
Ayasha menguap di hadapan Roy dan mamanya.
Namun Rosa mengetahui kalau Ayasha hanya pura-pura karena dia melihat tanda merah di lehernya.
Rosa mengajak Roy dan Ayasha duduk di teras samping rumah.
Roy dan Ayasha yang di giring mamanya hanya saling pandang dan tersenyum.
" Roy, Ayasha duduk!"
Mereka berdua duduk dan berdampingan.
" Jawab pertanyaan Mama Ayasha?"
" Apa yang Mama ingin tanyakan, Ayasha siap menjawab." dengan tegas Ayasha angkat bicara.
" Siapa yang membuat lehermu merah?"
" Oh ini tadi siang di gigit serangga." Jawab Ayasha pura-pura.
" Bohong! Dan kamu ngapain malam-malam ada di depan kamar Aysha?"
" Ma, maafkan Roy!"
" Maksud kamu?"
" Roy dan Ayasha saling mencintai dan kami sudah berhubungan lama."
" Jangan-jangan anak yang dia kandung adalah anakmu?"
" Betul sekali, anak yang Aya kandung adalah anak kakak iparku." tersenyum pada mamanya.
Plak...! Rosa menampar Ayasha hingga meninggalkan bekas merah di pipi kanan Ayasha.
" Ma, tampar Aya karena dari dulu mama tidak pernah menyayangiku berbeda dengan Kak Melisa dia yang selalu menjadi nomer satu."
" Ingat kalian berdua harus membayar mahal sakit hati Melisa." Rosa menunjuk Roy dan Ayasha.
Rosa meninggalkan Ayasha dan Roy. Rosa menangis dan merasa bersalah pada Melisa.
( Bagaimana jika Melisa mengetahui hubungan mereka, apakah dia akan kecewa ataukan dia akan memaafkan mereka. Sekarang Ayasha sedang mengandung anak Roy dan inj mungkin balasanku karena telah berbohong bahwa tentang kehamilan Albert dulu.) membatin.
Rosa kembali ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya di samping suaminya.
Sementara Roy dan Ayasha masih duduk berdua di teras rumah mereka. Mereka justru tersenyum bahagia karena hubungan mereka ada yang mengetahui.
" Sayang, selangkah lagi kita akan mendapatkan restu mama Rosa."
" Iya Mas, tapi bagaimana nasib Kak Melisa jika dia tahu anak ini anakmu?"
"Itu masalah gampang nanti aku yang akan menjawab jika mereka semua sudah tahu." Roy memeluk Ayasha dan kemudian mereka berdiri dan kembali ke kamar masing-masing.
__ADS_1
Pagi harinya Melisa terbangun dan mendapati suaminya masih terlelap dan dia tersenyum memandang suaminya.
" Mas, kamu begitu baik karena kamu mau menerima Albert sebagai anakmu sementara ayah kandungnya sendiri tidak mengakuinya." membelai wajah Roy yang masih terlelap.
Namun saat Melisa hendak mencium kening Roy, tiba-tiba mata Roy terbuka dan Melisa menjauhkan wajahnya.
" Sayang, kamu sudah bangun!"
" Kenapa kamu kaget begitu, kamu hendak mencuri cium ya...?" Roy yang pura-pura tidak mengetahuinya.
Melisa hanya mengangguk dan tersenyum malu.
" Kenapa? biasanya kamu langsung kok pakai malu."
" Mas, tapi kita sudah lama tidak melakukan dan aku kangen suasana itu?"
" Kamu yang selalu tertidur saat aku mendekatimu membuatku harus menahannya dan menuntaskan hasratku." Roy berpura-pura pada istrinya.
Roy sengaja memberi obat tidur pada istrinya karena Ayasha kembali ke rumah orang tuanya dia ingin selalu menemaninya.
" Sayang, nanti malam kita lakukan dan persiapkan dirimu.!" Mengecup kening istrinya.
Mendengar itu Melisa tersipu malu dan dia tersenyum menatap suaminya.
( Mas Roy andai aku tidak menikah denganmu mungkin sekarang aku masih bersama Rendra dan hidupku akan bahagia karena dia orang yang sangat kaya. Semua memang kesalahanku tapi aku bersyukur kamu mau menerimaku meski telah mengandung anak Rendra. ) tersenyum pada suaminya.
" Hey...kamu melamun sayang!" Roy memanggil Melisa.
" Ah tidak aku hanya mengagumimu Mas Roy!" tersenyum pada suaminya.
