
Melisa kemudian mengambil mukenanya dan sholat malam. Dia berdoa semoga mimpinya pertanda baik.
"Ya Allah semoga mimpi ini pertanda baik untuk keluarga kami!" doa Melisa dalam sujudnya.
Sementara itu Rendra masih terus berusaha mempelajari tumpukan buku wasiat peninggalan Hadinata.
Setelah selesai sholat malam, Melisa keluar kamar dan dia mendengar suara bergemuruh dari ruang kerja Kakek Hadinata. Melisa membatin apakah suaminya ada disitu ataukah ada sesuatu yang lain dalam ruangan itu.
Melisa mendekat ke ruangan itu namun suara itu tidak terdengar lagi.
(Ya Allah dimanakah Mas Rendra? Apakah dia ada di dalam atau dia berada di tempat lain?) batin Melisa.
Karena sedikit ketakutan Melisa tidak kembali ke kamarnya melainkan dia menyusul Albert di kamarnya yang tidur satu ruangan dengan Billy dan satu baby sitter.
"Nyonya Melisa!" panggil Kalina
"Sus, aku boleh tidur disini?" tanya Melisa.
"Oh boleh Nyonya, dengan senang hati!"
Melisa akhirnya tidur sambil memeluk Albert. Dia terbangun saat adzan subuh berkumandang.
Pagi harinya mereka semua sibuk dengan aktifitas masing-masing. Mereka belum ada yang masuk ke kantor karena masih dalam suasana duka.
"Ma, kok Mas Rendra belum kembali ya?" tanya Melisa.
"Sayang, kamu gak usah khawatir karena suamimu sedang menjalankan tugasnya dan doakan saja semoga dia berhasil lebih cepat." Arini menenangkan Melisa.
Melisa hanya mengangguk dan dia berdoa dalam batinnya semoga suaminyab lancar dalam mengemban amanat.
Sementara itu, di perusahaan Hadinata Group sedang ada masalah besar karena seluruh investor meminta kejelasan tentang saham yang mereka tanam. Mereka khawatir jika penerus Hadinata tidak bisa seperti almarhum Hadinata.
"Mbak, bagaimana ini? siapa yang akan menjadi penerus perusahaan ini?" tanya salah satu investor.
Mereka semua menuntut hari ini harus bertemu dengan pimpinan perusahaan yang baru.
Orang kepercayaan Hadinata akhirnya mencoba bernegosiasi kepada para investor untuk meminta tenggang waktu. Dan mereka membuat janji hitam diatas putih jika dalam waktu 2 minggu belum ada keputusan mereka berhak menarik sahamnya kembali.
"Maaf Tuan semua, saya mewakili keluarga Hadinata untuk meminta tenggang waktu untuk membicarakan masalah ini." ucap Lukman.
Akhirnya semua mencapai kesepakatan dan mereka semua pamit pulang.
Lukman akan ke mansion Hadinata untuk membicarakan masalah ini karena waktu yang diberikan Lukman sangat pendek.
Lukman langsung mengambil mobilnya dan akan langsung menemui keluarga Hadinata.
Setelah sampai di mansiom Hadinata dia langsung menemui Arini dan Rico.
__ADS_1
Lukman di sambut baik oleh keluarga Hadinata.
"Nyonya maaf jika kedatangan saya kemari mengganggu istirahat Nyonya Arini dan Tuan Rico!" Lukman membungkukan badannya.
"Lukman, apakah ada masalah di kantor sehingga kamu harus meluangkan waktu kesini?" tanya Arini sedikit heran.
"Maaf Nyonya, tadi seluruh investor datang ke kantor karena ingin meminta kejelasan tentang kerja sama mereka." Lukman memberi tahu.
"Terus apa keputusanmu buat mereka?" tanya Arini.
"Aku membuat perjanjian hitam diatas putih dalam waktu dua minggu mereka akan mendapat keputusan dari pemimpin baru Hadinata Gruop." ucap Lukman.
"Kenapa tidak satu bulan?" tanya Arini.
"Maaf Nyonya mereka tidak mau menunggu lebih lama." jawah Lukman.
Arini dan Rico saling pandang, mereka hanya khawatir jika Rendra belum selesai menerima ilmu dari kitab misterius milik Hadinata.
"Mas, ini bagaimana?" tanya Arini.
"Sayang, kamu tenang karena aku yakin Rendra akan menyelesaikan secepatnya!" Rico menenangkan istrinya.
