Putri Monika

Putri Monika
97


__ADS_3

Cukup lama Albert menenangkan Monica sampai perempuan itu pun kini menarik tubuhnya yang dari tadi malekat erat di tubuh Albert.


Monica mengangkat wajahnya menatap Albert dengan mata sembabnya hingga membuat Albert pun mengeluarkan tangannya mengikat sisa-sisa air mata yang ada di wajah Monica.


"Kenapa kau jadi menangis?" Tanya Albert dengan tangan pria itu memperbaiki rambut Monica yang berantakan.


"Kau,, Jadi kau sudah tahu semuanya??" Tanya Monica.


Albert menganggukkan kepalanya dengan pelan, "Tentu saja aku tahu, baru melihat wajahmu saja aku sudah tahu," ucap Albert langsung membuat Monica mengerikan keningnya.


"Kau mengenaliku hanya dengan melihat wajahku?" Tanya Monica yang kini merasa heran, Sebab di kehidupan sebelumnya Dia memiliki wajah yang lain sementara di kehidupan yang ini pun dia memiliki wajah yang lain.


Meski dia tidak tahu seperti apa wajahnya ketika dia menjadi seorang putri dari kerajaan biru, tetapi perempuan itu berpikir bahwa wajah yang saat ini ia miliki berbeda dengan wajah yang ia miliki ketika dia masih menjadi seorang putri.

__ADS_1


"Tentu saja, Ini adalah wajah yang kucari selama kehidupanku." Ucap Albert.


Monica mengerutkan keningnya, "Apa maksudmu kalau wajah ini ialah wajahku saat aku menjadi putri?" Tanya Monica.


Albert menganggukkan kepalanya, "kalau bukan, Lalu bagaimana bisa aku mengenalmu? Meski sekarang kau melapisi wajahmu dengan bedak, tetapi tetap saja aku ingat wajahmu, wajahmu yang dulu selalu tersenyum padaku dan selalu menggunakan mahkota Tuan Putri di kepalamu," kata Albert benar-benar membuat Monica tak mampu lagi berkata apa-apa, nafas perempuan itu menjadi sesak dan tak menyangka bahwa wajahnya yang sekarang ialah wajahnya yang ia miliki ketika dia menjadi seorang putri.


"Aku baru ingat,, aku hanya mengingat wajahmu saja, karena saat di mana kita masih hidup di kerajaan, belum ada cermin yang bisa membantu kita melihat wajah kita sendiri," Ucap Monica air matanya yang kembali lagi menetes di wajahnya.


"Kau ini,," Albert kembali mempererat pelukannya pada Monica dan mencium di puncak kepala perempuan itu.


"Kalau dari awal kau sudah tahu, kenapa waktu kita bertemu di sungai kau berpura-pura tidak mengenaliku? Tidak!! Bahkan selama beberapa waktu terakhir kita selalu bersama, tapi kenapa kau tidak pernah mengatakannya?" Tanya Monica yang merasa perlu mengetahui alasan Albert berpura-pura tidak mengenalinya ketika dari awal pria itu memang sudah mengenalinya.


"Waktu itu aku sangat terkejut mendengarmu langsung mengatakan namamu, jadi aku tanpa sadar membawa sikapku yang selama ini kupelihara. Tapi,, aku minta maaf, saat itu aku benar-benar gugup dan tidak bisa mengendalikan diriku dengan benar," ucap Albert yang jelas masih mengingat bagaimana ketika setelah pertemuan mereka hari itu, dia terus menggerutu pada dirinya sendiri.

__ADS_1


"Jadi begitu, tapi apakah sudah dari awal kau mengetahui wajah ini?" Tanya Monica yang jelas merasa aneh, sebab dia masuk ke tubuhnya saat ini ketika tubuh tersebut telah dewasa dan telah dihuni oleh satu jiwa yang lain.


"Apa kau lupa? Kau meninggal di usia ketika kau masuk ke dalam tubuh ini, jadi itulah sebabnya aku terlambat menemuimu karena aku menunggu usiamu," ucap Albert.


Monica mengerugkan keningnya memikirkan hal itu, Dan dia baru tersadar akan sesuatu bahwa saat ini umur cara ketika mereka masih tinggal di kerajaan Mereka adalah pasangan yang serasi karena sama-sama memiliki usia yang matang untuk menikah.


Sementara saat ini, Monica berada di usia yang matang untuk menikah tetapi Albert sudah melewati masa-masa itu karena sekarang umur pria itu sudah 30 lebih.


"Jadi begitu,,," Monica mengukir sebuah senyuman indah di wajahnya lalu dia pun memeluk Albert dengan erat.


Perempuan itu merasa sangat senang, "Sekarang aku sudah menemukan orang yang ku tuju selama ini, Aku sangat senang!!" kata Monica kembali meneteskan air mata harunya setelah penantiannya yang sangat lama dan sekarang dia akhirnya bertemu dengan pangerannya.


Perasaan bahagia meluap_luap dalam hatinya hingga gak bisa ia bendung.

__ADS_1



__ADS_2