
Maaf atas ketidaknyamanan nya yaa. BAB sebelumnya udh otor revisi ya... boleh baca ulang sebelum lanjut baca bab ini.
💌💌💌
Pada keesokan paginya Monica, bersiap-siap untuk berangkat lalu dia pun menatap ke arah burung beonya, "kau tidak mau pergi?" Tanya Monica yang melihat burung beo tersebut, sedari bangunnya terus bermalas-malasan di tempat tidur.
Burung beo itu dengan tidak semangat menggelengkan kepalanya, "pangeran sudah tidak mengingatku lagi, jadi aku sedih setiap kali melihatnya dan dia tidak mengingatku. Lagi pula, kalau aku pergi bersama kalian, aku akan diabaikan jadi, lebih baik aku tinggal di rumah," jawab burung beo itu sembari memalingkan wajahnya dari Monica dan menyembunyikan wajahnya di balik sayapnya.
Monica yang mendengarkan itu hanya tersenyum sembari memakai sepatunya.
Dia tahu perasaan burung beo itu, tetapi dia juga tidak bisa melakukan apa-apa untuk burung beo itu sehingga dia hanya membiarkannya saja.
Setelah memakai sepatu, Monica pun membuka pintu apartemen, "Aku pergi dulu, hati-hati lah di rumah," kata Monica tanpa dijawab oleh burung beo.
Setelah turun dari apartemennya, Monica yang tiba di lahan parkir sudah melihat mobil dokter Albert yang baru saja tiba, pria itu memarkirkan mobilnya sebelum menghampiri Monica yang berjalan ke arahnya sembari membawa dua tas besar.
__ADS_1
"Kenapa kau tidak menungguku saja di atas?" Tanya Albert yang merasa bahwa perempuan itu mungkin kelelahan membawa tas besar itu turun dari apartemennya.
"Jangan khawatir, aku baik-baik saja," jawab Monica sembari mengikuti Albert yang sudah berjalan mendahuluinya membawa tas miliknya ke bagasi mobil.
Pria itu meletakkan tasnya dengan hati-hati sebelum menutup bagasi mobilnya dan membukakan pintu mobil untuk Monica.
"Terima kasih," Ucap Monica Setelah dia duduk di dalam mobil.
"Sama-sama sayang," kata dokter Albert sembari menutup pintu mobil dengan hati-hati lalu pria itu pun berputar untuk duduk di kursi kemudi.
"Sebelum pergi, Apakah kau masih menginginkan sesuatu? Misalnya singgah membeli cemilan atau apapun itu," ucap Albert yang saat itu sedang melihat sebuah supermarket.
"Aku sudah membawa bekal untuk kita makan di sana, tapi kalau mau bikin stek atau hal-hal lainnya, kita perlu membeli bahan-bahannya," Ucap Monica segera diangguki oleh Albert hingga pria itu membelokkan mobilnya ke dalam supermarket.
Begitu memasuki supermarket, Albert langsung mengambil sebuah troli dan berjalan bersama-sama dengan Monica untuk melihat-lihat Apa yang perlu mereka bawa ke puncak.
Setelah mendapatkan beberapa barang, Monica menghentikan langkahnya ketika dia melihat Dira bersama-sama dengan Robin juga sedang berbelanja di tempat itu.
__ADS_1
"Akan enak kalau kita membakar jagung di puncak," ucap Dira pada Robin sembari mengambil beberapa buah jagung.
"Ada apa?" Tanya Albert sembari menatap Monica saat ia sudah cukup lama menunggu, namun Monica tidak bergerak sedikitpun dari tempat perempuan itu berdiri.
"Ahh,, tidak apa-apa, Ayo kita lanjut berbelanja," Ucap Monica segera berjalan ke arah lain, Sebab Dia tidak ingin bertemu dengan Dira dan pria bernama Robin itu.
Albert pun tidak merasakan kecurigaan apapun, dia mengikuti perempuan itu sampai mereka selesai berbelanja lalu meninggalkan supermarket.
Saat berada dalam mobil yang melaju menuju puncak, Monica kembali mengingat saat ia melihat Robin bersama-sama dengan Dira.
'Perempuan itu bilang bahwa mereka akan menikmati jagung bakar di puncak, kalau begitu jangan-jangan sekarang juga mereka sedang dalam perjalanan ke sana?' Ucap Monica dalam hati yang merasa cemas bahwa kedua orang itu mungkin akan melakukan sesuatu yang buruk pada mereka jika mengetahui bahwa mereka juga berada di puncak.
Albert yang menatap Monica terus melamun selama beberapa waktu perjalanan pun tidak tahan untuk bertanya pada perempuan itu, katanya, "Apakah ada sesuatu yang kau pikirkan?"
Pertanyaan Albert langsung menarik Monica dari lamunannya hingga perempuan itu pun menatap Albert, "ahh,, itu,, aku hanya memikirkan kondisi kesehatan wakil presiden, karena aku sudah membacanya sedikit dan ada sedikit keadaan tentang pria itu yang cukup parah," jawab Monica yang tidak mau membuat Albert khawatir sehingga dia pun memilih untuk berbohong.
"Ahh,, ya, aku juga membacanya, Tapi sebaiknya kita diskusikan ini saat nanti kita ada di puncak. Kalau di jalan seperti ini, aku bisa tidak fokus jika harus membahas masalah rumah sakit," kata Albert segera diangguki oleh Monica Sebab Dia pun tidak mau membahas masalah itu.
__ADS_1