
Pushhh....
Suara pintu ruang operasi yang dibuka dengan Monica yang berjalan ke dalam ruangan operasi kini berdiri diantara dua asisten dokter lainnya yang akan membantu dalam operasi usus buntu.
Baru saja Monika berdiri di samping para dokter magang itu, maka terlihat jelas para dokter magang itu langsung memperlihatkan wajah kesal mereka, apalagi dua diantara dokter itu ialah dokter magang yang kemarin diberi pelajaran oleh Monica setelah merebut buku pemberian dokter Albert.
'Hah,,, aku harus tenang,' ucap Monica dalam hati yang saat itu meski dia agak khawatir bahwa para dokter magang di situ akan mempersulitnya, namun dia berharap bahwa dia bisa menangani situasinya.
Maka setelah berdiri sekitar 2 menit, dokter Intan pun memasuki kamar operasi dengan Monica yang bersama dengan seorang dokter magang lainnya langsung membantu perempuan itu memakaikan juba operasi dan juga kaos tangannya.
Setelah itu, dokter Intan pun berjalan ke arah meja operasi lalu perempuan itu menatap ke salah satu dokter magang yang bersama-sama dengannya, "Bagaimana kondisi pasien?"
Dokter magang langsung menatap ke arah layar monitor, lalu dia membacakan keadaan pasien mulai dari tensi, denyut jantung sampai tekanan darah.
Setelah itu, dokter Intan menganggukkan kepalanya lalu dia memulai operasi sesuai dengan rekaman yang telah Ia pelajari dari kondisi pasien.
__ADS_1
Monika yang ada di sana bertugas menyiapkan alat-alat yang dibutuhkan selama operasi berlangsung.
"Gunting," ucap Intan mengarahkan tangannya langsung membuat Monika memberikan gunting pada perempuan itu.
"Pisau."
"Buka."
"Pinset."
Bahkan, Intan tidak perlu menjelaskan ukuran mana dan jenis mana yang ia perlukan, karena Monica sudah langsung mengetahuinya dan memberikannya dengan sangat tepat.
Operasi pun berjalan dengan sangat lancar hingga operasi itu selesai dan tiba saatnya melakukan penjahitan lalu Intan kemudian mengangkat wajahnya menatap salah satu dokter magang yang ada di sana yang merupakan adiknya.
"Jahit!" Perintah perempuan itu langsung diangguki oleh sang dokter magang hingga dokter magang bernama Sonia pun mengambil alih dengan Intan yang kini Hanya duduk di kursi memperhatikan cara adiknya bekerja.
__ADS_1
Perempuan itu juga sekali-kali melihat Monika, dan dia bisa melihat bahwa perempuan itu tidak memiliki sedikitpun kegugupan untuk kali pertamanya berada dalam ruangan operasi, Bahkan dia dengan tenang menyerahkan alat-alat yang dibutuhkan oleh adiknya.
Sementara Monica, dia hanya fokus pada pekerjaannya, namun beberapa saat terus memperhatikan dokter magang yang ada di hadapannya bekerja, perempuan itu mengerutkan keningnya saat ia melihat dokter magang itu melakukan kesalahan
Maka tanpa sadar Monikq melihat ke arah dokter Intan untuk menunggu perempuan itu memberikan koreksi, tetapi dokter Intan tampaknya cukup tenang dan tidak mengatakan apapun.
Barulah ketika kedua kalinya Monikq menatap ke arah dokter Intan lalu tatapan mereka bertemu hingga dokter Intan mengerutkan keningnya.
"Ada apa?" Tanya Dokter Intan.
Meski Monica tidak ingin mencari masalah di tempat itu, tetapi dia tidak ingin pasien yang mereka operasi terpengaruh jika terjadi kesalahan, maka Monica kemudian berkata "Cara menjahit lukanya tidak seharusnya seperti itu. Seharusnya jahitannya lebih rapat lagi dan memiliki jarak yang--"
"Apa katamu?!!" Kesal dokter magang menghentikan gerakannya sembari melototi Monica.
Bisa-bisanya anak yang baru pertama kali masuk ruangan operasi mengkritik cara dia bekerja?!!!
__ADS_1
Sangat tidak masuk akal!!