
Di ruang bawah tanah itu, anak buah Budi menyiksa Romi.
"Maaf tuan Romi, kami hanya menjalankan perintah!" ucap salah satu anak buah Rendra.
"Ingat suatu saat aku menjadi tuanmu kalian aki pecat. "ucap Romi.
Budi mendekati Pak Romi, dia meminta maaf karena hanya menjalankan tugas dari Rendra. Budi yang tidak tahu permasalahannya hanya menjalankan perintah Rendra. Tubuh Romi sudah babak belur, dia hanya bisa menyesali perbuatannya. Namun karena harta dia bisa berubah nenjadi manusia yang tamak.
"Pak Romi, sebelumnya aku sangat menghormatimu dan aku juga segan terhadapmu namun sekarang semua sudah hilang." ucap Budi.
"Budi, kamu yang bodoh!" umpat Romi
"Kenapa saya bodoh?" tanya Budi.
"Mereka keluarga kaya dan harusnya kamu juga menikmati hartanya sepertiku." bujuk Romi.
"Aku tidak akan berkhianat sepertimu karena mereka terlalu baik padaku dan kaluargaku." jawab Budi.
"Bodoh! hahahha kamu memang bodoh Budi!" Romi menertawakan asisten keluarga Hadinata.
"Kamu yang bodoh tuan Romi, sudah di kasih enak malah berkhianat!"
" Aku memang bodoh tapi aku sudah menikmati harta mereka. Rumahku besar, keluargaku bahagia!" Romi tertawa riang.
"Maksud kamu?" Budi penasaran.
"Kamu tahu, anak dan istriku hidup bergelimang harta sedangkan aku disini bisa bersenang-senang dengan banyak wanita. haha...hah..." Romi tertawa
Budi kaget dan heran ternyata asisten kepercayaan Hadinata tidak sebaik yang dia kira sebelumnya. Kepolosan dan kebaikannya ternyata palsu. Pernikahan dengan Nyonya Arini juga palsu karena ternyata dia mempunyai anak dan istri.
Romi melakukan semua ini hanya ingin anak dan istrinya bahagia.
Tiba-tiba Rendra datang dan dia membawa cambuk. Dia arahkan cambuk ke tubuh Romi.
"Kamu papaku tapi hanya papa tiri, kamu orang kepercayaan keluargaku tapi juga seorang pengkhianat. Semua ucapanmu sudah aku rekam dan kamu tidak akan bisa mengelak lagi dihadapan mama dan Kakek." ucap Rendra dengan tatapan tajam ke arah Romi.
Rendra kembali berkata, "Dan untuk keluargamu yang hidup bergelimang harta aku tidak akan mengambilnya sebagai imbalan kerja kerasmu selama ini di keluarga Hadinata." Rendra tersenyum sengit pada Romi.
"Rendra, kamu hanya anak pungut yang dulu dibuang oleh keluargamu dan sekarang kamu berani padaku!" Romi menatap tajam ke arah Rendra.
"Aku tidak peduli dengan masa laluku yang jelas aku seorang Putra Konglomerat Jaya Hadinata." Rendra berbicara dengan nada sombongnya.
"Romi...Romi....pengkhianat sepertimu tidak pantas di pelihara dan ingat aku tidak akan lagi menganggapmu seorang ayah karena kamu tahu ayah kandungku masih ada." ucap Rendra.
"Tapi kamu tidak akan bisa memisahkanku dengan mamamu karena mamamu sudah terlanjur cinta mati padaku...ha...ha...ha...!" Romi tertawa ye
terbahak.
__ADS_1
"Budi...dan kalian...siksa dia!" Rendra meninggalkan Romi dia akan menemui Kakek Hadinata dan Arini.
Arini merasa khawatir karena suaminya sudah dua hari tidak pulang. Dia hanya mondar-mandir menunggu suaminya kembali.
Rendra yang melihat mamanya gelisah mendekati dan memeluknya.
"Mama...mama yang sabar ya!" Rendra mencoba menenangkan Arini.
"Rendra, papa kamu kemana?" tanya Arini sambil menangis.
"Mama, mungkin papa akan segera kembali karena dia pamitnya ada urusan sebentar." jawab Rendra bohong.
Rendra lalu meminta ijin mamanya untuk menemui Kakek Hadinata. Dia akan memberi tahu kakeknya pengkhianatan Romi. Romi orang kepercayaan keluarga Hadinata yang sudah mengabdi selama 25 tahun.
"Masuk Rendra!" perintah Hadinata.
"Kek...!" Rendra langsung menyalami tangan kakeknya.
