
Sejenak mereka sama-sama diam, memandangi hamparan rumput luas yang membentang indah di hadapannya mereka, tepat dihalaman belakang rumah sakit.........Jakarta itu.
Eden tampak menyesap perlahan minuman kaleng yang di berikan perempuan didamping nya itu, beberapa kali laki-laki itu menarik dan membuang kasar nafasnya.
Sang dokter perempuan tampak diam, membiarkan Eden terus berkutat dengan fikiran nya untuk beberapa waktu, sesekali dia menyesap minuman miliknya dari pipet berwarna putih itu, sempat menarik nafasnya pelan beberapa kali.
Mereka larut dalam keheningan yang cukup lama, saling sibuk dengan pemikiran masing-masing untuk beberapa waktu.
"Tidak mau coba kembali kerumah lama?"
perempuan muda itu mulai membuka suara.
Eden menggeleng pelan.
"Bibi bilang ada yang harus kamu lihat disana, cukup penting untuk menatap masa depan"
Eden menoleh saat mendengar kan ucapan dokter cantik itu, keningnya berkerut sempurna.
"Aku kesana beberapa hari yang lalu, sepertinya beberapa orang mencoba membeli rumah lama dari bibi Helen, tapi ada yang sedikit mencuriga kan menurut bibi, seorang laki-laki mencoba untuk memaksa masuk beberapa 2 hari yang lalu"
Eden terus mengerutkan dahinya.
"Aku fikir, pasti ada sesuatu didalam rumah lama yang terlewat kan oleh kamu selama bertahun-tahun ini, Kevin"
"Seseorang?"
__ADS_1
Eden bertanya cepat.
perempuan itu mengangguk pelan.
"Sudah makan siang? sebaiknya kita pergi mengambil makan siang sejenak"
Perempuan itu berusaha berdiri, tapi secepat kilat Kevin mencoba menahan tangan nya.
"Terima kasih terus setia menjaga mama ku"
Perempuan itu tampak diam.
"Sejak dulu hingga sekarang, Asha"
"Aku menepati janji ku pada mu, Kevin"
ucapnya pelan.
"Aku hanya menunggu mu menepati janji mu pada ku"
Setelah berkata begitu, Asha berjalan perlahan mencoba meninggalkan Eden, tapi sebuah tarikan lembut menghentakkan tubuhnya, sepersekian detik kemudian tiba-tiba tubuhnya masuk dan terbenam ke dalam dada bidang Eden.
"Kau benar-benar melepaskan laki-laki itu?"
Eden bertanya sambil memeluk erat tubuh Asha.
__ADS_1
Dia diam sejenak, kemudian dia mengangguk pelan.
"Sedikit lagi, tunggulah dalam 3 bulan ini, setelah itu kita akan kembali ke Itali seperti permintaan mu"
Asha tampak diam, mencoba memejamkan bola matanya dan terus tenggelam di dalam pelukan Eden.
Berapa lama mereka saling kenal? hampir 20 tahun. Berapa lama Asha menanti? hampir 10 tahun, berapa lama eden luluh? Asha tidak punya jawaban pasti. Hubungan rumit yang terlalu terjal bagi nya. Bermula karena sering mondar-mandir ke rumah sakit untuk menemui sang ayah,belajar ilmu kedokteran tiap kali pulang sekolah mengantar nya pada seorang wanita ringkih yang terbaring di kamar VVIP.
Anak laki-laki nya begitu setia hilir mudik setiap hari demi untuk mengecek kondisi sang mama. Satu hal yang membuat Asha tertarik pada Eden,laki-laki itu acapkali menangis didalam diam menepi di sebuah ruangan Khusus yang tidak berpenghuni, meskipun sikapnya begitu arogan dan kasar, Asha tahu ada sisi lembut penuh cinta yang bisa dia lihat di balik bola mata laki-laki itu.
Ketika bola mata mereka bertemu tanpa sengaja di satu malam, bisa Asha lihat ada sejumlah luka yang tercetak di balik wajahnya, laki-laki itu menyimpan beban berat yang tak seorang pun tahu betapa terluka nya hati laki-laki itu.
Lalu beberapa kali Asha melihat luka di tubuh laki-laki itu, bahkan sebuah tembakan pernah beberapa kali tertanam sempurna di punggung belakang nya.
6 tahun saling kenal dan sedikit menyapa kecuali jika Eden dalam ke adaan terluka, tiba-tiba hadir Sang adik perempuan kecilnya Belle, gadis itu acapkali mengejar langkah Asha kemanapun dia melangkah di rumah sakit, satu permintaan Eden saat Belle mulai tumbuh dewasa saat itu pada dirinya.
"Ajarkan dia cara membalut luka"
"Ajarkan dia cara mengeluarkan peluru di tubuh seseorang"
2 permintaan itu seolah adalah bentuk nyata yang memperingati diri nya jika laki-laki itu seoalah-olah selalu berbaur dengan senjata dan luka, memperingati dirinya seolah-olah jangan terlalu banyak mengharapkan dirinya, sebab dia bukan sosok orang yang yang pantas untuk Asha cintai.
Dia masih tetap setia menunggu laki-laki itu di persimpangan jalan hingga bertahun-tahun lamanya, berharap siapa tahu Tuhan berbaik hati padanya, menelan kasar salivanya tiap kali berkunjung ke apartemen Eden, melihat beberapa perempuan hilir mudik kesana, bahkan 1 perempuan terus mengekori laki-laki itu bagaikan magnet Yang terus menempel, hingga satu hari rasa lelah menyergap nya, dengan rela hati Asha fikir akan melepaskan Eden dari hatinya.
Hingga akhirnya dia memutuskan melepaskan mimpinya pada laki-laki itu, menerima perasaan laki-laki lain yang selalu setia menunggu nya, tapi bukankah urusan hati itu aneh? semakin kau menghindari nya, semakin sakit terasa, meskipun pernikahan mereka akan berlangsung tidak lama lagi, hati Asha sama sekali tidak mampu berlabuh pada pilihan ke dua nya, nyata nya Eden tetap menjadi cinta pertama nya.
__ADS_1