Putra Konglomerat

Putra Konglomerat
Setuju Menikah


__ADS_3

Rico dan Arini sangat kaget dengan kehadiran orang tua mereka. Rico memandang ke arah Arini dan tersenyum seolah meminta persetujuan.


"Rico, kamu mau menunggu apa lagi?" Antonius bertanya sambil mendekati Rico.


"Ayah, aku sangat senang menikah dengan Arini tapi cintaku bertepuk sebelah tangan," jawab Rico.


Arini hanya diam mendengar dan melihat anak dan bapak bertengkar. Dia kemudian melanjutkan memasak nasi goreng spesial buat keluarganya.


"Ar, tumben kamu masak banyak?" Hadinata berkata dengan menyindir.


Arini terlihat sangat malu, wajahnya merah merona. Namun dia tetap menyajikan masakannya di meja makan. Arini juga membuat cemilan untuk menemani mereka bersantai karena kebetulan hari ini akhir pekan.


Melisa dan Rendra turun lebih awal karena mereka akan jalan pagi keliling taman kota.


"Kami pamit dulu!" Rendra menyalami mereka satu persatu.


"Papa, mama, ikut jalan pagi yuk!" Melisa mengajak Rico dan Arini.


"Rico, kamu ajak Arini jalan pagi karena dia gak pernah olah raga." Hadinata menyuruh Rico.


Rico menatap Arini seolah meminta persetujuan dengannya. Saat melihat Arini menganggukkan kepalanya, Rico merasa sangat bahagia.


"Rico, jaga dia jangan disakiti ya!" Antonius menggoda anaknya yang sedang kasmaran.


Antonius bisa sedikit lega karena anak satu-satunya yang rela membujang lama mau membuka hatinya untuk seorang wanita.


 "Ayah, doakan Rico berhasil merebut kembali hati Arini." Rico membisikkan sesuatu ditelinga ayahnya.


Antonius hanya mengangguk dan tersenyum pada Rico. Dia juga berbisik di telinga Rico," Ayah akan dukung kamu bikin cucu lagi sama Arini."


"Ayaaaah....!" Rico berteriak sambil tersenyum.


Rico dan Arini mengikuti Rendra dan Melisa ke taman tengah kota.


Mereka berdua sengaja meninggalkan kedua orang itu agar mau saling membuka hati.


Rico menggenggam tangan Arini mesra seperti saat dulu mereka berpacaran.


"Mas, kamu ingat kita dulu sering jalan-jalan keliling taman saat SMA?" Arini bertanya pada Rico.


"Aku masih mengingat semuanya apalagi saat ditaman aku hendak memperkosamu." Rico menggoda Arini.


"Ah jangan ungkit itu lagi, aku malu," jawab Arini.


Mereka berjalan bergandengan tangan dan kadang Rico memeluk Arini mesra.


"Mas, malu ah," ucap Arini.


"Biar gak malu kita menikah ya?" Rico membujuk Arini.


"Apa kamu gak malu menikahi gadis yang pernah disentuh lelaki lain?" Arini bertanya pada Rico.

__ADS_1


"Ngapain aku malu, meski kamu pernah disentuh lelaki lain tapi aku yang mendapatkanmu yang pertama." Rico menjelaskan pada Arini.


"Mas, aku akan membuka hatiku kembali untukmu dan sekarang tidak akan ada orang lain yang akan menggaggu kebahagiaan keluarga Hadinata." Arini berkata panjang lebar.


"Cie...cie..yang sudah balikan sama mantan." Melisa menggoda mertuanya.


"Melisa, kamu mendengar semuanya?" Arini bertanya sambil mencubit lengan menantunya.


"iya mama dan kami akan segera pulang memberi tahu kakek jika papa dan mama mau menikah," ucap Rendra.


Rendra dan Melisa pergi meninggalkan mereka berdua di taman. Diperjalanan pulang mereka bertemu dengan Ayasha dan Herdiansyah.


"Ayasha...!" Melisa memanggil adik tirinya yang sedang menggendong bayi lelakinya.


Ayasha dan Herdiansyah menoleh ke sumber suara yang memanggilnya.


"Kak Melisa..." Ayasha memanggil balik ke arah kakaknya.


Melisa dan Rendra mendekat kearah Ayasha dan Hardiansyah. Melisa mengambil alih menggendong keponakannya.


"Siapa nama ponakanku?" Melisa bertanya pada Ayasha.


