
Rendra terkejut ternyata pemilik Dirgantama Group adalah Roy.
"Roy, jadi kamu pemilik Dirgantama Group?" tanya Rendra.
"Iya Tuan Rendra dan kita akan melakukan kerjasama sesaui yang telah kita sepakati." ucap Roy.
"Baiklah, saya akan bersikap profesional dan tidak akan membawa masalah pribadi dengan urusan pekerjaan." Rendra dengan santainya menanggapi Roy.
Terlihat senyum licik di wajah Roy. Dia akan mencari segala cara untuk merobohkan Hadinata Group.
"Ayu, kamu sudah persiapkan semuanya?" tanya Rendra berbisik pada sekertarisnya.
"Sudah Bos dan kita tinggal menjalankan rencannya." jawab Ayu.
(Rendra, aku yakin kali ini kamu akan masuk perangkapku dan kamu perlahan akan hancur.) Roy mengepalkan tangannya.
"Tuan Rendra, maaf saya hanya mewakili Dirgantama Group dan silahkan dibaca dulu jika setuju silahkan tanda tangan namun jika tidak setuju silahkan batalkan." Ayu memberikan kertas yang berisi surat pernyataan.
Rendra membaca dengan teliti karena dia sudah menaruh curiga pada Ayu dan Roy.
Budi membisikkan sesuatu pada Rendra jika minuman didepannya sudah diberi minuman obat perangsang untuk menjebak Rendra dan Ayu.
Roy sengaja main belakang untuk menghancurkan reputasinya.
(Baiklah Roy kita main cantik dan kamu sendiri yang akan hancur!) Rendra tersenyum pada Roy.
Rendra meminum jus alpukat yang ada didepannya dan memang benar apa yang Budi bilang. Dia akan merasa panas disekujur tubuhnya. Awalnya Roy merasa senang karena reaksi obat itu begitu cepat tapi semua rencana itu gagal karena Budi membawa Rendra masuk ke dalam kamar 607 lalu meminta Ayu untuk masuk ke kamar 507.
Padahal di kamar 507, Budi sudah menyediakan gigolo untuk memuaskan Ayu.
Ayu juga bodoh dia langsung memasang kamera dan betapa terkejutnya saat lampu dihidupkan ternyata lelaki yang akan menjamahnya bukan Rendra melainkan seorang gigolo kelas kakap.
"Apaaa....siapa kamu?" tanya Ayu gemetaran.
"Loh bukannya kamu yang menginginkan?" tanya Gigolo itu.
"Tidak aku tidak akan memberikan kesucianku buat laki-laki macam kamu!" Ayu langsung berdiri namun lelaki itu menarik tangan Ayu.
"Kamu masih suci? itu yang aku mau!" Dengan seringai mengerikan Gigolo bisa mengungkung wajah Ayu.
Ayu mencoba berontak namun tenaganya kalah kuat dan akhirnya dia mempunyai inisiatif untuk menendang bagian paha lelaki itu hingga burung yang sudah menegang kesakitan.
Ayu langsung berlari keluar dan dia minta tolong. Rendra dan Budi yang masih di situ merasa kasihan dengan Ayu dan akhirnya mereka menolongnya.
"Kenapa lari, bukannya kamu pingin tidur dengan Tuan Rendra?" tanya Budi.
"Agh..sial kamu menjebakku?" tanya Ayu dengan nada marah.
"Bukannya kamu yang menjebak Tuan Rendra?" Budi bertanya balik.
__ADS_1
Ayu langsung meminta maaf dan mengakui kesalahannya.
Sementara itu, Roy yang memperhatikan dari jauh marah dengan kegagalannya menjebak Rendra dan Ayu.
"Sial...aku gagal!" Roy marah dan dia mengepalkan tangannya.
Roy pergi meninggalkan Cafe Biru dengan perasaan kecewa karena rencana yang sudah disusun rapi gagal.
Sedangkan Rendra akan meminta Ayu untuk menjadi mata-mata di Dirgantama Group. Jika dia melanggar keluarga Ayu yang jadi sasarannya.
Rendra lalu tersenyum menang setelah Ayu dapat dia kendalikan.
(Roy, kau terlalu bodoh jika melawan Rendra Hadinata.) batin Rendra sambil tersenyum.
"Bos, mau ke Rumah Sakit sekalian?" tanya Budi.
"Aku akan ke Rumah Sakit kasihan mama menunggu Melisa dari kemaren sendirian." ucap Rendra
Budi langsung mengantar Bosnya ke Rumah Sakit menemui Melisa.
