
Murat Seketika menaikkan alisnya saat aishe memanggil nya sayang, saat masuk ke kamar secepat kilat dia menyambar tubuh aishe.
"Akhhh"
aishe jelas kaget saat tubuhnya di dipepet kan ke dinding, ditahan sedemikian rupa oleh murat.
"Sayang ku?"
Murat bertanya sambil menatap dalam bola mata aishe.
dia fikir gadis itu bakal terkejut atau takut, tapi ekspresi gadis itu jelas diluar pemikiran nya.
"Bukankah kau tidak suka pada Mak lampir? atau nenek sihir tadi?"
ucap aishe sambil meremas wajah Murat.
"Aishe...??"
Murat mengeram, langsung melepaskan tangan nya dari tubuh aishe, menyentuh wajah nya yang di remas oleh aishe tadi
"Oh God"
umpat Murat.
"Apa panggilan yang bagus untuk gadis mengerikan itu?"
aishe bicara sambil meletakkan jari telunjuknya di atas dagunya, bergerak maju mundur sambil bola matanya naik ke atas.
"Antara Mak lampir dan nenek sihir bagusan mana?"
Dia bertanya sambil menatap dalam wajah Murat.
"Tidak ada yang bagus"
Murat menggelengkan kepalanya, langsung membalikkan tubuhnya, lantas bergerak langsung melesat naik ke atas kasur nya.
"Nenek sihir lebih bagus"
ucap aishe cepat sambil mengikuti gerakan Murat, ikut naik ke atas kasur.
"Kau lihat bagaimana ekspresi nenek sihir tadi Daddy?"
aishe begitu antusias bergosip, seakan-akan Murat itu laki-laki yang cocok di ajak bergosip bersama persis seperti saat dia bicara dengan Hanin.
seketika aishe tertawa geli
"Wajahnya memerah dan kesal saat aku panggil Daddy, SAYANGGG KUUU"
Kata-kata akhir aishe sangat manja mendesah.
"Berhenti bicara seperti itulah, terdengar menggelikan aishe"
protes Murat.
__ADS_1
"Ah? yang mana?"
aishe menaikkan alisnya
"lupakan saja"
"ishhh"
aishe memunyungkan ujung bibirnya.
"Dia cinta pertama mu daddy?"
Murat memijat kepalanya yang tidak sakit.
"Bisakah kamu berhenti bicara?"
"Aku tanya dulu, apa dia cinta pertamanya?"
"Tidak, aku sama sekali tidak pernah menyukainya"
"Lalu bagaimana dengan adik mu daddy?"
seketika Murat menghentikan gerakan tangannya, dia menatap tajam bola mata aishe
"Kau suka pada nya?"
Murat bertanya tidak suka.
aishe menggeleng cepat kemudian memajukan wajahnya.
Murat menaikkan alisnya.
"Aku tidak suka tatapan matanya, Terlalu nakal dan mengerikan, kalau perempuan itu seperti tatapan Seorang ja..Lang"
"What?'
jelas saja Murat terkejut.
"Seperti ini'
aishe mencoba mempraktekkan nya.
Matanya pura-pura menelisik tubuh Murat dari ujung kaki hingga ke ujung kepalanya.
"Seperti itu, sangat mengerikan bukan?"
dia bersungut tidak suka.
"Yeah cukup mengerikan"
"Lalu aku tidak suka type wajahnya, dia memang dingin tapi terlalu kasar"
"Ya?"
__ADS_1
"Laki-laki seperti itu pasti type yang tidak mau mengalah"
aishe terus bicara sambil men selonjorkan kaki nga.
"Kau begitu yakin?"
"Ckckck Daddy belum tahu ada berapa banyak laki-laki yang sudah aku temui dimuka bumi ini? ada banyak macam dengan berbagai macam karakter"
"Kau tahu Daddy? Adik mu itu langsung ku masukkan ke daftar blacklist laki-laki idaman ku"
Murat Tampak diam.
"Kau tidak pernah pacaran sebelum nya?"
Aishe terkekeh
"Kakak ku bisa membunuh ku jika tahu aku pacaran"
ucap aishe cepat
"Dia seperti beruang kutub, kau tahu Daddy? begitu mengerikan, selalu tahu gerak-gerik ku"
ucap Aishe cepat, kemudian Seketika dia tersadar akan sesuatu.
"Tapi ini aneh, biasa nya kakak ku tahu semua pergerakan ku"
aishe manatap Murat cepat
"Kenapa dia tidak tahu kalau aku menikah kemarin?"
Murat Hanya diam saja, mengangkat pelan ujung bibirnya.
secepat kilat Aishe mencoba mencari ponsel nya, membuka nakas dan tas nya secara bergantian.
"Daddy, kau lihat handphone ku?"
tanya Aishe sambil mencoba memeriksa ke seluruh tempat.
"Tidak"
jawab Murat Cepat
"Aneh? rasanya semalam aku letakkan di atas kasur"
ucap nya masih sambil berusaha mencari
"Kita akan membeli handphone baru untuk mu"
"Tapi aku harus segera menghubungi kakak ku, aku belum bilang soal pernikahan kita"
"Aku sudah menghubungi nya kemarin"
"Ya?"
__ADS_1
aishe langsung menoleh ke arah Murat dengan ekspresi terkejut.
"Daddy tahu kakak ku?"