
Belle dengan cukup kepayahan membawa tubuh Bern yang besar tinggi itu menuju ke arah kasur miliknya, dibandingkan tubuhnya yang cukup kecil, menggotong Bern jelas saja menguras semua tenaga Belle.
"Om...om..?"
Belle mencoba untuk bicara pada bern, laki-laki itu mulai perlahan membuka bola matanya.
"Sebaiknya kita ke rumah sakit"
ucap Belle cepat.
Tapi dengan gerakan cepat Bern menahan tangan Belle, dia menggeleng cepat.
"Ini cukup parah"
"Kau punya kotak P3K?"
Tanya Bern sambil menahan sakit.
Belle mengangguk.
"Bantu aku mengeluarkan nya"
"Ya?"
Secepat kilat Belle mencoba melihat bagaimana luka di dada laki-laki itu, Belle jelas mengerutkanan dahinya, sebuah peluru tertanam disana menembus bahu kiri laki-laki itu, Belle fikir untung bukan dadanya, nyaris saja!.
__ADS_1
Dengan gerakan cepat Belle mencari kotak obat P3K di dalam nakasnya, mencari berbagai macam peralatan yang dibutuhkan juga menyiapkan banyak tisu dan kain untuk dia gunakan.
Belle dengan gerakan cepat membenahi posisi Bern, memberikan bantal di kepala laki-laki itu agar bersandar dengan rasa nyaman.
Dengan perlahan Belle membuka pakaian Bern, melepaskan semua atasannya agar tidak menghalanginya untuk bergerak mengobati laki-laki itu.
Saat Belle menuangkan alkohol ke luka laki-laki itulah, terdengar ringisan dari balik bibir laki-laki itu, secepat kilat Belle memberikan sebuah boneka ke arah Bern.
"Kau bisa menggigit nya untuk meredam teriakan mu"
Bern sejenak menatap wajah gadis kecil itu, kemudian dia menatap boneka macan seukuran telapak tangannya itu.
"Itu bersih, aku selalu mencucinya, higienis tuan"
Bern jelas enggan menuruti ucapan Belle, dia meletakkan kembali boneka itu ke atas kasur tepat disampingnya.
Saat Belle mulai mencoba mengeluarkan peluru dari bahunya yang tertanam cukup dalam, lagi-lagi Bern meringis, laki-laki itu memejamkan bola matanya beberapa waktu hingga terdengar suara.
Tekkk
sesuatu diletakkan Belle ke dalam sebuah wadah di hadapannya.
Bern membuka kembali bola matanya, sejenak dia terdiam saat melihat wajah gadis kecil itu berada tepat di hadapannya, mulai mengobati luka nya dengan sangat hati-hati dan telaten, Kemudian mulai membalut nya dari depan hingga ke belakang.
Bola mata Bern terus menatap wajah Belle yang tampak fokus dengan pekerjaannya, bahkan saat posisi mereka benar-benar begitu menyempit karena Belle mulai melilit kan kain kasa kedepan dan kebelakang tubuhnya, Belle yang tidak sungkan dengan gerakan seperti memeluk dirinya, jelas membuat otak Bern tidak bisa bekerja dengan sempurna, apalagi aroma tubuh Belle yang tercium begitu lembut di balik hidungnya.
__ADS_1
Seketika gelorah dibawah sana meningkat secara tiba-tiba.
Oh shit
Bern jelas mengumpat dalam hati.
Come dia masih seorang bocah, sejak kapan kau merespon seorang bocah son, jangan gila!
Bern terus mengumpat pada bagian bawah sana, dia mencoba menghilangkan pemikiran kotor nya.
"Kau tidak takut sama sekali padaku?"
seketika Bern bertanya cepat ke arah Belle setelah gadis itu selesai mengobati dirinya.
"Realita nya anak-anak akan berteriak panik ketika melihat darah, orang yang sekarat dan terluka? Bahkan kau bisa mengobati ku tanpa sebuah instruksi sama sekali?"
jelas saja Bern bingung, dia fikir gadis ini masih terlalu anak-anak untuk bersikap setenang ini.
Belle diam sejenak, lalu tersenyum.
"Aku sering melewati masa ini selama bertahun-tahun, ditempah agar tidak menangis bahkan harus bisa bersikap setenang mungkin ketika sering menghadapi situasi genting"
"Apa?"
Bern jelas saja mengerutkan dahinya, menatap bola mata indah itulah yang bicara begitu tenang penuh keyakinan.
__ADS_1