Putri Monika

Putri Monika
69


__ADS_3

Robin pun meletakkan dokumennya di atas meja sembari menatap Monica, "bukalah," kata Robin dengan sebuah tatapan mengejek yang tak henti-hentinya diberikan pada Monica.


💃💃💃


Monica menyepitkan matanya melihat berkas yang ada di hadapannya, tetapi perempuan itu tetap mengambil berkas itu dan membukanya.


Monica membaca satu persatu kata yang ada pada berkas itu dan mengerutkan keningnya saat ia melihat sebuah nominal uang yang dipinjam Amanda dari pria itu.


"Apa ini?" Tanya Monica sembari menatap pria di depannya.


Dia tidak mengerti mengapa hutang yang dipinjam oleh Amanda kepada pria di depannya malah diperlihatkan padanya.


Sungguh tidak ada hubungannya dengannya!!


"Heh,, apa ini? Pertanyaan macam apa itu? Kau sudah membaca berkasnya, ibumu meminjam uang senilai 150.000.000 dariku, dan bunganya ialah 20% per bulan!!! Bagaimana kau akan membayarnya? Ahh,, maksudku adalah bagaimana keluargamu bisa membayar uang itu??? Bunganya saja tidak akan bisa kalian bayar per bulan karena kalian adalah orang-orang miskin!!!" Kata Robin dengan senyum penuh kemenangan.

__ADS_1


Sementara Monica yang mendengarkan itu, dia mengambil kopinya yang ada di atas meja lalu dia menyeruputnya sampai habis.


"Ahh,, mereka bisa membayarnya atau tidak, itu tidak penting bagiku!! Kalau kau mau membicarakan masalah hutang mereka, Maka bicarakanlah dengan mereka, karena mereka tidak ada hubungannya denganku!!!" Kata Monica sembari berdiri dan hendak pergi dari sana ketika tangannya dicekal oleh Robin.


Burung beo yang melihat pria mesum itu berani memegang tuan putrinya segera terbang ke arah tangan pria itu dan mencakar tangannya.


"Akhh!!!" Robin mengeluh kesakitan karena cakaran itu cukuplah dalam hingga mengeluarkan darah.


Monica yang melihat itu tersenyum mengejek, "Jangan pernah menyentuhku dengan tangan menjijikanmu itu. Dan lagi, jangan pernah menghubungiku untuk apapun yang berhubungan dengan orang-orang tak tahu malu itu! Ahh,, aku juga berterima kasih padamu, kau melakukan hal yang bagus dengan memberikan mereka jebakan. Lain kali aku pasti akan membalas kebaikanmu ini!!" Tegas Monica lalu perempuan itu pun berjalan pergi dengan sebuah senyum kemenangan di wajahnya.


Sementara Robin yang menatap kepergian Monica, pria itu mengerutkan keningnya, "Kenapa dia sama sekali tidak terpengaruh?" Lucu Robin dalam hati sembari mengambil berkat yang ada di atas meja lalu pria itu pun berlari keluar dari kafe menyusul Monica.


Dia benar-benar tidak percaya bahwa perempuan itu menatap mata terhadap apa yang baru saja ia perlihatkan pada perempuan itu, padahal dia sendirilah yang akan malu jika keluarganya yang terlilit hutang sampai tersebar ke mana-mana.


"Tunggu!!!" Teriak Robin pada Monica sembari mengejar perempuan itu dan menghalangi jalan Monica.

__ADS_1


Ia menggertakkan giginya saat ia melihat wajah angkuh burung beo yang berdiri di pundak Monica, tetapi dia menahan amarahnya terhadap burung beo itu dan hanya menatap Monica.


"Kau benar-benar tidak peduli dengan apa yang baru saja aku perlihatkan padamu? Ku beritahu padam, Kalau keluargamu terlilit hutang, maka rumah kalian akan ku sita, Bukankah rumah itu memiliki kenangan yang indah antara kau dan orang tuamu??" Tanya Robin sembari memperhatikan ekspresi perempuan di depannya.


Monica yang mendengarkan itu mengingat-ngingat kenangan-kenangan Monica bersama dengan ibunya di rumah tersebut, tetapi saat ini jiwa yang berada di tubuh Monica bukanlah jiwa Monica yang sesungguhnya sehingga dia tidak terlalu emosional membayangkan masalah itu.


Yang membuatnya kesal hanyalah orang-orang penghuni rumah itu dan dia berharap bisa membalaskan dendam Monica terhadap perempuan itu.


Namun ketika dia memikirkannya lagi, dia pikir bahwa dia mungkin harus menyelamatkan rumah tersebut.


"Hm,, Memangnya Apa yang bisa kau lakukan? Rumah tersebut tertulis atas nama ibuku, dan diwariskan padaku, Jadi mereka tidak akan bisa menggunakannya sebagai jaminan. Hah,, percuma aku jelaskan padamu, karena kau tidak akan mengerti jika kau terus menggunakan otakmu yang dangkal itu untuk melawanku!!!" Ucap Monica sembari melangkah meninggalkan pria di depannya.


Robin yang mendengarkan ucapan perempuan itu benar-benar kesal dan dia tidak percaya bahwa dia tidak bisa menggunakan dokumen di tangannya untuk menaklukkan perempuan itu.


"Baiklah, kita lihat saja nanti, apa yang akan terjadi!!!" Geram Robin sembari berjalan ke arah mobilnya lalu pria itu pun mengendarai mobilnya dengan perasaan yang sangat kesal.

__ADS_1


__ADS_2