
Carlos sementara menatap putrinya yang sudah tertidur di tempat tidur ketika tiba-tiba saja ponsel milik Monica yang diletakkan di samping ranjang kini berdering.
Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....
Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....
Maka pria itu langsung mengambil ponsel putrinya dan mengangkat panggilan telepon yang berasal dari nomor baru.
"Halo?" Jawab Robin sembari berjalan ke Ara balkon kamar untuk mencegah dia mengganggu putrinya yang sedang beristirahat di dalam kamar.
"Kau dimana?" Tanya seorang perempuan dari seberang telepon yang langsung dikenali Carlos sebagai suara istri nya, Amanda.
"Aku masih ada di rumah sakit, Ada apa kau menelpon?" Tanya Carlos dengan suara ketusnya, kini dia merasa kesal pada perempuan itu setelah mengetahui bahwa perempuan itu benar-benar bersikap buruk terhadap Putri kandungnya.
"Polisi baru saja menghubungiku, dia bilang kalau Dira ditangkap dan sekarang berada di kantor polisi!! Sekarang juga, kita harus pergi ke kantor polisi, kita harus membebaskan Dira!!!" Tegas Sang Perempuan dari seberang telepon dengan suara panik dan terburu-buru berbicara.
__ADS_1
"Apa?!! Kenapa dia bisa masuk ke kantor polisi?" Tanya Carlos.
"Aku juga tidak tahu, polisi hanya mengatakan bahwa dia sudah meracuni seseorang. Jadi sekarang aku dalam perjalanan, aku akan kirimkan alamatnya dan kau juga pergilah ke sana!!!" Bentak Amanda dari seberang telepon sebelum panggilan telepon itu diakhiri secara sepihak.
Tut tut tut...
Carlos menarik ponsel putrinya dari telinganya, dan pria itu mengerutkan keningnya sembari menatap ke dalam kamar di mana Dia melihat putrinya yang terbaring di tempat tidur.
Dia teringat dengan pembicaraannya dengan polisi, bahwa Monica mengalami keracunan di warung dan di mana di warung itu ada Dira juga.
"Jangan-jangan perempuan itulah yang meracuni putriku??" Ucap Carlos kini merasa keringat dingin, lalu pria itu pun kembali masuk ke dalam kamar dan dia kebingungan harus melakukan apa.
Dia mau ke kantor polisi untuk memastikan apa yang ia pikirkan, Tetapi dia juga tidak bisa meninggalkan putrinya yang masih terbaring lemas di tempat tidur.
Bagaimanapun, tidak ada seseorang yang menjaga putrinya, sehingga dia cemas kalau putrinya terbangun dan membutuhkan sesuatu, tidak ada yang akan melayaninya.
__ADS_1
"Apa yang harus kulakukan?" Ucap Carlos yang kini panik dan kebingungan harus melakukan apa.
Beberapa saat berada dalam kebingungannya, akhirnya seorang perawat memasuki kamar tersebut.
"Saya akan menyuntikkan obat untuk pasien," ucap perawat itu.
"Ahh ya, silakan, tapi saya ada urusan di luar, dan tidak ada yang menjaga putri saya, bolehkah Anda tinggal di sini sebentar untuk menjaganya Sementara saya keluar sebentar?" Tanya Carlos pada perawat yang ada di depannya.
Sang perawat tersenyum sembari menganggukkan kepalanya lalu dia pun berkata, "Anda tenang saja, kami ada perawat khusus yang bisa menjaga ruangan jika keluarga pasien hendak keluar, ini hanya khusus untuk VVIP, jadi--"
"Kalau begitu terima kasih, saya harus pergi sekarang, tolong jaga dia dengan baik, dia adalah putri saya satu-satunya dan anak saya satu-satunya!!!" Ucap Carlos memegang tangan suster itu sebelum dia kemudian mengambil jaketnya lalu keluar dari ruangan tersebut.
Pria tersebut buru-buru keluar dari rumah sakit dan mengambil sebuah taksi untuk mengantarnya ke kantor polisi.
Dalam perjalanan ke kantor polisi, Carlos merasakan kecemasan yang luar biasa dan tangannya terus bergetar sembari menatap keluar jendela dengan perasaan yang tidak karuan.
__ADS_1