy sudah mencoba mencintainya tapi tidak bisa." bentak Roy.


"Roy, kamu ingin mama mati?" ancam Melinda.


"Ma...agh...!" Roy meskipun malas akhirnya Roy mengejar Aisyah yang menunggu taxi online di luar gerbang.


"Aisyah...!" Roy memanggil Aisyah namun Aisyah tidak menoleh dan dia langsung masuk ke dalam taxi online.


"Sial...bikim repot aja!" Roy langsung berlari ke dalam dan mengambil mobilnya. Dia mengejar taxi yang ditumpangi Aisyah dan Billy.

__ADS_1


Di dalam Taxi, Aisyah bingung dia akan pulang ke mana karena dia sudah tidak punya sanak saudara.


"Neng, bener mau ke rumah Hadinata?" tanya sopir taxi itu.


"Iya Pak, kebetulan saya saudara mereka." jawab Aisya berbohong.


"Wah beruntung ya yang jadi saudaranya, sudah kaya baik lo keluarga Hadinata itu." ucap sopir taxi itu.


Setelah sampai tempat tujuan, Aisyah justru bingung. Dia mondar-mandir tak tahu arah. Dia mau masuk tapi sudah malu pada keluarga Hadinata karena dia sudah meninggalkan rumah.


(Aku harus bagaimana, aku bingung.)batin Aisyah.


Asiyah tidak berani untuk masuk dan dia membalikkan badannya berjalan menelusuri jalan. Sementara dia akan mencari kontrakan kecil untuk tempat berteduh bersama Billy. Dia akan memulai hidup baru, berjuang demi anaknya dan masa depannya.


Namun belum mendapatkan rumah kontrakan sebuah mobil mendekatinya dan berhenti tepat di depannya.


"Ais, ayo masuk!" Roy keluar dan menarik tangan Aisyah.


"Tidak, aku tidak mau!" Aisyah menolak dan dia mencoba berlari.


"Ais, demi mama tolong kembalilah!" Roy bersujud di kaki Aisyah.


"Mas, aku sudah melakukan yang terbaik tapi kamu yang membuatku seperti ini."


"Aisyah, maafkan aku! Aku berjanji akan berusaha mencintaimu dan melupakan Melisa." ucap Roy.


"Janji? dari dulu kamu berjanji tapi nyatanya kamu selalu mengingkari." jawab Aisyah.


Namun saat Roy hendak menarik tangan Aisyah, ada seorang lelaki yang menyelamatkannya. Dia menghajar Roy hingga babak belur. Lalu dia membawa Aisyah dan Billy masuk ke dalam mobilnya. Lelaki yang memakai masker iti hanya diam lalu membawa Aisyah ke sebuah tempat yang aman untuk Aisyah dan Billy. Mobil melaju begitu cepat untuk menyelamatkan keduanya.


"Kamu siapa?" tanya Aisyah.


"Kita cari aman dulu!" ucap lelaki itu.


Lelaki itu membawa Aisyah di sebuah Villa yang letaknya sangat jauh dari kota.


"Kita sudah sampai!" Lelaki itu membukakan pintu mobil untuk Aisyah.


"Saya harus tinggal disini?" tanya Aisyah.


Lelaki itu hanya mengangguk dan dia meminta menggendong Billy agar Aisyah membersihkan diri terlebih dahulu.


"Berikan anakmu padaku lalu bersihkan diri terlebih dahulu dan aku tunggu di teras samping rumah.


Aisyah masuk ke dalam Villa yang sangat mewah lalu dia masuk ke dalam kamar dan membersihkan diri setelah selesai dia menemui lelaki yang menolongnya.


Hati Aisyah berdebar karena dia tidak tahu siapa lelaki itu.

__ADS_1


"Aku sudah selesai, Tuan!"


Saat lelaki itu menoleh ke arah Aisyah, dia justru meneteskan air mata.


__ADS_2