
Setelah beberapa saat, panggilan telepon itu pun terhubung lalu dokter intan segera berkata, "Aku ingin dokter magang bernama Monica segera dikeluarkan dari rumah sakit!! Buat juga surat keputusan bahwa dia tidak layak menjadi seorang dokter!!!"
🍎🍎🍎
Ucapan dokter intan benar-benar membuat Monika melototkan matanya di tempatnya sebab tidak menyangka bahwa perempuan itu ternyata akan melaporkannya hanya karena masalah sepele.
Maka setelah perempuan itu selesai menelpon, Monica kemudian berkata, "saya pikir dokter Intan sudah salah menilai sesuatu, tapi saya tidak akan mengatakan apapun karena itu bukan hak saya."
Setelah berbicara, Monika hendak keluar ketika dokter Intan mencekal lengannya sembari berkata, "apa pun itu, semua orang di sini sudah muak melihatmu, jadi kau akan segera dikeluarkan dari tempat ini. Ahh,,, selamat juga, Selamat mencari pekerjaan lainnya selain menjadi dokter!!!"
Setelah berbicara, dokter Intan melepaskan cekalannya pada lengan Monika, hingga Monika kemudian keluar dari ruangan itu sembari menggerakkan giginya.
Baru saja Monikq menutup pintu kamar saat ia melihat dokter Albert berjalan ke arahnya hingga perempuan itu dengan cepat merubah raut wajahnya.
"Selamat siang dokter," ucap Monika sembari melemparkan sebuah senyumnya pada dokter Albert.
"Kau dari ruangan dokter Intan?" Tanya Albert.
__ADS_1
"Ah iya," jawab Monika dengan hati yang berdesir melihat pria di depannya yang tampak sangat tampan.
"Ada urusan apa kau dengan dokter Intan?" Kembali tanya Dokter Albert karena dia merasa penasaran dengan apapun yang dialami oleh perempuan itu.
Ivanka merasa enggan untuk menceritakannya, karena tentunya Jika dia mengatakan yang sebenarnya, maka itu akan merusak image-nya di depan dokter Albert.
Sebab seorang putri tidak mungkin memiliki kebiasaan berkelahi dengan para perempuan lainnya, oleh sebab itu Monika berusaha mencari sebuah alasan lain dalam hatinya.
Dan setelah beberapa saat berpikir, Monika kemudian berkata, "Itu--"
Pintu ruangan dokter Intan yang terbuka langsung menghentikan ucapan Monica dengan perempuan itu kemudian melangkah menjauh dari pintu hingga membuat dokter Intan menatap Monika dengan tetapan keselnya..
Karena bagaimanapun, dan meski dia berada dalam ruangannya, Tetapi dia bisa mendengar percakapan kedua orang itu, dan dia tidak bisa membiarkan Monika mengatakan sesuatu yang tidak tidak pada dokter Albert.
"Oh, Apa kau kemari mencariku?" Tanya Dokter Intan pada dokter Albert.
"Ah ya, Aku ingin membicarakan sesuatu," ucap dokter Albert langsung membuat Intan mempersilahkan pria itu masuk meninggalkan Monica yang kini terdiam di tempatnya.
__ADS_1
Perempuan itu memijat keningnya dengan rasa frustasi sebab Dia kebingungan harus melakukan apa supaya dia tidak jadi dikeluarkan dari rumah sakit tempat ia magang.
Maka dengan kepala yang begitu penat, perempuan itu kemudian pergi meninggalkan rumah sakit dan ketika dia berada di pintu gerbang rumah sakit, burung beonya datang menghampirinya.
"Nona! Nona!" Ucap burung beo sembari mendarat di atas pundak mau nikah dengan Monica yang hanya berjalan pergi lalu menahan sebuah taksi dan masuk ke dalam mobil.
Dalam perjalanan, Monica tidak mengatakan sepatah kata pun meski burung beo terus berusaha untuk berbicara dengan nya.
Hal itu membuat sang supir taksi menoleh ke arah perempuan yang tampak bersedi.
"Nona, burung perharaan Nona sangat ingin berbincang-bincang dengan Nona, jadi tidak seharusnya Nona mencuekinya seperti itu, sangat sulit menemukan burung peliharaan yang pengertian seperti burung beo milik nona," ucap sang sopir taksi.
"Betul! Betul!" Kata burung beo membenarkan ucapan sang supir taksi benar-benar membuat Monika akhirnya menoleh ke arah burung beo yang duduk di pangkuannya.
"Diam!" Teriak Monica pada burung beo tersebut langsung membuat burung beo akhirnya hanya bisa duduk dengan lesu di pangkuan Monika.
Sementara sang sopir taksi yang ada di sana, dia pun tidak mengatakan apapun lagi dan hanya melakukan tugasnya mengantar Monica dan burung beonya ke alamat yang telah diberitahukan padanya.
__ADS_1