Putra Konglomerat

Putra Konglomerat
Koma


__ADS_3

Setelah Aisyah ditangani oleh Dokter di IGD, Rendra dan Arini menunggunya di ruang tunggu.


"Sayang, insyaallah Aisyah baik-baik saja." Arini mencoba menenangkan putranya.


"Ma, kasihan Aisyah dia harus menderita gara-gara aku." Rendra terlihat sangat sedih.


"Sudah tenang sayang, banyak berdoa semoga Allah selalu melindungi Aisyah!"


Dokter yang memeriksa Aisyah keluar. Dia menghampiri Rendra dan memberi kabar bahwa Aisyah akan mengalami koma sementara akibat benturan yang terlalu keras mengenai syaraf otaknya.


"Maaf Pak Rendra, istri anda akan mengalami koma untuk sementara waktu."


"Apa Dok!" Rendra terlihat sangat sedih.


"Benar Pak, jadi tolong bantu agar dia bisa pulih dan cepat sadar."


"Bagaimana caranya?"


"Selalu ajak dia berkomunikasi dan ajak orang yang paling dekat dengannya untuk membantu merespon daya ingatnya."


"Baik Dokter, apakah saya diijinkan masuk?"


"Silahkan!" Dokter mempersilahkan Rendra masuk menjenguk Aisyah.


Saat sampai di dalam ruangan IGD, Rendra memandang Aisyah terbaring lemah di ranjang dengan selang-selang yang menempel di tubuhnya.


( Ya Allah Aisyah, kamu wanita yang baik kenapa harus mengalami seperti ini, pernikahan kita tinggal 3 hari lagi sayang.) Rendra menangis di hadapan Aisyah.


"Rendra, doakan Aisyah semoga cepat sadar!" Menepuk pundak putranya.


"Ma, perintahkan anak buah kakek untuk mengambil Albert dan penjarakan Melisa!" dengan nada marah Rendra meminta pertolongan mamanya.


"Baik sayang!" Arini mengambil ponselnya lalu menghubungi Papanya.


Di kediaman Hadinata.


"Pak Romi, perintahkan anak buahmu dan ambil Albert Cucu buyutku lalu laporkan Melisa ke polisi!"


"Siap Bos, laksanakan!" Romi meninggalkan Hadinata dan mengajak anak buahnya ke rumah Darmawan untuk mengambil Albert


"Siapapun yang berani melukai keluarga Hadinata akan menerima imbalan yang lebih dari yang dia lakukan!" Hadinata mengepalkan tangannya.


Hadinata mengajak sopirnya ke Rumah Sakit untuk menjenguk Aisyah.


Sementara di kediaman Darmawan nampak ribut setelah Pak Romi dan anak buahnya mengambil paksa Albert.


Darmawan langsung syok dengan apa yang di perbuat Melisa.


"Tunggu Tuan, kenapa cucuku kalian ambil?"


"Tuan Darmawan, Tuan Hadinata meminta Albert tinggal bersamanya karena...!" Belum sempat melanjutkan polisi sudah datang hendak menangkap Melisa.


Melisa yang masih terus menangis karena anaknya diambil paksa oleh anak buah Rendra merasa kaget dengan kehadiran polisi. Dia mencoba lari namun polisi lebih dulu berhasil menangkapnya.


"Papa, tolong Melisa!" Melisa menangis dan memohon pada Darmawan.


"Pak Polisi, tunggu!"


"Iya Tuan, maaf kami menangkap Ibu Melisa karena dia melakukan percobaan pembunuhan."


"Maksudnya anak saya hendak membunuh?"


Darmawan terlihat sangat kecewa dengan anaknya karena selama ini dia selalu mendidik anaknya dengan baik. Hanya karena harta dan cinta dia menjadi manusia tak punya hati.


"Benar sekali dan sekarang korban mengalami koma di Rumah Sakit."

__ADS_1


"Tangkap dia!" Darmawan marah dan dia pasrah dengan nasibnya.


( Ya Allah, apa dosaku sehingga dia menjadi manusia tamak dan tak berperikemanusiaan.) mengusap mukanya.


"Pa, maafkan mama karena sudah gagal mendidik Melisa. Hiks...hiks...!" Rosa menangis memeluk suaminya.


Rosa menggandeng suaminya masuk ke dalam rumah. Mereka duduk di ruang keluarga dan disana ada Roy dan Ayasha.


"Roy, suami macam apa kamu yang tidak bisa mendidik istrimu dengan baik!" menatap tajam menantunya


"Maaf Pa, karena sebelumya Roy tidak mau ikut campur urusan Melisa dengan Rendra."


"Maksud kamu?"


"Pa, maaf jika Roy mengecewakan tapi Roy tidak mau lagi bersandiwara."


"Ini ada apa lagi?"


"Roy, ayah dari anak dalam kandunganku Pa!" Ayasha menumpangi kekasihnya menjelaskan pada Darmawan.


"Hah...!" Darmawan pingsan karena penyakit jantungnya kumat.


