
Aishe diam sejenak saat handphone nya berdering, untie Selena berusaha untuk menghubungi dirinya.
Aishe berusaha menghapus air matanya, Mencoba menarik nafas sepanjang mungkin.
Bukankah terlalu kekanak-kanakan jika dia mengabaikan semua orang.
"Halo"
"Sayang, kamu dimana?"
untie Selena bicara cepat.
"Mau makan siang bersama? sekalian ada yang mau untie berikan, oleh-oleh dari Manhattan"
Suara untie selena tampak begitu tenang, berusaha menekan perasaan nya, takut jika-jika aishe menolak permintaan nya.
"Bisakah kita bertemu di lain waktu?"
Aishe bicara cepat sambil menahan gemuruh didada nya.
"Hmm baiklah"
Selena bicara cepat dari arah seberang sana, terdengar tarikan nafas nya Begitu panjang.
"Kamu dimana"
tanya Selena lagi sepelan mungkin.
"Aku ingin pulang sejenak"
"Aishe, untie.."
"Kerumah teman ku"
"Ah.. baiklah, hubungi untie ketika kamu mau bertemu dengan untie hmm"
__ADS_1
sepersekian detik kemudian panggilan dimatikan, air mata aishe kembali tumpah secara perlahan.
*********
"Akkhhhh sayang, aku sangat merindukan mu"
pekik Hanin begitu antusias saat melihat Aishe sudah berdiri tepat di depan pintu apartemen nya sore ini.
"Kenapa dengan mata mu? kamu menangis? bertengkar dengan pak bos?"
Hanin mengerutkan dahinya, memeluk Aishe secepat kilat.
"Tidak, aku hanya rindu dengan mommy dan Daddy ku"
"Oh sayang"
Hanin semakin mempererat pelukannya.
"Oke apa kau akan menginap?"
"Aku belum tahu"
jawab Aishe pelan.
Sejatinya ketika bertengkar sepasang suami istri tidak diperkenankan untuk saling menjauhi, sejatinya lagi istri tak di izinkan pergi dari rumah tanpa izin suami, tapi rasa sakit hati mendominasi, dia meragukan banyak hal, dia merasa telah di bohongi.
Aishe hanya butuh waktu berfikir, butuh waktu menenangkan diri, semua hal yang dia lewati berbulan-bulan ini terasa sangat tidak masuk akal.
Pernikahan tiba-tiba, rayuan manis sang suami, sikap baik yang berlebih dan entahlah, seolah-olah dia sedang di kasihani, seoalah-olah pernikahan mereka menjadi seperti sebuah sandiwara manis, dengan niat membodohi dirinya.
Dapatkah dia memaafkan Murat? sedangkan segala kekacauan di keluarga nya di ciptakan oleh sang suami di masa lalu.
"Masuklah"
Hanin dengan cepat menarik tangan aishe, meminta nya masuk ke dalam apartemen nya, mencoba menceritakan banyak hal kepada sang teman baik.
__ADS_1
"Sejak menikah kita sulit bertemu, aku dipindah kan ke devisi lain bersama orang lain, tapi untungnya gaji ku di naikkan oleh pak bos, bahkan aku di letakkan di devisi terbaik yang selalu aku impikan"
Celoteh Hanin dengan jutaan kebahagiaan.
"Oh Aishe kau tahu sayang, aku sangat merindukan mu"
"He em, aku juga"
Aishe hanya mengangguk pelan.
"Katakan pada ku, apakah suami mu berlaku baik pada mu? kau tahu kata teman-teman satu devisi ku, dia laki-laki yang selalu dingin kepada semua orang, bahkan dia jarang sekali tersenyum pada para karyawan nya, jika ada yang melakukan sedikit saja kesalahan, dia akan benar-benar langsung memecat mereka"
Aishe masih diam, menggigit pelan bibir bawahnya.
"Dia baik pada ku"
jawab Aishe pelan
"Itu bagus, orang yang sungguh-sungguh mencintai mu, akan bersikap baik dan lembut pada mu"
yah aku tidak tahu saat ini apakah dia benar-benar mencintai ku atau hanya mengasihani aku.
batin aishe.
"aku heran bagaimana kalian bisa bertemu?"
Aishe menelan pelan salivanya.
"Dalam ketidak sengajaan"
jawab Aishe pelan.
yah dalam ketidak sengajaan, yang mungkin memang sudah dia rencanakan.
Sepersekian detik kemudian lagi-lagi aishe memeluk erat tubuh Hanin, saat ini dia butuh teman untuk bicara, tapi Hanin jelas bukan lawan bicara yang bisa dia ajak bercerita.
__ADS_1