Putri Monika

Putri Monika
32


__ADS_3

Setelah ibunya tenang, barulah Dira menanyakan tentang cerita ibunya hingga perempuan itu sangat terkejut ketika mendengar Ibunya sudah menceritakan perkara di rumah sakit.


"Apa?!! Bagaimana bisa dia begitu?" Ucap Dira yang tak percaya bahwa perempuan itu berani melakukan hal seperti itu, bahkan sekarang otaknya sudah bisa digunakan dengan baik.


"Hm, Ibu juga tidak mengerti, tapi sekarang percuma untuk membicarakan masalah itu dengan ayahmu karena dia sedang mabuk!" Kesal Amanda sembari melirik ke arah suaminya yang saat itu tengah teler di sofa ruang tamu.


Sementara Dira, perempuan itu menggertakan giginya dan merasa kesal bahwa perempuan itu tidak mau lagi memberi mereka uang, "Kita harus melakukan sesuatu bukan? Lagi pula sudah cukup lama dia dibesarkan oleh ibu, jadi Sudah seharusnya segala penghasilannya diberikan pada ibu. Lihat saja tingkah laku ayahnya semenjak menikah dengan Ibu, dia hanya tahu mabuk-mabukan dan tidak mengurusi putrinya sendiri, kalau bukan karena ibu, perempuan itu tidak akan sukses menjadi seorang dokter!!!" Ucap Dira dengan penuh penekanan Karena Dia benar-benar tidak rela jika perempuan itu sukses sendiri.


Sudah dari dulu dia berusaha mencegah perempuan itu melanjutkan sekolahnya, tetapi perempuan itu terus bersikeras, apalagi dana yang diberikan dari program beasiswa yang didaftarkan oleh ibunya cukup memadai sehingga perempuan itu terus melanjutkan sekolahnya.


Sehingga ketika melihat bahwa Monica telah sukses maka dia menjadi sangat kesal sebab Dia sendiri saat ini belum lulus dari kuliahnya Padahal dia sudah masuk semester 10.

__ADS_1


"Itulah yang Ibu pikirkan, bagaimana caranya supaya perempuan itu tidak membantah Ibu lagi, dan supaya dia terus memberikan semua gajinya pada ibu!!!" Ucap Amanda dengan kesal karena saat itu dia sama sekali tidak memiliki ide yang cemerlang.


"Hm,, aku rasa satu-satunya cara ialah memanfaatkan ayah, tapi kita tunggu saja sampai dia selesai mabuk baru berbicara dengannya. Bukankah selama ini Monika selalu menghormati ayahnya? Bahkan saat mabuk pun dan pria itu memberikan perintah, maka Monika akan selalu menurutinya." Ucap Dira langsung membuat Amanda menganggukkan kepalanya.


"Kau benar," ucap Amanda kini merasa lebih lega bahwa mereka sudah memiliki rencana sehingga perempuan itu berusaha tetap tenang melayani para pelanggan mereka yang datang membeli.


Sementara pada saat itu, Monika sedang mengerjakan tugasnya yaitu membuat laporan dari hasil pengamatannya terhadap para pasien bagian bangsal.


"Hei!" Ucap pria itu dengan nada suara yang kasar langsung membuat Monika menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengetik di laptopnya.


Perempuan itu mengangkat wajahnya menatap seniornya dan menunggu pria itu berbicara.

__ADS_1


"Aku dengar nanti sore kau akan memasuki ruangan operasi, pergilah pada dokter intan dan katakan padanya bahwa kau tidak bisa masuk ke ruangan operasi dan rekomendasikan aku untuk menggantikanmu!!!" Perintah Robin pada Monika.


Ucapan pria itu tidaklah pelan, sehingga banyak orang yang bersama-sama dengan mereka di ruangan itu kini menatap ke arah mereka, dan para dokter magang dan juga para perawat yang ada di sana tentu saja penasaran dengan jawaban Monika.


Sebab bagaimanapun, setelah Robin diselesai ditugaskan di UGD pria itu memasukkan surat izin untuk cuti beberapa hari karena dia kelelahan dan sebab pria itu memiliki sedikit koneksi di rumah sakit, maka dia bisa mendapatkan surat cutinya dengan mudah.


Sementara Monica yang mendengarkan ucapan Robin, perempuan itu tersenyum sembari menunggukan kepalanya, "tentu saja, kalau begitu nanti aku akan berbicara dengan dokter Intan." Jawab Monika.


Jawaban perempuan itu langsung membuat Robin tersenyum, "bagus sekali, Kau boleh menang melawan seluruh anak magang perempuan, tetapi terhadap laki-laki, kau harus tetap patuh!!!" Ucap pria itu sembari berjalan pergi meninggalkan Monica yang memandangi Robin dengan tatapan jijiknya.


'Dasar, Memangnya Apa bedanya perempuan dan laki-laki? Bahkan jika kau laki-laki dan kau adalah seniorku maka aku tidak akan mengalah padamu!!!' ucap Monica dalam hati sembari tertunduk lagi menatap layar laptopnya dengan semua anak magang yang ada di sekitar Monica kini berbisik-bisik.

__ADS_1


Mereka semua tak percaya bahwa Monika dengan semudah itu menyerahkan kesempatan emas miliknya pada orang lain.


__ADS_2