Rosa terlihat panik dan dia menyuruh Roy mengangkat suaminya ke dalam mobil lalu membawanya ke Rumah Sakit.


Darmawan langsung di bawa ke UGD dan dia langsung diperiksa karena keadaanya semakin memburuk.


Dokter sudah pasrah karena kondisi Darmawan semakin kritis.


Darmawan dibawa ke ruangan ICU karena penyakit jantungnya semakin memburuk.


Rosa terlihat sangat sedih namun Ayasha tidak peduli karena Darmawan bukan papa kandungnya.


"Ayasha, papa bagaimana?" Rosa terlihat menangis memeluk Ayasha.


"Ayasha!" Rosa menatap tajam putrinya.


"Benarkan kalau papa keadaannya sudah kritis!"


"Ayasha tapi dia seorang laki-laki yang tulus merawatmu dari kecil meskipun kamu bukan anaknya."


"Aku tak peduli!"


Ayasha justru meninggalkan mamanya dan dia duduk bersama Roy.


Rosa masih menangis memikirkan suaminya yang masih terbaring lemah di Ruang ICU.


"Sayang, kita cari makan yuk!" Ayasha mengajak Roy untuk makan.


"Tapi mama!"


"Sudahlah, biarkan saja karena mama tidak akan berhenti nangis kalau papa belum sadar!" Ayasha berdiri mendekati mamanya.


"Mama...Ayasha mau makan!"


Rosa hanya mengangguk tanpa menatap putrinya.


"Mama mau dibungkusin gak?"


Rosa menggeleng dan menatap heran pada putrinya.


(Papa, maafkan Ayasha! Dia anakku yang tak tahu balas budi. Hiks...hiks...hiks...) Rosa menangis dalam batinnya.


Saat Rosa membenarkan posisi duduknya, tiba-tiba Dokter menghampirinya.


"Nyonya Darmawan, bisa ikut ke ruangan saya!"

__ADS_1


"Baik Dokter." Rosa mengikuti Dokter di belakangnya.


"Silahkan duduk Nyonya!


"Terimakasih "


"Jadi begini, kondisi Pak Darmawan semakin memburuk dan kemungkinan sembuh sangat kecil jadi saya mohon banyak berdoa semoga ada mukjizat untuk beliau."


"Dokter, tolong selamatkan suami saya berapapun biayanya akan saya bayar!" Rosa sedih dan tangisnyapun pecah.


"Nyonya, ini bukan masalah biaya tapi kondisi beliau memang memburuk."


Seorang perawat masuk dan memberitahu kalau Pak Darmawan kejang.


"Dokter...Dokter...!


"Iya suster!" Dokter berdiri dan menghampiri perawat yang masuk ke ruangannya.


"Maaf pasien mengalami kejang!"


"Apa!" Dokter berlari ke ruangan Darmawan dan Rosa ikut lari di belakang Dokter .


Sesampai di ruangan, pasien sudah dinyatakan meninggal. Dan beberapa perawat mencopot alat-alat yang menempel di tubuh Darmawan.


"Maaf Dok, pasien sudah meninggal.!"


Dokter memeriksa denyut nadi dan menggelengkan kepalanya.


"Nyonya Rosa, saya turut berduka cita karena Pak Darmawan sudah tidak bisa kami selamatkan!


Beberapa perawat sudah selesai melepas alat-alat dan menutup jenazah Pak Darmawan.


"Huah...huah...!"Rosa menangis dan kemudian pingsan.


Perawat menolong Rosa dan membaringkan di ranjang.


Semetara Ayasha dan Roy datang dengan muka datarnya.


Ayasha tersenyum melihat papanya sudah tertutup kain putih.


"Akhirnya papa meninggal juga dan dengan begitu semua harta papa buatku karena Kak Melisa di penjara dan Albert sudah di bawa papa kandungnya.!"


"Benar sayang, sekarang sebaiknya kita turut berduka dan sedih setelah semua selesai baru kita minta mama mengalihkan kekayaan papa atas namamu." Roy mempengaruhi Ayasha.


Ayasha menurut dia mendekati mamanya yang pingsan. Setelah Rosa sadar dia terus memanggil suaminya.


"Papa...papa... jangan tinggalin mama!" Rosa sadar dan memanggil suaminya.


"Mama...masih ada aku!" memeluk mamanya.


"Ayasha, papamu sudah gak ada. Hiks...hiks...! Rosa menangis


"Mama, tenang saja masih ada aku dan Mas Roy yang nenemin mama dan yang pasti semua harta papa untuk mama kan!"


"Ayasha kamu!"


"Maksud aku bukan begitu, meski papa sudah gak ada hidup mama akan baik-baik saja dan tidak akan kekurangan."


"Sayang terima kasih!" memeluk mamanya.


( Mama, maafkan aku karena aku hanya butuh harta mama dan aku akan mengambilnya darimu!) Ayasha tersenyum licik dalam batinnya.


Terima kasih yang sudah mampir!


Mohon dukung terus karyaku dengan like dan komentarnya serta hadiahnya ya 💖💖

__ADS_1


__ADS_2