
Setelah murat membalikkan tubuh mungil Aishee dengan lembut, secara refleks dia menyentuh wajah itu dengan tangan kanannya lantas dengan gerakan cepat Murat menautkan bibir mereka, begitu dalam, hangat dan mendominasi, menyesap, me..*****.
Antara sadar dan tidak aishe merasa ada yang bergerak lembut di bibirnya, terasa begitu aneh dan sangat mendominasi, seakan-akan menenggelamkan dirinya entah kemana, lalu entah apa itu, sesuatu terasa menyentuh dibawah sana.Awalnya dia fikir mimpi, tapi lama-lama terasa begitu nyata.
Seketika Aishe tersentak karena bibir nya benar-benar terasa basah dan berat, apalagi saat dibawah sana jelas teras benar-benar ada yang menyentuhnya dan itu bukan mimpi. Karena itu dia langsung menekan kesadaran dari tidurnya, mencoba membuang rasa kantuk yang masih mendominasi.
"Daddy?"
Dia mengerutkan dahinya saat tahu tahu-tahu wajah Murat berada di atas, menciumi bibinya begitu lembut, masih dengan rasa kantuk yang mendalam dia bertanya sambil mengerjapkan matanya berkali-kali.
"Sudah bangun hmm?"
Murat melepaskan ciuman di bibir nya, lantas secara perlahan mencium keningnya dengan lembut.
"Kau membangun kan adik kecil dibawah sana, posisi tidur mu cukup tidak menguntungkan"
ucap Murat tiba-tiba.
"Ya?"
__ADS_1
Aishe masih bertanya dengan perasaan bingung.
"Aku membangunkan mu berulang kali tapi tidak berhasil, Membangunkan mu dengan menyapu bibir dan... maaf menyentuh dibawah sana Ternyata efektif"
seketika wajah aishe memerah
Murat mencoba menetralisir kan perasaan nya, memaksa mode on dibawah sana untuk turun dengan segera,memaksa agar kepala nya tidak menjadi sakit Sempurna.
Dia menarik pelan nafasnya, Murat jelas bukan type laki-laki yang suka terlalu bersabar atau bahkan mau mengalah untuk urusan ber..cinta pada perempuan selama ini, tapi menghadapi aishe jelas terasa berbeda, wajah polos itu acapkali membuat dia lumpuh tidak berdaya.
"Kau tahu sayang, ada bedanya antara cinta dan nafsu. Cinta berasal dari afeksi atau rasa kasih sayang yang menyebabkan ingin terus bersama. Sementara nafsu hanya ingin melakukan hubungan seksual"
ucap Murat sambil menyentuh wajah Aishe begitu lembut.
Aishe masih mengerutkan dahi nya.
"Aku hanya takut kita bergerak lebih jauh, aku takut tidak bisa mengontrol emosi sek..sulisme ku seperti pagi ini, tidak bisa mempertanggung jawabkan ucapan ku tempo hari terhadap kamu"
Aishe mencoba menatap dalam bola mata laki-laki itu.
__ADS_1
"Karena aku hanya laki-laki biasa bukan malaikat yang sempurna aishe,aku jelas memiliki tingkat sek..suali..tas tinggi yang bisa datang secara tiba-tiba"
Seketika aishe menelan salivanya.
"Jadi sebaiknya kita menggunakan kamar secara terpisah Mulai malam ini hmm, agar tidak membuat aku kalap satu waktu"
ucap Murat sambil mengelus lembut wajah Aishe, mencium keningnya kembali lantas beranjak dari atas kasur itu secara perlahan.
Tapi secepat kilat Aishe menarik tangan Murat.
Laki-laki itu jelas mengerutkan dahinya, menatap aishe dengan perasaan bingung.
Aishe tampak mencoba Menyentuh wajah yang dipenuhi jambang dan kumis itu sedikit ragu-ragu, Kemudian secara perlahan Aishe mengelus wajah itu.
"Kita bisa melakukan nya, tapi mungkin Daddy harus melakukan nya sedikit lebih pelan dan lembut, sebab ini pertama kalinya untuk ku"
ucap aishe pelan sambil menatap dalam bola mata laki-laki yang ada dihadapannya itu.
__ADS_1
"Ya?"
Murat jelas terkejut mendengar ucapan gadis itu.