Arini hanya menurut perkataan suaminya, dia meminta Lukman untuk terus melaporkan perkembangan perusahaan.
"Lukman, kamu harus hati-hati karena kemungkinan lawan bisnis akan menyerang bersama untuk merobohkan perusahaan Hadinata Group." Arini mengingatkan.
Melisa datang dengan membawa teh hangat dan aneka cemilan untuk Lukman dan kedua mertuanya.
"Silahkan diminum!" Melisa meletakkan cangkir di meja.
"Terima kasih, sayang!" ucap Arini.
Lukman memandang Melisa dengan tatapan yang sulit diartikan. Dia seperti memendam perasaan pada Melisa.
( Rendra beruntung memiliki kamu Melisa, aku yang sejak dulu menginginkanmu tidak pernah kesampaian. Kamu masih sangat cantik seperti dulu saat kuliah. Andai kamu tahu aku pengagum rahasiamu.) batin Lukman.
Lukman adalah kakak tingkat Melisa saat kuliah dulu. Dia pernah menaruh hati pada Melisa cukup lama namun cintanya bertepuk sebelah tangan karena Melisa mencintai lelaki lain.
Saat kuliah Melisa sangat fokus karena dia ingin segera bekerja. Dia adalah penerus perusahaan Darmawan Group yang sekarang di pegang oleh Rosa mama kandungnya.
Lukman sekilas melihat Melisa dengan tatapan kagum.
"Lukman!" Melisa menyapa Lukman.
"Melisa dari jurusan Ekonomi Bisnis?" tanya Lukman.
"Daya ingatmu masih fresh juga ya!" Melisa tertawa.
__ADS_1
Arini memandang kedekatan mereka dan heran s karena jarang sekali yang namanya Lukman itu tertawa.
"Nyonya Arini, siapa yang akan menggantikan Tuan Hadinata?" tanya Rendra.
"Menurut rencana Rendra yang akan meneruskan kakeknya." jawab Arini.
"Sekarang Tuan Rendra kemana?" tanya Lukman penasaran.
"Sedang mempelajari berkas yang ditinggalkan oleh kakeknya." jawab Arini.
Lukman akhirnya meminta tanda tangan Arini.
Setelah itu dia pamit pulang karena masih banyak yang harus dia kerjakan.
Saat hendak keluar mansion, Lukman kembali menoleh kebelakang.
(Melisa aku doakan semoga kamu bahagia dengan Tuan Rendra dan semoga saya bisa segera melupakanmu!) batin Lukman.
Lukman mengambil mobilnya dan dengan berat hati harus meninggalkan Melisa.
Setelah Lukman meninggalkan Mansion, Arini mendekati Melisa dan bertanya.
"Melisa, kamu pernah ada hubungan sama Lukman? " tanya Arini.
"Saat kuliah Melisa hanya dekat dengan seorang lelaki yang sampai sekarang tidak pernah ia temui karena dia sudah terlanjur menutup diri dari wanita.
Melisa menikah dengan Rendra tanpa mengungkit masalah yang telah lalu.
Mungkin banyak orang yang heran kenapa Melisa bisa kembali dengan Rendra tanpa harus menyalahkan salah satu diantara mereka.
"Melisa , kamu masih sering bertemu dengannnya?" tanya Arini.
"Maksud mama bertemu dengan siapa?"
"Denganmu."jawab Arinu
Melisa hanya diam menerima jawaban sepertinya dia mengetahui masa lalunya yang buruk dia sangat malu.
Melisa hanya tersenyum melihat semua karyawan keluarga Hadinata bekerja dengan sangat bahagia.
Sementara itu di dalam sebuah ruangan, Rendra mendapatkam amanat yang mungkin sangat sulit di terima oleh tubuh Rendra.
Rendra berusaha menerima ilmu dan strategi bisnis yang dulu digunakan oleh Hadinata.
Berat memang untun menjadi pewaris Hadinata tapi semua akan Rendra lakuan denga ikhlas demi masa depan anak dan istrinya.
"Melisa, kamu pasti merindukanmu!" ucap Rendra.
__ADS_1
Saat Rendra terdiam, Rendra langsung mendengar suara yang memanggil namanya berulang kali. Rendra berusaha menerima semua keanehan yang dialaminya sementatra itu dia masih mencoba untuk menarima dengan akal sehat.