Putri Monika

Putri Monika
17


__ADS_3

"Apakah kau sudah punya kekasih?" Tanya Albert.


Setelah beberapa detik terdiam, maka Monika langsung menggelengkan kepalanya, "belum," jawab Monika


💞💞💞


Deg!


Deg!


Deg!


Jantung perempuan itu berdegup amat kencang ketika dia melihat sebuah senyum tipis terpatri di bibir Albert setelah mendengar jawabannya.


Maka, Monica tidak bisa menahan diri untuk bertanya, katanya, "itu, Kenapa dokter menanyakannya?"


Pertanyaan dari Monica langsung membuat senyum tipis di bibir Albert kini menghilang dengan pria itu kemudian berkata, "Apa kau pernah berpikir untuk memiliki seorang kekasih yang lebih tua darimu?"

__ADS_1


Pertanyaan itu langsung dijawab anggukan kepala Monika dan tanpa ragu-ragu, perempuan itu cepat-cepat berkata, "ya, Aku ingin pria yang dewasa, yang lebih dewasa dariku!"


"Benarkah?" Tanya Albert kembali dijawab anggukan kepala Monika.


"Yang sudah menikah pun, aku tidak masalah," ucap Monica yang saat itu benar-benar sudah melupakan tentang apa yang ada di pikirannya bahwa dia tidak mau berbagi kasih dengan perempuan lain.


Tetapi sekarang, dia malah berkata seperti itu di depan Albert bahwa dia tidak masalah jika Albert telah memiliki seorang istri maupun anak, dia masih tetap ingin bersama-sama dengan pria itu, pangerannya yang sudah membuatnya bertahan hidup selama bertahun-tahun lamanya.


Albert kembali mengukir sebuah senyum tipis di wajahnya, sembari berkata, "Hm,, Kalau begitu, bagaimana kalau--"


Tok tok tok...


"Ahh, Anda ada tamu," ucap perempuan yang masuk ke dalam ruangan Albert dan kini Dia merasa bahwa dia tidak perlu untuk melanjutkan langkahnya.


"Tidak apa, kami sudah selesai berbicara," ucap Albert langsung membuat Monica berdiri lalu dia berpamitan pada kedua orang itu dan meninggalkan ruang kerja Albert.


Maka, sang perempuan yang masuk ke dalam ruangan Albert langsung duduk di depan Albert sembari meletakkan beberapa dokumen.

__ADS_1


Namun, entah kenapa perempuan itu merasa bahwa suasana yang tadi lebih hangat ketika ada Monica di tempat itu kini berubah menjadi sangat buruk lagi, sebab Dia melihat bahwa raut wajah pria di depannya langsung berubah menjadi sangat muram dan menegangkan setelah pintu ditutup oleh Monica.


"Apakah itu laporanmu?" Tanya Albert dengan suara yang begitu berat.


"Iya, tapi Pak, masih ada satu berkas yang tidak lengkap itu karena saya masih menunggu persetujuan dari--"


"Serahkan saat berkasnya telah lengkap," ucap Albert sembari berdiri meninggalkan perempuan itu sebagai pertanda bahwa sudah tidak ada lagi yang perlu mereka bicarakan.


Hal itu membuat Sang Perempuan merasa kikuk sehingga dia kemudian mengambil berkas yang ada di atas meja dan dengan suasana yang begitu tegang dia berpamit pada Albert sebelum menutup pintu untuk meninggalkan ruangan pria itu.


Sedangkan Albert yang ditinggalkan, pria itu duduk di meja kerjanya lalu tersenyum mengingat percakapannya dengan Monika.


'Kenapa dia bilang dia menyukai pria yang bahkan sudah beristri? Lucu sekali,' ucap Albert dalam hati sembari mengulurkan tangannya memainkan penanya.


Pria itu terus terdiam di kursinya sembari tersenyum-senyum memikirkan percakapannya dengan Monica dan memikirkan juga pertemuan pertamanya dengan perempuan itu.


"Ahh,, kenapa aku berkata seperti itu ketika baru pertama kali bertemu dengannya?" Ucap Albert yang kini menyesali kelakuannya pada hari di mana dia berbicara dengan nada marah pada Monika.

__ADS_1


Karena sekarang ia merasa bahwa Hal itu membuat imagenya menjadi rusak, maka pria itu pun kemudian mengambil ponselnya lalu dia menghubungi seseorang untuk membantunya melakukan sesuatu.


__ADS_2