
Belle masih cukup gemetaran saat membuka lembaran kertas tadi, mencoba menelisik flash disk yang ada di tangan nya saat ini.
Apa yang dia yakini selama ini ternyata benar, dia bukanlah putri mama nya, bukan adik dari kakak nya, tapi yang jadi pertanyaan apa hubungan aliya Burja dengan keluarga Burja? apakah adik kakak nya atau siapa kakak nya? lalu kenapa Eden sama Sekali tidak pernah membicarakan soal kenyataan pada diri nya, kenapa menyembunyikan soal semua hal?
"Seseorang datang di rumah lama?"
"he em, selama 3 hari berturut-turut mencari informasi soal kalian, Karena itu bibi mengunci semua akses pintu, tapi anehnya bibi bilang seolah-olah orang itu sengaja menggeletakkan informasi ini di atas meja tua agar mudah untuk dijangkau"
ucap kak Asha nya.
"Ah dia meninggalkan catatan kecil di bawah memo nya"
Kak Asha memberikan kertas yang masih cukup baru ke tangan Belle.
"Al Jaber company?"
Saat Belle mengucapkan kata-kata itu, seketika Bern yang mencoba menguping tercekat.
Al Jaber company?
"Jika kau ingin tahu soal masa lalu mu, temui Abigail di Al Jaber company"
Ucap Belle pelan.
Seketika dia meremas kertas itu.
"Apa ada yang tidak kakak ketahui?"
"Tidak, ini hanya masalah keluarga kak, sedikit pelik dalam hal di masa lalu"
Kak Asha nya tampak diam.
"Hmm"
tiba-tiba kak Asha nya berdiri, mencoba berjalan menuju ke kamar Belle.
"Kakak fikir ingin tidur sejenak sebab lelah begadang semalaman, bisa bangunkan kakak sore nanti?"
Hah???
jelas saja Belle kelabakan, baru ingat ada om bule di dalam kamarnya.
"Ah...itu"
__ADS_1
Belle berusaha menahan langkah kaki kak Asha nya, seandainya kamar yang sering di gunakan kakak Eden nya tidak dikunci oleh Eden, Belle pasti sudah meminta kak Asha tidur di sana, tapi...
"Aku belum"
belum sempat Belle bicara, kak Asha nya sudah mendorong pintu kamarnya dan masuk begitu saja.
Oh God, oh God.
Belle berusaha memejamkan bola matanya, membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Tapi dia tidak melihat sosok Bern di atas kasur.
Kemana dia?
Kepala Belle celingak-celinguk mencari sosok laki-laki itu, hingga akhirnya dia menyadari laki-laki itu berdiri di belakang pintu.
Belle jamin Jika kak Asha nya melihat, bisa di nikahkan secara mendadak mereka.
"Kak... "
Belle dengan gerakan cepat meraih sebuah selimut di pinggir kasur lantas membentang nya tinggi-tinggi.
"Aku fikir akan mencuci nya"
"Hmm "
Akhhh
Belle merengek dalam hati, menatap Bern dengan sejuta pandangan,meminta Bern bergerak mengikuti gerakan tangannya menutupi tubuh Bern dengan selimut agar segera keluar dari kamar itu.
"Belle"
"Ahh iya?"
Belle langsung menoleh.
"Lupakan saja"
Kak Asha nya kembali mencoba memejamkan bola matanya.
Bern dan Bella secepat kilat keluar dari sana.
"Gila aku seperti sedang mencoba diam-diam mengencani anak gadis orang di rumah orang asing"
__ADS_1
Rutuk Bern saat menyadari kebodohannya.
"Come aku seperti anak remaja usia 20 tahunan"
"Aku yang masih remaja"
pekik Belle cepat.
"Oom yang sudah tua"
"What?"
Sialan ini bocah batin Bern
"Wait aku tidak bisa kembali ke apartemen ku sekarang"
Jelas terlalu berbahaya untuk kembali ke apartemen nya saat ini hingga lukanya sembuh total dan para anak buah nya siap berkumpul sesuai jadwal.
Dan lagi bocah ini jelas bicara soal Al Jaber company, keluarga kandung nya di masa lalu hingga membuat dirinya ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya.
"Lalu bagaimana?"
"Katakan saja yang sejujurnya"
"Nope, kak Asha bisa salah paham"
"Aku bisa menjelaskan"
"No..."
"Aku akan bicara pada nya"
"Tidak"
Belle langsung mendorong tubuh Bern ke arah pintu, memegang pinggang nya dengan erat.
"Belle?"
Seketika Belle dan Bern tercekat, langsung menoleh ke arah asal suara.
"Siapa dia?"
jelas saja kak Asha nya mengerutkan keningnya, Belle dalam posisi memeluk laki-laki itu tepat di hadapan nya. Laki-laki tampan dengan bola mata indah, seusia Kevin kakak nya.
__ADS_1
"Kak"
Belle langsung menelan salivanya.