" Sebenarnya aku tidak menginginkan dia hanya saja aku ingin hartanya."
" Kamu dari dulu memang sangat matre." mencubit hidung Melisa.
" Bukankah kamu juga senang kita memiliki banyak uang?" menyindir Roy yang pengangguran.
" Pintar dan cerdas!" mengacak rambut Melisa.
" Sayang, boleh aku meminta sekarang?" Roy membelai rambut Melisa.
Melisa hanya mengangguk karena dia sudah lama tidak mendapatkan sentuhan suaminya. Roy menarik dagu Melisa lalu menciumnya dan kemudian ******* bibirnya. Ciuman Roy beralih turun ke bawah dan di mulai mencumbu setiap inci tubuh Melisa.
( Ah kenapa rasanya berbeda dari Ayasha...kenapa tubunya jadi senikmat ini. Apakah aku mulai bosan dengan Ayasha? ) Roy membatin sembari menikmati percintaan mereka.
Melisa tersenyum bahagian karena Roy menyentuhnya dengan perasaan cinta dan tanpa terpaksa. Setelah mereka mencapai puncak bersama dan Roy menyemburkan cairan kental di dalam rahim Melisa.
" Mas, kenapa di masukkan di dalam?"
" Sayang, maaf aku lupa karena aku terlalu menikmati." memeluk Melisa.
" Kalau aku hamil bagaimana?" Melisa terlihat sangat khawatir.
__ADS_1
Karena kesepakatan dari awal hubungan mereka tidak ingin memiliki anak terlebih dahulu.
" Hamil!" Roy mengacak rambutnya sendiri.
" Jika aku hamil, maka semua rencana kita akan gagal Mas!" Melisa terlihat sedih.
" Sudahlah seandainya kamu hamil kita akan membesarkan anak kita sama-sama." Roy mencoba menenangkan istrinya.
Sebenarnya Roy bingung seandainya Melisa hamil, maka dia tidak akan bisa menikahi Ayasha yang terlanjur dia cintai.
( Ah kenapa aku mendadak bodoh seperti ini, padahal niat hati aku cuma ingin menikmati Melisa sebelum aku menceraikannya dan menikahi Ayasha). marah dalam batinnya.
" Mas, kamu baik-baik saja?"
" Sayang, aku baik-baik saja." Roy beranjak dari ranjang menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Melisa yang melihat suaminya pergi, dia menyusul ke dalam kamar mandi dan mereka mandi bersama.
Saat mereka hendak keluar kamar mandi tiba-tiba Ayasha sudah masuk ke dalam kamar mereka dan dia terlihat sangat marah.
" Kak Melisa!" Memandang keduanya yang hanya memakai handuk.
" Ayasha kenapa kamu lancang sekali masuk kamar kakak?"
Roy yang melihat tatapan Ayasha yang tajam merasa bersalah. Tapi mau bagaimana lagi karena Melisa adalah istrinya dan dia berhak mendapatkan belaian dari istrinya.
Ayasha keluar dari kamar mereka dan menangis. Mama Rosa yang melihat Ayasha menangis mengikutinya dan bertanya padanya.
" Ayasha!"
Tanpa aba-aba Ayasha langsung memeluk mamanya dan menangis.
" Mama, ternyat mencintai yang bukan milik kita itu salah dan membuat kita sakit."
" Sayang, kamu yang sabar ya."
" Mama sekarang Aya harus bagaimana dan anak ini?"
" Mama sendiri juga bingung karena apa yang kamu lakukan itu salah dan Papamu pasti dia akan membela Melisa putri kandungnya sedangkan dia akan menyalahkan kamu." Rosa menangis memeluk putrinya anak kandung Baskoro.
Baskoro adalah lelaki yang menjadi selingkahannya dan dia adalah suami dari Arini Hadinata yang dulu meninggalkannya.
" Ma, bantu Aya mendapatkan Mas Roy!"
" Mama tidak bisa Nak, maaf!" melepas pelukan Mamanya.
Rosa meninggalkan Ayasha sendirian. Dia menangis menuju taman belakang rumahnya untuk membuang kesedihan dan kebingungannya.
( Baik jika mama tidak bisa membantuku aku akan merebut Mas Roy dari Kak Melisa dengan caraku.) tersenyum penuh arti.
**Terima kasih dan Happy Reading!
__ADS_1
Jangan lupa dukung terus karya ini dengan like dan komentarnya....
Salam sehat selalu guys💖**