
Rendra terlihat sangat marah karena mengetahui keluarga Prayoga bisa menelusup masuk ke dalam keluarganya. Dia akan berhati-hati berhadapan dengan manusia licik seperti Prayoga.
"Ternyata dia adalah Komarudin Prayoga." Rendra mengepalkan tangannya.
Rendra akan langsung menemui kakek Hadinata dan membicarakan masalah ini dengannya. Karena dia belum paham dengan keluarga Prayoga yang menurut crita kakeknya, mereka adalah lawan bisnis keluarga Hadinata.
Setelah Melisa diijinkan pulang, dia akan membawa kembali ke rumah Hadinata karena di rumah itu Melisa akan aman karena banya penjaga yang mengawasinya.
Rendra masuk ke ruang rawat inap Melisa, dia akan memberi tahu satu hal jika dia harus berhati-hati dengan Komar dan Alika.
"Mas, kamu dari mana?" tanya Melisa.
"Aku dari luar mencari minum. Bagaimana keadaanmu?" tanya Rendra.
"Aku sudah baik-baik saja, dan tadi Dokter bilang aku langsung boleh pulang." jawab Melisa sambil menggenggam tangan suaminya.
"Sayang, kita pulang ke rumah mama Arini karena aku tidak mau kamu tinggal sendiri di rumah." ucap Rendra.
"Loh kenapa, Mas?" tanya Melisa.
"Sayang, kamu harus berhati-hati dengan Komar dan Alika karena mereka_!" belum sempat melanjutkan ceritanya Komar datang.
Komar langsung membopong Alika yang tertidur di sofa dekat ranjang Melisa.
"Maaf Ibu Melisa, saya harus segera kembali ke Jogja." Komar pamit pada Melisa.
"Pak Komar, kenapa buru-buru? bukannya perusahaan sudah ada yang menghandle?" tanya Melisa.
"Tapi bu_!" Komar terlihat sangat gugup.
Selain karena dia kecewa karena Melisa yang menjadi atasannya sudah menikah, dia lebih kecewa karena ternyata keluarga Hadinata yang menjadi suami Melisa.
"Pak Komar sepertinya saya akan menjadikan perusahaan istri saya bergabung di bawah naungan Hadinata Grup dan saya yang akan mengambil alih kepemimpinan perusahaan selama istri saya masih harus istirahat." ucap Rendra.
"Tapi_?"
"Ada masalah? atau anda tidak setuju?" tanya Rendra.
"Bukan seperti itu tapi saya hanya mengikuti keputusan ibu Melisa karena beliau adalah pemimpin kami." jawab Komar.
Rendra memandang istrinya seolah memberi kode padanya agar dia setuju dengan rencananya. Padahal untuk pengambilalihan perusahaan dia tidak menginginkannya. Namun karena ada keluarga musuh masuk di dalam keluarganya membuat semua terasa terancam.
"Pak Komar, maafkan saya karena mulai hari ini saya akan fokus dengan kehamilan saya dan saya menyerahkan sepenuhnya kepemimpinan perusahaan pada suami saya." Melisa membuat keputusan.
Terlihat kekecewaan di wajah Komar. Sebenarnya dia berniat merebut perusahaan Melisa yang sudah satu tahun dia pegang. Namun sebelum dia mendapatkan data perusahaan, kepemimpinan sudah diambil alih oleh keluarga musuhnya.
__ADS_1
Komar hanya bisa menerima keputusan Melisa. Namun dia tidak akan tinggal diam dengan kekecewaan yang dia alami. Dia bertekad akan merebut Melisa dan merebut perusahaan Albert Group milik Melisa.
Keluarga Prayoga sudah bisa mengendalikan Darmawan Group dan dia ingin menguasai Albert Group yang mempunyai peluang menjadi perusahaan besar dan bersaing dengan perusahaan besar di Indonesia.
"Ibu Melisa, apakah anda yakin ingin menyerahkan kepemimpinan perusahaan kepada Tuan Rendra?" tanya Komar.
"Saya yakin karena Mas Rendra adalah suami saya dan saya juga mempunyai anak dengannya yang dia kelak akan menjadi pewaris Albert Group." jawab Melisa.
"Tapi_!" Komar hendak mempengaruhi Melisa tapi Rendra langsung menyela pembicaraan mereka.
"Pak Komar, tunggulah sebentar karena pengacara saya sedang kesini untuk mengurus pengalihan perusahaan." kata Rendra.