Ayasha dulu gadis yang kurang baik perilakunya namun semenjak dia menikah dengan Herdiansyah dia berubah total menjadi wanita yang sangat baik.


"Kak Melisa, maafin perbuatanku dulu yang telah menyakiti kakak! Maafkan juga karena ulahku rumah tangga kakak sempat hancur." Ayasha memeluk Melisa.


"Om Herdi...!" Rendra memanggil pamannya.


Mereka langsung menuju ke warung tenda bubur ayam Mang Ujang di pojok taman.


"Ayasha, kita makan dulu yuk!" Melisa mengajak Ayasha dan Herdi.


Meraka mengobrol banyak, panjang dan lebar hingga lupa waktu.


Ayasha dan Herdiansyah mengalami kecelakaan di pojok taman saat mereka akan menyebrang jalan.


Ayasha dan Herdiansyah dinyatakan meninggal dalam kecelakaan itu. Revan Herdianyah adalah bayi yang dibawa Bapaak dan ibu.


Revan selamat hanya mengalami luka ringan.


Polisi sedang memeriksa jenasah Ayasha dan Herdiansyah.


Rendra dan Melisa langsung menuju ke TKP untuk melihat keadaan adiknya.


Melisa langsung manangis histeris saat melihat Ayasha terluka parah.


"Mas Rendra...hua...hua...." Melisa menangis.


"Sayang, kamu yang sabar ya semoga mereka diterima amal ibadahnya dan ditempatkan di surga Allah." Rendra mendoakan Ayasha dan Herdiansyah.


Rendra meminta ijin untuk membawa jenasah keduanya karena mereka masih keluarga Hadinata. Namun pihak kepolisian tidak mengijinkan karena merak harus menjalani autopsi di rumah sakit.

__ADS_1


Poslisi hanya menyerahkan Revan Herdiansyah kepada Rendra dan Melisa.


"Sayang...kamu ikut aku ya!" Melisa menggendong Revan yang masih berumur 17 bulan.


Revan akan dibawa oleh Rendra ke mansion utama. Dia akan diasuh oleh Rendra dan Melisa.


Namun tidak seperti yang dibayangkan Rendra dan Melisa karena Hadinata menolak Revan tinggal di mansion.


"Kakek, aku mohon terima Revan!" Rendra memohon pada Hadinata.


"Rendra, taruh dia di panti asuhan!" Hadinata memerintah Rendra.


"Kek, tapi Revan tidak bersalah dan tadi kedua orang tuanya meninggal tanpa sebuah pesan.


"Tidak, Kakek tetap tidak mengijinkan," ucap Hadinata.


Rendra dan Melisa mempunyai ide untuk menaruh Revan di rumah Mama Rosa.


Rendra menitip Revan pada Bi Narti karena mereka akan membersihkan  diri dahulu sebelum mengantar Revan ke rumah Rosa.


"Mas, kita antar Revan sekarang!" Melisa mengajak suaminya.


"Biarkan Budi yang mengantarnya karena aku sedang ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan!" Rendra mencari alasan agar tidak berurusan dengan anak Ayasha dan Roy.


"Mas, tapi?"Melisa hendak berbicara pada Rendra tapi dia langsung pergi meninggalkan Melisa.


(Aku tahu kamu masih sakit hati melihat anak ini karena dia anak mantan suami aku.) batin Melisa.


Melisa langsung mencari Budi di ruang kerjanya, dia sedang bersantai dengan teman-temannya.


"Bud..." panggil Melisa.


"Iya Nyonya...!" Budi langsung menghampiri Melisa yang menggendong bayi.


"Bawa bayi ini ke rumah mama Rosa dan beritahu dia jika Ayasha meninggal dalam sebuah kecelakaan bersama Om Herdi." Melisa memberikan bayi itu pada asisten keluarga Hadinata.


Budi bersama anak buahnya pergi mengantar Revan ke rumah Rosa.


Sesampai di rumah Rosa, Budi turun lalu memberikan bayi itu pada Rosa.


"Maaf Bu, saya diperintahkan oleh Nyonya Melisa untuk mengantar bayi ini." Budi memberikan bayi yang dibawanya kepada Rosa.


Rosa sangat kaget karena tiba-tiba dia diberi bayi .


"Budi, siapa anak ini?" Rosa bertanya pada Budi.


"Anaknya Non Ayasha , dia meninggal dalam kecelakaan."


"Apa....?" Rosa sangat kaget.


Rosa pingsan karena kaget. Budi dan anak buahnya bingung.

__ADS_1


__ADS_2