
"Benar, Kami memang bersama-sama di dalam toilet itu, tapi tidak seperti yang dikatakannya bahwa kami sepasang kekasih dan melakukannya karena suka sama suka, dia berusaha melecehkan aku dan mengancamku untuk pindah dari rumah sakit ini!!!" Tegas Monica sembari mengepal kuat tangannya di bawah meja.
"Sialan!!!" Teriak Robin langsung berdiri untuk memukul Monica ketika Albert dengan cepat berdiri melumpuhkan pria itu dan mendorongnya ke meja.
"Beraninya kau memukul perempuan di depanku?!!" Bentak Albert membuat wajah pria itu terhimpit ke bawah meja.
"Sial!! Aku tidak berniat memukulnya, Aku hanya ingin memarahinya Sebab Dia telah menyatakan sesuatu yang tidak benar!!!" Teriak Robin sembari melototi Monica dan lanjut lagi berbicara, katanya, "katakan Yang sejujurnya sialan!!!"
Monica yang mendengarkan itu langsung berdiri, dan dia menatap dokter Albert yang juga menatapnya.
"Katakan yang sebenarnya aku pasti akan mempercayaimu," ucap dokter Albert benar-benar membuat Tuan ambara merasa kesal karena cucunya tak kunjung dilepaskan oleh dokter Albert.
__ADS_1
"Ya!! Lepaskan dulu cucuku!! Apa kamu ingin tanggung jawab kalau terjadi sesuatu pada cucuku?!!" Teriak Tuan ambara langsung membuat arbit menggerakkan giginya lalu dia pun melepaskan pria itu dan mendekati Monica.
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Dokter Albert sembari memegang kedua bahu perempuan itu hingga membuat teman dokter Albert yang ada di tempat itu juga tercengang sekali dengan cara pria itu memperlakukan Monica.
Tetapi Monica, dia dengan cepat menganggukkan kepalanya, lalu dia pun mengeluarkan ponselnya, "aku sudah berkata jujur, aku bahkan merekam pembicaraan kami di toilet," kata perempuan itu benar-benar membuat Robin membulatkan matanya menatap Monica.
Tetapi pria itu belum berbicara apapun ketika Monica langsung menekan tombol putar pada ponselnya hingga percakapan mereka dalam toilet langsung terdengar.
Dalam sekejap, ruangan itu menjadi sangat henang bahkan Tuan ambara pun tak mampu berkata apa-apa lagi untuk membela cucunya sebab bukti yang nyata telah berada di depan mata.
Robin hanya bisa tersungkur di sudut ruangan, dan pria itu tidak berani mengangkat wajahnya sebab tentunya kakeknya telah mendengar apa yang telah ia lakukan.
__ADS_1
Melihat pria di depannya, maka Albert benar-benar tidak puas tetapi ketika dia mendengar suara Monica dari belakangnya maka pria itu menjadi lebih tenang.
"Tidak perlu membalas, lagi pula dia tidak menyentuhku, hanya pergelangan tanganku saja," Ucap Monica benar-benar membuat Albert menggertakan giginya lalu pria itu menahan amarahnya dan menatap Tuan ambara.
"Saya harap anda tidak membela pria ini lagi, atau masalah ini akan saya teruskan ke penegak hukum!!! Dan saya mau, pria ini dikeluarkan dari rumah sakit ini dan di blacklist di rumah sakit ini!! Juga, dia tidak pantas menjadi dokter!!!" Tegas Albert benar-benar mengejutkan Tuan ambara dan juga Robin yang ada di sana.
Robin langsung berkata, "Itu,, ini hanya kesalahan kecil, tidak mungkin aku tidak bisa lagi menjadi dokter karena kesalahan ini, jadi--"
"Diam!" Bentak Albert, "Kalau begitu, cobalah sekali saja kau menjadi dokter maka aku akan membuatmu berakhir di penjara!!!" Tegas Albert memberikan tetapan peringatannya pada pria yang sudah meringkuk di pojok ruangan sebelum pria itu berbalik dan membawa Monica keluar dari ruangan tersebut.
Robin yang melihat itu begitu ketakutan, sehingga dia langsung bersujud di bawah kaki kakeknya, "kakek!! Kau harus mencari keadilan untukku, Aku tidak mungkin--"
__ADS_1
"Sialan!!!" Teriak Tuan ambara langsung menendang cucunya lalu pria itu pun pergi meninggalkan ruangan tersebut hingga yang tertinggal hanyalah Robin dan kepala keamanan rumah sakit.
"Hah,, tenangkan dirimu dan pikirkan apa yang sudah kau lakukan!!" Tukas kepala keamanan rumah sakit sebelum dia keluar juga meninggalkan Robin sendirian di ruangan tersebut.