Putri Monika

Putri Monika
22


__ADS_3

Setelah memasuki apartemen, Monica langsung menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur, lalu perempuan itu menatap ke arah jendela yang ada di sebelah tempat tidur.


"Benar-benar menyebalkan!" Ucap Monica yang merasa begitu kesal pada dokter Intan, dia sebenarnya telah memikirkan sebuah cara untuk memberi pelajaran pada dokter itu, tetapi Monika hanya bisa menghela nafas setelah menyadari bahwa hal itu sangat keterlaluan.


"Apakah ada masalah?" Tanya sang burung beo setelah mendengarkan ucapan Monika.


Monika menatap burung beo yang sudah hinggap di atas tempat tidurnya, lalu perempuan itu berkata, "tadi aku dipanggil oleh dokter intan dan dia hendak mengeluarkan ku dari rumah sakit. Menurutmu, kalau aku memberinya pelajaran, Apakah tidak masalah kalau dia dikeluarkan dari rumah sakit?"


Di kehidupan sebelumnya, Monica pernah melakukan sesuatu dan membuat seseorang dikeluarkan dari pekerjaannya, tetapi sayang sekali satu hari setelah orang itu keluar dari pekerjaannya, orang itu langsung mati bunuh diri.


Hal itu membuat Monica merasa dilema untuk membuat perempuan itu dikeluarkan dari rumah sakit menggunakan caranya sendiri.


"Hm,, kalau begitu, tidak perlu membuatnya keluar dari rumah sakit bagaimana kalau membuatnya hanya takut saja?" Ucap burung beo.


Monika menganggukkan kepalanya dengan pelan, "Tapi kalau aku melakukan itu dan menyuruhnya untuk tidak membuat aku keluar dari rumah sakit, maka dia akan tahu bahwa aku lah pelakunya, jadi aku pasti akan memiliki kehidupan yang lebih sulit di Rumah sakit," ucap Monika.

__ADS_1


Sudah cukup sekarang dia banyak mendapat tatapan sinis dan perlakuan buruk dari dokter-dokter magang, apalagi kalau dia masih melakukan sesuatu maka pastilah kehidupannya akan semakin lebih buruk dan dia akan semakin ditindas di sana.


"Hm, apa yang Nona katakan itu memang benar, lalu apa solusi lainnya?" Ucap burung beo sembari duduk di tempat tidur dan Dia juga kebingungan memikirkan sesuatu.


Ketika mereka sedang berada dalam keadaan bingung, keduanya kemudian dikejutkan oleh nada dering ponsel Monica yang diletakkan di dalam tas.


Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....


Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....


Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....


Monica terdiam memandangi ponselnya yang terus berdering, Hal itu membuat burung beo merasa penasaran Mengapa panggilannya tidak diangkat, hingga Dia kemudian terbang di belakang menikah lalu hinggap di lengan perempuan itu untuk melihat layar ponsel Monika.


"Kenapa perempuan itu menelpon lagi?" Tanya burung beo seraya kembali ke tempat duduknya.

__ADS_1


"Dia pasti sudah sadar bahwa aku tidak mengiriminya uang," jawab Monika sembari meletakkan ponsel itu di tempat tidur.


"Ahh,, kenapa pula Nona harus mengirim uang pada orang jahat seperti dia? Biarkan saja dia!!!" Ucap burung beo yang benar-benar kesal Setelah dia mendengar cerita Bagaimana ibu tiri Monika memperlakukan Monika.


"Kau benar," jawab Monica kemudian menggerakkan jari jempolnya di atas layar ponselnya untuk memblokir nomor tersebut.


Setelah selesai, sebuah panggilan telepon dari nomor tak dikenal kembali masuk ke ponsel Monica membuat perempuan itu mengerutkan keningnya.


"Apakah perempuan ini menggunakan nomor baru untuk menghubungiku juga?" Ucap Monikq sembari menekan tombol terima pada layar ponselnya.


"Halo?" Ucap Monica setelah ponsel tersebut didekatkan ke telinganya.


"Halo, ini aku dokter Intan," ucap seorang perempuan dari seberang telepon langsung membuat Monica yang tadinya tertidur dengan lemas kini bangun dan duduk di tempat tidur sembari mengerutkan keningnya.


Bagaimana bisa dokter yang baru saja dan mengancamnya untuk dikeluarkan dari rumah sakit kini menelponnya dengan suara yang begitu lembut seperti tidak pernah terjadi pertengkaran di antara mereka??

__ADS_1


__ADS_2