Rendra akan bertindak cepat sebelum semua diambil alih oleh keluarga Prayoga. Dia akan menyelamatkan perusahaan istrinya dari keluarga Prayoga yang sangat licik.
"Maaf Tuan Rendra, saya tidak mempermasalahkan siapa pemilik perusahaan Albert Group tapi saya hanya sedikit kecewa karena semua keputusan tidak dibicarakan dengan staff yang selama ini ikut membantu memajukan perusahaan Albert Group." Komar menjelaskan.
"Kenapa anda begitu gelisah saat aku akan menganmbil alih perusahaan istriku?" tanya Rendra.
Namun tiba-tiba Melisa merasakan sakit yang luar biasa di kepalanya. Dia merasakan kesakitan.
"Mas Rendra...sakit!" Melisa memegangi kepalanya.
"Sayang, kamu kenapa?" Rendra langsung menghampiri Melisa.
Komar yang melihat Melisa kesakitan ingin menolongnya tapi dia tidak bisa berbuat apapun karena ada suaminya.
(Melisa...aku disini, aku ingin sekali mendekat tapi aku tak punya kekuatan karena ada suamimu yang ada di dekatmu.) batin Komar
Dokter datang dan membantu mengurangi rasa sakit pada kepala Melisa.
Setelah Dokter memberikan obat penenang akhirnya Melisa bisa tenang kembali.
"Dokter, istri saya kenapa?" tanya Rendra panik
"Tekanan darah Melisa sangat tinggi 180/100 dan itu jika tidak dikendalikan sangat berbahaya untuk ibu hamil."Jawab Dokter.
"Kenapa bisa setinggi itu, Dokter?" tanya Rendra.
"Mungkin karena ibu Melisa banyak pikiran."Jawab Dokter.
"Dokter, lakukan yang terbaik buat istri saya!" perintah Rendra.
"Ibu Melisa harus rawat inap disini sampai kondisi tekanan darahnya turun." Dokter memberikan penjelasan pada Rendra.
"Perawat meminsahkan Melisa di ruang VIP agar Melisa lebih nyaman dan tidak terganggu.
__ADS_1
Rendra langsung memberitahu kakek Hadinata dan Arini. Dia meminta kakeknya mengirimkan anak buahnya untuk menjada Melisa.
Arini dan Hadinata langsung datang ke Rumah Sakit yang di kirimkan oleh Rendra.
Sesampai di Rumah Sakit dia langsung mencari kamar Melisa yang ada di lantai 6 gedung Rumah Sakit itu.
"Rendra...!" panggil Arini.
"Mama...Kakek...!" Rendra langsung menghampiri kakek dan mamanya.
"Mama...Maafkan Rendra yang merepotkan mama dan Kakek!" ucap Rendra.
"Sayang, Melisa sakit apa?" tanya Arini.
"Mama, Melisa tidak sakit tapi dia sedang hamil a anak Rendra...!" Rendra memberi tahu Arini.
Dengan mengucap rasa syukur, Arini langsung memeluk Rendra. Arini tersenyum bahagia. Dia sangat senang sekali mengetahui kehamilan Melisa.
"Besok setelah diijinkan pulang, Melisa harus tingga di mansion agar kami bisa menjaga Melisa dan calon adiknya Alberti." ucap Arini.
"Bagaimana dengan Aisyah?" tanya Melisa.
Rendra dan Arini menoleh ke arah sumber suara. Dia kemudian mendekati Melisa dan memeluknya
"Semua akan baik-baik saja karena mama akan memberikan pengertian pada Aisyah nanti."ucap Rendra.
Obrolan mereka terhenti karena melihat Kakek Hadinata sedang marah dengan Komar.
"Kenapa kamu masuk di dalam keluargaku?" tanya Kakek Hadinata sambil menatap tajam ke arah Komar.
"Karena saya menyukai Melisa dan aku ingin merebut Melisa dari keturunanmu."ucap Komar.
Saat Hadinata mengangkat tangannya hendak memukul Komar tapi Melisa berteriak keras.
"Tunggu Kakek!" teriak Melisa.
"Melisa...!" Komar sangat kaget karena ternyata Melisa mendengar percakapan mereka.
"Komar, sekarang juga keluar dari perusahaanku!" Melisa memecat Komar sebagai asistennya.
"Melisa...tapi aku tidak mau berhenti! aku sangat ingin didekatmu." ucap Komar
Rendra yang mendengar Komar menyatakan perasaannya langsung tidak terima.
Terima kasih sudah mampir...mohon tetap dukunv karyaku dengan like dan komantarnya.
__ADS_1