
Aland tampak mengerutkan dahinya, telapak tangan kirinya mengepal dengan sempurna, sejak terakhir kali menghubungi aishe dia sama sekali tidak bisa lagi melakukan panggilan pada adik nya itu.
Kau benar-benar ingin cari mati.
umpat Aland dalam hati.
"Sudah menemukan titik lokasi mereka?"
dia bertanya dari balik panggilan nya.
"Mereka sudah berpindah tempat tuan"
suara sahutan dari ujung sana jelas semakin membuat berang Aland.
berpindah tempat huh? kau ingin bermain petak umpet bersama ku brengsek.
Ailee yang melihat kegelisahan Aland hanya diam, sibuk mengemasi semua barang-barang mereka karena hari ini waktunya mereka kembali ke Indonesia.
Dia tahu ketika Daddy nya marah, dia tidak mungkin bisa meredakan emosi laki-laki itu, anggaplah karena dia yang jelas bukan siapa-siapa Dimata Aland.
Setelah mematikan panggilan nya, Aland membalikkan tubuhnya, menatap Ailee sejenak sambil menarik nafasnya kasar. Yang jelas tidak mungkin dia melampiaskan kemarahan nya pada Ailee, anak itu terlalu banyak menerima segala macam kekasaran nya dulu, dia pasti gila jika melakukan nya lagi.
"Sudah semua"
Ailee mencoba tersenyum sambil berdiri dari duduknya.
"Daddy sudah lapar? Akan aku siapkan semua di atas meja"
ucap Ailee cepat lantas berniat meninggalkan Aland, tapi laki-laki itu dengan cepat menarik tangan Ailee.
"Kamu terlihat berbeda sejak kita melakukan semua nya"
ucap Aland cepat, mencoba menatap dalam bola mata Ailee.
Ailee tampak diam, hanya bisa menelan salivanya.
"Tersenyum lah seperti kemarin-kemarin"
tangan kanan Aland menyentuh lembut wajah ailee
"Maafkan Daddy"
ucap Aland lagi sambil memeluk erat tubuh Ailee.
Ailee hanya diam, dengan perasaan ragu-ragu dia mengangkat tangan nya, mencoba memeluk erat pinggang Aland. memejamkan matanya sejenak, mencoba menetralisir jantung nya.
Berdetak kencang dan sedikit berdebar-debar.
*********
__ADS_1
"Daddy kenal kakak ku?"
aishe mengulang pertanyaan nya.
"Bukankah sesama pengusaha diharuskan untuk saling mengenal?"
"Ah iya juga"
aishe mengangguk cepat, tangan nya masih dengan lincah mencari handphone nya.
"Kakak mu bilang sedang berlibur ke Maladewa dengan putri nya Ailee"
ucap Murat cepat
aishe mengangguk cepat
"He em hadiah karena Ailee mendapatkan ranking 2 besar, kau tahu Daddy gadis kecil itu keponakan tercantik ku"
ucap aishe masih terus berjalan kesana kemari mencari handphone nya.
"Keponakan?"
Murat mencoba memancing.
"He em, dia begitu imut dan cantik"
"Tapi kakak ipar sudah meninggal"
"Gadis itu Anak kakak mu?"
aishe menghentikan gerakan tangannya.
"Sedikit kompleks, sesungguhnya bukan tapi seperti iya"
"maksudnya?"
"Aku tidak paham urusan orang dewasa Daddy"
sejenak aishe menoleh ke arah Murat.
"Aku hanya bingung, ketika pasangan kita Benar-benar mencintai kita, apa kita akan tega mengkhianati pasangan kita?"
Murat tampak diam, menatap dalam-dalam bola mata aishe.
"Kau tidak suka pengkhianatan?"
aishe menggeleng
"Aku tidak suka di khianati, dalam hubungan pernikahan berkhianat itu sama dengan Selingkuh, space nya kembali ke pada diri kita masing-masing, seperti aku dan daddy"
__ADS_1
"Perasaan ku, aku yang mengatur dan memilih, begitu pula perasaan Daddy, yang mengendalikan nya diri Daddy sendiri"
"Ketika pengkhianatan terjadi Masing-masing dari kita harus tahu memberikan space pasangan agar mencari tahu permasalahan dalam dirinya, bukan pada diri pasangan nya"
"Harus tahu diri jika selingkuh itu merupakan sebuah pilihan, jika dia mau maka terjadi, jika tidak maka tidak terjadi"
"tak ada yang bisa kita lakukan apalagi sekitar kita untuk mengendalikan perilaku orang yang selingkuh. Maka selama dirinya belum benar-benar memahami alasannya selingkuh, perubahan rasanya hampir mustahil"
Murat menelan salivanya
"Istri kakak mu melakukan nya?"
"Aku tidak suka berspekulasi, tiap orang punya masa lalu, hanya saja Ailee memang bukan putri kandung kakak ku, meskipun begitu aku sama sekali tidak keberatan, orang tua yang melakukan kesalahan, aku tidak harus melimpah kan kekesalan pada orang lain terutama anak-anak nya bukan?"
"Anak-anak sama sekali tidak pernah tahu apa-apa, jangan jadikan orang lain korban dari ke marahan dan keegoisan orang dewasa"
Murat jelas membeku, menatap nanar wajah aishe, Seketika dia kehilangan kata-kata nya.
"Aneh, aku benar-benar tidak bisa mendapatkan handphone ku daddy!, Apa mungkin seseorang mencuri nya?"
aishe terus berusaha mencari, seketika dia membuka mulutnya seperti terkejut, berfikir sambil menaikkan bola matanya ke atas.
"Tidak mungkin dicuri"
ucap nya sambil menggeleng-geleng kan kepalanya.
"Atau aku meninggalkan nya di gedung pernikahan?"
aishe memukul pelan jidad nya, terus mencoba mengingat-ingat.
"Ah tidak, bukankah aku menelpon kakak malam-malam waktu itu? nggg itu kita sudah menikah apa belum?
aishe kembali menoleh ke arah Murat, Murat berjalan berlahan mendekati Aishe menatap wajah cantik itu begitu lama.
"Akhhh dimana handphone ku Daddy?"
dia terus mengoceh dan merengek.
"Kita akan membeli nya lagi yang baru"
ucap Murat pelan, tiba-tiba menarik lembut tubuh aishe, membenamkan nya ke dalam dada bidang nya.
"Daddy?"
aishe jelas terkejut dengan gerakan refleks yang dilakukan Murat secara tiba-tiba.
"Sebentar saja"
bisik Murat pelan sambil terus memeluk aishe sambil memejamkan matanya.
__ADS_1