
"Tolong!! Tolong!!!"
"Tolong ayahku lebih dulu, dia mengalami kecelakaan!!"
"Ahh!! Sakit!!!"
"Bawa obatnya kemari!!"
"Dimana perbannya?!!"
Keadaan di UGD sangat sibuk karena banyaknya pasien yang ditangani pada hari itu hingga membuat para tenaga medis yang ada di sana kewalahan dan Sejak pagi mereka belum pernah istirahat.
Monica yang ada di sana berjalan ke sana kemari membawakan barang-barang yang diinginkan oleh para perawat dan dokter untuk menangani setiap pasien yang ada di sana.
Kakinya sudah terasa begitu panas dan sangat ingin diistirahatkan, tetapi para pasien masih terus berdatangan hingga membuatnya tidak memiliki waktu untuk duduk meski hanya 30 detik saja.
__ADS_1
"Ini dok," ucap Monica menyerahkan alat-alat medis pada seorang dokter yang saat itu tengah menjahit luka seorang pasien yang baru saja masuk ke UGD.
Baru saja selesai menyerahkannya, dua orang pasien telah dibawa lagi dari luar dengan luka yang sangat parah hingga membuat semua orang semakin kewalahan.
Dan akhirnya, setelah 7 jam penuh bekerja tanpa makan, Monika kini berganti shift dengan petugas medis lainnya lalu perempuan itu cepat-cepat pergi ke kantin rumah sakit yang terletak di lantai 2.
Begitu selesai memesan makanan dan duduk di kursi, perempuan itu dengan lahap memakan makanannya tanpa perduli lagi apakah Dia terlihat baik di mata orang lain.
Setelah merasa bahwa laparnya telah diganti dengan rasa kenyangannya, maka perempuan itu akhirnya bisa duduk dengan tenang lalu dia melihat sekitarnya di mana ada banyak pegawai dan juga pasien yang makan.
"Hah,, ini benar-benar buruk, Aku tidak ingin melakukannya, tapi kalau aku tidak melakukannya, aku tidak punya uang untuk apa pun. Dan juga,, ini hari terakhirku bekerja di UGD, tetapi kenapa aku belum pernah juga bertemu dengan Albert?" Kesal Monica yang selama 7 hari itu dia bahkan tidak pernah bertemu sekalipun dengan pria itu.
Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....
Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....
__ADS_1
Tiba-tiba ponsel yang diletakkan di saku baju Monica berdering hingga perempuan itu cepat-cepat mengambil ponselnya dan melihat bahwa ternyata yang menghubunginya adalah ibu tirinya.
"Ahh,, apalagi yang diinginkan perempuan ini?" Kesal Monica yang selama 7 hari itu dia tidak pernah kembali ke rumah tetapi perempuan itu menghabiskan waktunya di apartemen yang ia sewa karena dia malas bertemu dengan ibu tirinya.
Selama 7 hari itu pun, ponselnya terus berdering dengan ibu tirinya yang bergantian dengan saudara tirinya yang menelponnya, tetapi ayah kandungnya bahkan sekalipun tidak pernah mengirim pesan padanya, apalagi meneleponnya.
Makan sama seperti hari-hari sebelumnya, Monica mereject panggilan telepon itu lalu dia kemudian meninggalkan kantin untuk pergi ke ruang istirahat demi mengistirahatkan tubuhnya yang sudah terlalu lelah.
"Itu dia!" Ucap seorang perempuan yang terdengar seperti suara yang dikenali oleh Monika hingga Dia kemudian menoleh ke belakang dan melihat bahwa saudara tirinya bersama-sama dengan ibu tirinya kini berjalan ke arahnya.
'Dasar kedua orang itu, apa yang mereka inginkan?' kesal Monica dalam hati sembari memperhatikan perempuan muda yang berjalan ke arahnya Di mana mereka perempuan itu tampak lebih tebal dari biasanya dan Monica jelas menduga bahwa hal itu dilakukan untuk menutupi bekas cakaran burung beo miliknya.
"Ada apa kalian datang ke rumah sakit?" Tanya Monica dengan nada suara yang mengandung kekesalan karena tentunya dia tidak mengharapkan kedatangan kedua orang itu.
"Anak kurang ajar, begini caramu bersikap pada orang yang lebih tua terutama ibumu sendiri?!!" Kesal Amanda pada perempuan di depannya.
__ADS_1
"Aku harus kembali bekerja, jadi cepat katakan apa yang kalian inginkan?!" Kembali ucap Monica dengan suara ketusnya tanpa memperdulikan ucapan yang baru saja keluar dari mulut Amanda.
"Di mana burung beomu?!!" Tanya Dira sembari melototi mau nikah sebab Dia belum puas setelah Apa yang dilakukan oleh burung beo yang dibawa oleh Monica ke rumah.