Putri Monika

Putri Monika
79


__ADS_3

"Kau ini!! Berani beraninya kau mengusir kami?? Apakah kau tidak tahu dengan siapa kau berbicara?" Tanya Dira dengan kesal menata perempuan di depannya, bisa-bisanya Monica berbicara seperti itu pada seorang pewaris dari keluarga Ambara.


🍃🍃🍃


Monica yang melihat bahwa akan terjadi perdebatan jika mereka terus duduk di situ akhirnya memilih untuk mengalah.


Perempuan itu berdiri sembari menggenggam tangan dokter Albert, "kita duduk di kursi yang lain saja" Ucap Monica langsung diangguki oleh dokter Albert hingga kedua orang itu pun pergi meninggalkan Robin dan Dira.


Melihat keangkuhan kedua orang itu, Robin maupun Dira merasa begitu kesal dan Dira tidak tahan untuk menanyakan identitas Albert hingga dia pun menatap Robin sembari berkata, "pria tua yang bersama dengan Monica itu, memangnya dia siapa?"


"Dia hanya dokter kecil di rumah sakit tempat Monica magang, jadi tidak perlu memperdulikannya," ucap Robin dalam hati yang saat ini berpikir bagaimana caranya ia memberi pelajaran pada kedua orang itu.


Bagaimanapun, dia merasa kesal melihat kebahagiaan kedua orang itu bahkan surat ancaman tentang hutang keluarga perempuan itu juga tidak berlaku untuk Monica hingga membuatnya semakin kesal.


"Hanya dokter kecil, tapi kenapa lagaknya begitu songong? Sepertinya mereka perlu diberi pelajaran, bagaimana bisa dia bersikap baik itu sombong di hadapanmu?" Ucap Dira menatap Robin hingga membuat Robin menyipitkan matanya.

__ADS_1


'sepertinya perempuan ini memang tidak suka pada Monica, kalau begitu aku bisa memanfaatkan dia,' ucap Robin dalam hati.


"Memangnya kau mau memberi mereka pelajaran apa?" Tanya Robin sembari memperhatikan Dira dengan seksama dan dia berharap bahwa ide perempuan itu akan sedikit berguna untuk mereka.


"Hm,, biar kupikir dulu, tapi sambil berpikir Ayo kita pesan makanan," ucap Dira langsung dianggap oleh Robin.


"Kau mau makan apa?" Tanya Dira.


"Aku mau makan sup," kata Albert dengan tatapan yang masih melihat ke arah Monica.


Tetapi dia tetap ketakutan kalau pada akhirnya dia melakukan sesuatu pada kedua orang itu namun malah membuat dia masuk penjara apalagi sampai mendapatkan hukuman mati.


Tetapi ketika dia melihat ke arah Dira yang saat itu berbicara dengan pelayan warung tempat mereka berada, dia pun mengukir sebuah senyuman licik di wajahnya.


'Itu dia, aku harus memanfaatkan perempuan ini!!!' ucap Robin dalam hati sembari memikirkan sebuah rencana licik dalam hatinya.

__ADS_1


Pria itu mengambil sebuah obat dari dalam sakunya yang selalu ia bawa kemana-mana, itu adalah racun yang selalu ia bawa-bawa kemana-mana saat ia bepergian jauh, karena dia punya phobia terhadap tikus sehingga setiap kali dia mendatangi sebuah tempat baru, dia akan menggunakan racun itu untuk membunuh tikus jika terdapat di tempat baru yang ia temui.


Setelah beberapa saat Robin terus menatap Dira, akhirnya Dira selesai memesan makanan dan kini berjalan menghampirinya.


"Aku sudah memesan sup untuk mu," ucap Dira dengan sebuah senyuman di wajahnya sebelum perempuan itu duduk di hadapan Robin.


"Bagus, oya, Bagaimana kalau kita mengerjai mereka berdua? Kau juga tampak tidak suka dengan saudaramu itu kan?" Tanya Robin langsung membuat Dira menganggukkan kepalanya dan menatap sinis ke arah Monica dan Robin yang saat itu sedang duduk sembari berbincang-bincang.


"Dia sangat menyebalkan, dia selalu mendapat uang dari ayahku, Tapi aku tidak pernah mendapatkannya hanya karena aku anak tiri dan dia anak kandung. Padahal, akulah yang selalu berada di rumah menjaga ayahku, tapi aku seperti tidak dianggap anaknya. Bahkan ketika dia di rumah, dia tidak pernah melakukan pekerjaan rumah apapun, semuanya dibebankan padaku hingga membuatku selalu kesal setiap kali mengingat Dia yang terus membuatku dimarahi oleh ibu dan ayah tiriku di rumah." Kesal Dira yang tidak menahan-nahan rasa marahnya terhadap Monica.


"Kalau begitu, berpura-pura lah masuk ke dalam warung dan letakkan obat ini di makanan mereka. Ini adalah obat yang akan membuat seseorang mengalami sakit perut dan akan bolak-balik keluar masuk WC, meski begitu tidak terlalu berbahaya karena mereka adalah dokter jadi pasti langsung menemukan obat untuk mengatasinya," ucap Robin.


"Benarkah?" Tanya Dira dengan antusias mengambil obat dari tangan Robin.


"Tentu saja," jawab Robin dengan nada suara yang begitu meyakinkan.

__ADS_1


__ADS_2