
Arini terlihat sangat kecewa dengan pengakuan Romi. Dia tidak menyangka jika suami yang sangat dia cintai tega membohonginya. Arini juga sangat sakit hati karena suaminya ternyata sudah memiliki anak dan istri.
"Mas, kenapa kamu tega membohongiku!" Arini memukul dada Romi.
"Arini, maafkan aku!" jawab Romi.
"Kamu tega, aku sudah mempercayakan hatiku untukmu, aku sudah mempercayakan cintaku padamu tapi ternyata semua itu hanya bohong." Arini menangis.
"Arini, aku melakukan semua ini karena mereka sangat berarti untukku dan aku tidak ingin mereka menderita." jawab Romi.
Arini menangis dan dia menjatuhkan tubuhnya di lantai.
Rendra mendekati mamanya dan membangunkannya.
"Ma, masih ada Rendra yang mencintai mama." Rendra memeluk Arini.
"Rendra, mama sudah hancur!" Arini menangis di pelukan Rendra.
Hadinata mendekati Arini. Dia begitu marah karena ada orang yang berani menyakiti keluarganya.
"Aku tidak rela ada orang yang menyakiti keluargaku, mereka harus menerima balasan yang setimpal." ucap Hadinata dengan penuh amarah.
"Kakek, aku yang akan menghancurkannya!" Rendra menatap tajam ke arah Romi.
"Rendra, aku ingin kamu mencari tahu keberadaan anak dan istrinya! hancurkan dia dan buat hidup mereka seperti di dalam neraka!" perintah Hadinata.
Romi terlihat sangat khawatir dengan keadaan anak dan istrinya. Dia takut jika Rendra dan anak buahnya akan menyakiti mereka.
"Jangan sakiti mereka!" Romi memohon pada Hadinata dan Romi.
Arini memandang suaminya sedih. Dia benar-benar tidak menyangka jika Romi akan membohonginya dengan statusnya.
"Mas, aku tidak mau hidup denganmu lagi!" ucap Arini.
"Arini, aku mohon jangan tinggalkan aku!" Romi memohon pada Arini.
"Mas, lebih baik aku hidup sendiri daripada punya suami tak punya hati." ucap Arini sambil menangis.
Hadinata segera memerintahkan Budi dan anak buahnya untuk segera bergerak mencari keberadaan keluarga Romi.
Dia tidak mau membuang banyak waktu hanya satu kasus yang tidak berguna.
"Kakek, aku akan membawa mama ke kamarnya!" Rendra pamit pada Hadinata.
"Mama bisa sendiri dan kamu bantu Budi untuk menyelesaikan masalah ini!" pinta Arini.
"Mama...!" Rendra memeluk mamanya.
"Rendra, aku minta hubungi pengacara mama dan urus surat perpisahan mama dan lelaki bejat itu." perintah Arini sambil berlalu meninggalkan ruang bawah tanah.
Arini akan menenangkan diri di dalam kamarnya. Dia akan melupakan segala sakit hatinya.
Hadinata memerintah Rendra memeriksa saku celana dan saku jas Romi. Dia akan mengambil seluruh fasilitas yang selama ini dia berikan.
Namun satu hal yang membuat Rendra kaget karena dia menemukan bukti transfer di saku jas Romi.
Romi yang mengetahui itu adalah bukti transfer untuk putrinya sangat khawatir.
(Kertas itu...jangan dibuka!) batin Romi.
Rendra menemukan bukti transfer uang sejumlah 1 Milyar yang ditujukan kepada Renata Amalia.
__ADS_1
"Siapa Renata Amalia?" tanya Rendra.
"Jangan sakiti dia!" ucap Romi.
"Siapa dia?" Rendra membentak Romi.
"Rendra, aku mohon jangan sakiti dia!" Romi memohon pada Rendra.
Renata Amalia putri sulungnya, yang kini sedang kuliah semester akhir. Dia wanita yang cantik dan pintar.
"Romi, kamu tahu siapa aku?" tanya Hadinata.
"Jika kamu tidak mau mengakui, maka aku akan cari tahu sendiri siapa dia!" ucap Hadinata.
Wajah Romi ketakutan, dia gemetar karena anak dan istrinya terancam.
"Romi...!" bentak Hadinata.
"Tuan...jangan sakiti mereka!" pinta Romi.
"Kamu sangat mencintai mereka?" tanya Hadinata.
"Mereka segalanya buatku, mereka sangat berarti untukku!" jawab Romi.
"Lalu Arini?" tanya Hadinata.
"Aku...tidak...mencintainya!" jawab Romi jujur.
Pengakuan Romi membuat Rendra naik pitam. Dia sangat marah pada mantan asisten kakeknya.