Sesampai di ruangan Melisa dia melihat mamanya sedang asyik mengobrol dengan Melisa.
"Mama...!" Rendra langsung mencium tangan Arini.
"Ini mas Rendra?" tanya Melisa.
"Sayang, ini suami kamu!" jawab Arini.
"Tapi kenapa diingatanku, suami aku namanya Roy ya!" ucap Melisa.
"Roy adalah mantan suami kamu dan sekarang suamimu itu aku!" jawab Rendra dengan suara sedikit meninggi.
"Sayang kamu yang sabar, Melisa masih dalam proses penyembuhan." Arini menasehati.
"Iya Ma, tapi aku tak rela jika dalam ingatan dia itu Roy." ucap Rendra.
"Tapi butuh waktu untuk mengembalikan ingatan Melisa, sayang!" Arini menasehati Rendra.
Rendra hanya diam mencerna setiap ucapan mamanya. Dia tidak boleh bertindak gegabah agar Melisa tidak membencinya.
Rendra langsung mendekati Melisa dan memeluknya. Meskipun Melisa masih bingung tapi dia berusaha tetap tersenyum.
"Melisa, aku mencintaimu dan aku janji akan membantu memulihkan ingatnmu!" ucap Rendra.
"Mas Rendra, aku belum bisa ingat apapun! maafkan aku ya!" ucap Melisa.
Tiba-tiba Dokter Rangga masuk dan memeriksa keadaan Melisa. Dokter sudah mengijinkan Melisa untuk di rawat di rumahnya agar ingatannya cepat pulih.
Arini membantu Melisa untuk bersiap kembali ke mansion. Setelah Rendra selesai mengurus administrasi, Baby A juga diantar oleh perawat pada Melisa.
__ADS_1
"Ini anak siapa?" tanya Melisa bingung.
"Melisa, ini anak kamu dan Rendra." jawab Arini.
"Melisa hanya tersenyum dan memandang Baby A yang digendong Arini.
"Oh iya di rumah Albert sudah menunggumu dan dia sangat berharap bisa bermain dengan adiknya." Rendra mencoba memberi tahu Melisa.
"Albert?" tanya Melisa.
"Benar sayang, dia anak pertama kita sekarang sudah kelas 2 SD." jawab Rendra memberi tahu.
Namun Melisa juga tidak memberikan respon apapun dan dia takut jika Albert akan kecewa dengan Melisa. Tapi bagaimanapun juga Rendra harus memberi pengertian pada Albert agar dia tidak sedih.
Sesampai di Mansion, Melisa sangat takjub dengan rumah yang begitu besar dan mewah seperti sebuah istana.
"Mas, ini rumah atau istana?" tanya Melisa.
"Sayang, ini rumah keluarga kita." jawab Rendra.
Melisa mencoba mengingat semuanya namun ternyata sangat sulit.
"Awww....awww....sakit...kepalaku sakit!" Melisa merasakan kepalanya sakit.
Rendra panik langsung mempobong Melisa dan membawanya ke kamarnya.
Rendra langsung meletakkan tubuh Melisa diatas kasur dan dia langsung mengambilkan air hangat agar badannya lebih segar.
"Minum ini sayang!" Segelas air putih hangat untuk Melisa.
"Mas, rumah sebesar ini apakah milik kamu?" tanya Melisa.
"Sayang, ini rumah kita! Tempat kita akan menjalani hidup sampai tua bersama anak-anak kita." Rendra menjelaskan.
"Tapi yang aku ingat, suami aku itu mas Roy...!" jawab Melisa.
"Melisa, kamu dan Roy sudah bercerai!" Rendra kembali mengingatkan.
"Aku masih istrinya mas Roy!" Melisa tetap kekeh mengakui Roy adalah suaminya.
Melisa berlari keluar dari kamarnya ingin mencari Roy.
"Mas Roy...kenapa kamu gak datang menjemputku? aku merindukanmu!" Melisa menuruni tangga dengan sedikit tergesa.
Namun tiba-tiba terdengar teriakan Bi Narti yang melihat Nyonyanya jatuh terbentur tiang di dekat tangga.
Melisa pingsan dan Bi Narti menjerit.
"Tuan tolong...nyonya jatuh!" teriak Bi Narti.
__ADS_1
Rendra yang mendengar itu langsung turun ke bawah dan membopong Melisa di sofa. Arini dan Rico juga terlihat panik dengan teriakan Bi Narti.
Happy Reading....