"Kamu hebat cucuku!" Hadinata memberikan ucapan selamat pada Rendra karena berhasil memenangkan tender dengan perusahaan terbesar se Asia.
"Kek, boleh Rendra bicara!" Rendra mendekati kakek Hadinata.
"Silahkan duduk! kita bicara di sofa."
Tubuh yang sudah mulai renta itu berjalan ke arah sofa di ruang kerjanya. Meskipun Hadinata sudah pensiun tapi dia masih ikut mengendalikan dan mengawasi perusahaan dari kediamannya.
"Kek, ini masalah Romi!"
"Maksud kamu papamu?" tanya Hadinata.
Rendra mengangguk dan dia kemudian menceritakan pada Hadinata.
"Maksud kamu dia berkhianat pada keluarga kita?" Kakek Hadinata terlihat sangat kaget.
"Iya Kek, sekarang lihatlah di file rekaman CCTV yang sudah aku kirim di email kakek!" Rendra menjelaskan.
Hadinata berjalan ke arah laptop di mejanya. Dia kemudian memutar file yang dikirim Rendra di email pribadinya.
Hadinata menggebrak meja di depannya sehingga Rendra melonjak kaget.
"Sekarang juga, antar Kakek menemui manusia laknat itu!" perintah Kakek Hadinata.
"Baik, Kek!" Rendra mengantar Kakek ke ruang bawah tanah lewat lift khusus dari ruangannya.
Arini masuk ke ruang kerja ayahnya. Tapi tidak ada orang disana dan dia melihat laptop ayahnya terbuka dan dia mencoba membuka isi laptop ayahnya.
Betapa terkejutnya Arini ketika melihat suaminya disekap di ruang bawah tanah. Lalu dia memutar kembali video itu dan mendengarkan ucapan Romi.
__ADS_1
"Mas Romi, kamu jahat!" Arini menangis.
Arini langsung menyusul ayah dan putranya ke ruangan bawah tanah. Setelah sampai, betapa terkejutnya dia ketika melihat suaminya sudah dalam keadaan babak belur lemah tak berdaya. Arini hanya menyaksikan dari jauh ketika suaminya di hakimi oleh ayah dan putranya.
Rendra dan Kakeknya langsung menghampiri Romi yang sudah babak belur. Hadinata yang melihat menantunya dalam kondisi mengenaskan tidak sedikitpun merasa iba.
"Romi...pengkhianat kamu! pembohong!" Hadianata memukul Romi.
"Ayah...!" Romi menatap iba ke arah Hadinata.
"Aku mempercayakan keluargaku padamu tapi kamu telah mengkhianatinya, aku percayakan putriku padamu kamu menyakitinya!" satu pukulan kembali melayang di kepala Romi.
"Ayah...maafkan aku!" Romi gemetar dan tak berdaya.
"Tidak ada ampun bagi seorang pengkhianat!" Hadinata menatap tajam ke arah Romi.
Romi tidak peduli jika dia sudah diusir dari keluarga Hadinata. Romi senang karena dia akan kembali pada anak dan istrinya yang selama ini dia sembunyikan.
"Budi...!" Hadinata memanggil asistennya
"Siap Bos!" Budi memberi hormat.
"Bekukan semua kartu atas nama Budi dan kemudian belikan sepasang pakaian di pinggir jalan.
"Tuan, jangan karena anak dan istriku akan kebingungan."ucap Romi.
"Aku tidak peduli karena itu bukan urusanku!" jawab Hadinata.
"Dan ingat papa Romi yang tercinta mulai hari ini anda harus bercerai dengan mama Arini!" ucap Rendra lantang.
"Tidak...mama tidak mau berpisah dengan Mas Romi!" Arini datang sambil menangis.
"Mama...lelaki itu lelaki bejat!"jawab Rendra.
"Aku benci Mas Romi dan tapi aku sudah terlanjur mencintainya." Arini menangis menghampiri suaminya.
"Ma...tapi_!" Arini mendekati suaminya tanpa menghiraukan Rendra yang memanggilnya.
Arini merasa iba dengan kondisi suaminya, dia kemudian memeluk Romi.
"Mas...!" Arini menatap wajah suaminya yang sudah lemah tak berdaya.
"Arini...!" Romi membuka matanya.
"Mas, aku mencintaimu kenapa kamu nekad berbuat seperti itu?" tanya Arini.
"Aku melakukan semua ini karena anak dan istriku!" Romi jujur pada Arini.
__ADS_1
"Apa...?" jadi kamu sudah menikah.