Bugh...bugh...!" Rendra melayangkan dua pukulan di wajah Romi.
"Rendra...jangan sakiti mereka!" pinta Romi.
"Aku mohon...jangan sakiti mereka!" Romi memohon pada Rendra.
Hadinata menelpon Budi untuk mencari tahu Renata Amalia. Dia pasti salah satu keluarga Romi yang disembunyikan.
"Romi, ingat jika mereka sudah ketemu maka hancurkan mereka." perintah Hadinata.
"Tuan...aku mohon siksa saya tapi jangan sakiti anak dan istriku!" ucap Romi.
"Itu terlalu ringan untukmu, sakit hati mamaku harus terobati dengan hancurnya keluargamu!" Rendra menatap tajam ke arah Romi.
Romi hanya bisa menangis dan dia menyesali perbuatannya.
"Tuan, saya bersedia melakukan apapun asalkan anak dan istriku selamat."ucap Romi.
"Aku tidak berjanji akan membebaskan mereka." Rendra meninggalkan Romi.
"Budi, kamu beri dia makan!" perintah Hadinata.
Hadinata pergi meninggalkan ruang bawah tanah menuju ke ruang kerjanya.
Rendra menemui mamanya di dalam kamar. Dia masih menangis meratapi nasibnya. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Dia hanya ingin bahagia di akhir usianya.
"Ma, boleh Rendra masuk!" tanya Rendra.
Meskipun Arini tidak menyahut tapi Rendra tetap masuk, kemudian mendekati mamanya yang berdiri di depan jendela dan pandangannya kosong ke arah luar.
"Mama...Lelaki seperti dia tidak perlu ditangisi!" Rendra mendekati mamanya.
__ADS_1
"Rendra, mama tidak menangisinya tapi mama sedang memikirkan bagaimana caranya membalas sakit hatiku!" ucap Arini.
"Ma, serahkan semuanya pada Rendra!" ucap Rendra.
"Kamu memang anak berbakti." Arini tersenyum pada Rendra.
Rendra memandang ponselnya. Dia mendapat pesan dari Budi info tentang Renata Amelia.
Dia juga sudah menemukan siapa istri dari Romi Sanjaya.
Rendra memerintahkan untuk membawa Renata Amalia di hadapannya.
"Sayang, kenapa harus membawanya kemari?" tanya Arini.
"Aku akan menghancurkan Romi lewat putri sulungnya" ucap Rendra.
Arini sangat takut jika Romi akan menyakiti gadi polos putri dari Romi Sanjaya.
"Rendra...jangan sakiti mereka karena mereka tidak bersalah!" jawab Arini.
"Mama, kenapa membela mereka?" tanya Rendra.
"Aku tidak membela mereka tapi aku tidak tega melihat mereka tersakiti." jawab Arini.
"Mama masih mencintai lelaki brengsek itu?"tanya Rendra.
"Aku masih mencintai mas Romi, tapi hatiku terlalu sakit." jawab Arini.
"Lupakan lelaki itu dan mama pasti akan bahagia." Rendra menenangkan mamanya.
Namun tiba-tiba Arini tak sadarkan diri. Rendra sangat panik kemudian langsung membopong mamanya ke atas ranjang.
Rendra langsung menghubungi Dokter pribadinya.
Rendra sangat khawatir dengan keadaan mamanya.
Tak menunggu lama Dokter Prita datang. Dia kemudian memeriksa keadaan Arini yang masih terbaring lemah di ranjangnya.
"Dokter, bagaimana keadaan mama Arini?" tanya Rendra.
"Maaf sepertinya tidak ada penyakit serius tapi perlu ada pemeriksaan lanjut dan tes urine!" Dokter Prita menjelaskan.
"Maksud, Dokter?" tanya Rendra.
"Saya curiga dia sedang hamil!" ucap Dokter Prita.
"Apa? hamil?" Rendra terlihat sangat kaget.
"Itu hanya perkiraanku saja, jadi untuk memastikannya bawa dia ke Rumah Sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut!" Dokter Prita menjelaskan.
"Tapi saya tidak mengijinkan bayi itu lahir dari rahim putriku!" ucap Hadinata dari luar.
"Kakek...!"
"Dokter Prita, beri obat penggugur kandungan dan bunuh bayi itu sebelum dia membesar di perut Arini."
"Tapi tuan!"
"Aku akan memberimu uang yang banyak!" ucap Hadinata.
HAPPY READING!
__ADS_1
JANGAN LUPA DUKUNG TERUS KARYAKU DAN TEKAN JEMPOLNYA LALU KASIH RIVIEW DI KOLOM KOMENTAR.