Putri Monika

Putri Monika
73


__ADS_3

"Ahh,, burung beo ku pergi berjalan-jalan, Tunggu sebentar, ini akan segera selesai," kata Monica segera memalingkan wajahnya dari Albert dan menyelesaikan setrikaannya.


🌇🌇🌇


Sementara Albert yang melihat tingkah Monica, pria itu tersenyum sembari berjalan ke arah kasur dan duduk di pinggir kasur dengan tatapan terus menatap Monica yang terlihat buru-buru menyetrika pakaiannya.


Ia mirasa gemas dengan tingkat perempuan itu, tetapi dia juga khawatir pada perempuan itu.


"Tidak perlu buru-buru," ucap Albert mengingatkan perempuan itu, sebab dia takut kalau perempuan itu mungkin akan terkena setrika yang panas jika dia tidak berhati-hati.


"Baiklah," Monica yang kebingungan harus berkata apa sebab Dia baru saja dibuat Salah tingkah oleh pria itu dan dia menyadari bahwa Albert juga sadar akan salah tingkahnya.


Setelah beberapa saat terus menyetrika, maka Monica pun menyelesaikan setrikaannya dan memberikan pakaian yang telah Ia setrika pada Albert.


"Pakai ini, aku akan membuat kamu teh hangat," kata Monica sembari berjalan ke arah pantry.


Sekali lagi, genta merasa gemas dengan tingkah malu-malu perempuan itu, tetapi dia tidak menggoda ke perempuan itu lagi dan hanya memakai pakaiannya.


Setelah selesai berpakaian, Albert kembali menghampiri Monica yang saat itu sedang mengaduk teh yang telah Ia tuangi air panas.

__ADS_1


Tanpa aba-aba, Albert memeluk Monica dari belakang sekaligus mendaratkan sebuah ciuman di pipi perempuan itu.


Aroma sabun miliknya yang kini berasal dari tubuh Albert langsung membuat Monica merasakan desiran hati yang begitu kuat dan perempuan itu tidak tahan untuk berbalik menatap Albert.


"Kau,, bisakah kau menciumku?" Tanya Monica dengan rona merah sudah memenuhi pipinya.


Sedangkan Albert yang mendengarkan permintaan perempuan itu, dia pun segera menundukkan kepalanya dan mencium bibir perempuan itu dengan dalam.


Monica yang dinikmati ciuman mereka, perempuan itu bahkan memejamkan matanya sembari berjinjit untuk menggapai pria itu agar ciuman mereka semakin dalam.


Hal itu membuat Albert tersenyum lalu dia pun mengangkat tubuh Monica dan mendudukkannya di atas meja.


"Itu,, aku tidak takut kalau itu adalah kau," jawab Monica kembali mendekatkan bibirnya ke bibir Albert dan mencium pria itu.


Bahkan tanpa bisa mengontrol kakinya, kaki Monica sudah melingkar di pinggang Albert hingga membuat Albert merasakan gejolak yang tak bisa tertahankan dalam dirinya untuk menyentuh perempuan itu.


Sembari membalas ciuman Monica, pria itu juga mengepal kuat salah satu tangannya untuk menahan diri agar tidak terlalu jauh menyentuh Monica.


Ia sangat tergoda, Tetapi dia tidak ingin menjadi pria bejat yang akan menyentuh perempuan itu sebelum waktunya.

__ADS_1


Cup cup cup....


Albert mengakhiri ciuman mereka lalu dia pun berkata, "sampai di sini saja, kalau kita meneruskannya maka aku tidak tahan untuk membawamu ke tempat tidur dan melakukan hal-hal yang buruk padamu."


Setelah berbicara, Albert pun mengambil dua cangkir teh yang telah diseduh oleh Monica dan membawanya untuk dinikmati di meja kecil yang tersedia di apartemen tersebut.


Monica yang melihat itu menghembuskan nafasnya dengan panjang dan dia memegangi dadanya yang terus berdegup amat kencang.


Setelah beberapa saat, barulah perempuan itu menyusul Albert dan duduk bersama dengan pria itu menikmati teh yang telah Ia buat.


"Bagaimana kalau besok kita jalan-jalan ke puncak?" Tiba-tiba tanya Albert langsung membuat Monica menata pria itu dengan bingung.


"Besok kita tidak libur, Jadi bagaimana cara kita pergi jalan-jalan?" Tanya Monica yang merasa bingung pada pria di depannya.


"Ah,, aku lupa memberitahumu, beberapa hari ke depan kita akan libur karena kepala Rumah sakit menginginkan kita mempelajari berkas yang diberikan oleh pria itu tentang riwayat kesehatan presiden," jawab Albert langsung membuat Monica menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu aku mau pergi!!!" Kata Monica yang begitu bersemangat untuk pergi bersama-sama dengan pria itu.




__ADS_1


__ADS_2