
"Halo?" Ucap Monica setelah ponsel tersebut didekatkan ke telinganya.
"Halo, ini aku dokter Intan," ucap seorang perempuan dari seberang telepon langsung membuat Monica yang tadinya tertidur dengan lemas kini bangun dan duduk di tempat tidur sembari mengerutkan keningnya.
🤢🤢🤢
"Ini,, Apakah ini benar-benar dokter Intan dari rumah sakit pusat xx ibukota?" Tanya Monika yang saat itu masih berada dalam keadaan bingungnya dengan perempuan yang ada di seberang telepon.
Meski suara yang dimiliki oleh perempuan itu memang sangat mirip dengan suara milik dokter Intan, tetapi masih tidak terbesit dalam pikirannya bahwa perempuan itu akan menelponnya dan berbicara dengan baik-baik.
"Hm ya, tentu saja, mulai besok kau akan menjadi salah satu asistenku, dan Besok pukul 08.00 aku ada satu operasi!" Ucap perempuan dari seberang telepon benar-benar membuat Monica tercengang di tempatnya karena tidak menyangka bahwa dia akan mendapat pemberitahuan seperti itu.
__ADS_1
Tut tut tut...
Panggilan telepon akhirnya diakhiri, sementara Monika, perempuan itu masih setia meletakkan ponselnya di dekat telinganya dengan tatapannya menatap ke arah burung beo yang saat itu juga menatap Monika dengan ekspresi bingungnya.
"Ada apa nona?" Tanya sama burung beo.
Setelah mendengar pertanyaan burung beo, barulah Monika melepaskan ponsel itu dari telinganya lalu dia menatap layar ponselnya selama beberapa saat sebelum berbalik menatap burung beo.
"Baru saja dokter Intan yang tadi marah-marah padaku menelponku dan dia bilang aku menjadi salah satu asistennya sehingga Besok aku akan masuk ruang operasi?" Ucap Monica yang tak percaya bahwa dia diizinkan masuk ke ruang operasi menjadi asisten perempuan itu ketika baru tadi siang mereka saling cekcok di ruangan perempuan tersebut.
Ponsel Monika yang diletakkan di atas meja saat dia dan burung beonya sedang makan kembali lagi berdering, maka perempuan itu cepat-cepat mengambil ponselnya dan melihat bahwa nomor saudara tirinya lah Yang menelponnya.
__ADS_1
Maka Monika hanya mematikan nada dering ponselnya lalu meletakkan ponselnya di atas meja dan lanjut lagi makan.
Tetapi setelah itu, panggilan telepon terus saja masuk hingga membuat Monica benar-benar kesal dan tidak ada pilihan lain selain melakukan pemblokiran terhadap kontak tersebut.
Apa yang dilakukan Monica langsung membuat seseorang di seberang telepon menjadi sangat marah hingga dia menggertakan giginya menatap ayah dan ibunya yang duduk di depannya.
"Dia sudah memblokir nomorku!!" Ucap Dira yang merasa begitu jijik terhadap saudara tirinya, bahwa perempuan itu berani-beraninya memblokir nomornya, padahal selama ini perempuan itu hidup bergantung pada mereka.
Sungguh perempuan yang tidak tahu terima kasih!!!
"Apa?! Perempuan itu berani sekali, dia sudah memblokir ibu dan sekarang memblokir mu, sekarang dia pasti ingin menjauh dari keluarga kita setelah dia sukses masuk bekerja di Rumah sakit umum xx ibukota!!!" Gerutu Amanda sembari berbalik menoleh ke arah suaminya yang sedang merokok di sampingnya.
__ADS_1
"Sayang, kau lihat sendiri bagaimana kelakuan anakmu, inilah yang membuatku selalu saja bertengkar dengannya dan membuatnya disiplin keras untuk bekerja di rumah, supaya dia mengerti Bagaimana cara menghargai orang lain!! Dan sekarang, dia bahkan beralih untuk memutuskan hubungan keluarga dengan kita, jadi apa yang harus kita lakukan?
"Hah,,, Aku tidak tahu harus berkata apa untuk menghadap di mendiang istrimu saat nanti upacara penghormatan kematiannya. Aku sudah ngening gagal mendidik putrinya, Sekarang putrinya bahkan tidak bisa menghargai orang yang lebih tua darinya dan tidak mengingat keluarganya, hah,,, aku sudah gagal menjadi ibunya!!!" Ucap Amanda sembari terisak memukul-mukul dadanya sendiri.