
Dan pada akhirnya weekend kali ini 2 keluarga benar-benar berkumpul bersama, Al Jaber dan faith Yildiz family.
Ailee langsung berhamburan memeluk Aishe begitu melihat untie Aishe nya itu sudah berada di depan pintu mansion yang baru mereka datangi, melepaskan kerinduan yang begitu membuncah entah yang telah terpendam berapa lama.
Aland dan Murat sama-sama terlihat canggung, berusaha menahan gengsi sambil menyentuh pelipis mereka masing-masing. Hanya merasa lucu hanya demi Dendam, menahan masing-masing apa yang dimiliki lawan hingga akhirnya mereka tertawan hati pada para perempuan kecil itu.
Bahrat dan Abigail Seperti nya yang paling santai, tidak begitu peduli soal masa lalu mengingat setelah penyelidikan panjang bertahun-tahun dan menerima kenyataan rupanya mereka di adu dan di jebak oleh orang lain demi ambisi harta dan tahta.
Selena dengan gerakan cepat menarik tangan Aland untuk segera masuk ke dalam, berjalan mengitari rumah menuju ke arah bagian halaman belakang. Seperti rencana awal aishe jika mereka mengadakan pesta barbeque di siang hari dan malam hari.
Mereka duduk di teras belakang yang begitu teduh dan nyaman, menampilkan pemandangan rerumputan Jepang yang terhampar luas berwarna hijau.
Aland langsung duduk disamping aishe, menatap bola mata sang adik kesayangannya itu untuk bertanya apakah dia baik-baik saja.
"Dia begitu baik, sangat sabar menghadapi aku yang terlalu lincah dan cerewet ini kak"
Bisik Aishe sambil terkekeh di hadapannya sang kakak nya itu.
"Dia tidak pernah menyakiti kamu?"
Aland bertanya pelan.
Aishe langsung menggelang.
"Tidak, dia begitu baik pada ku, saat pertama kali menikah dia selalu kewalahan menghadapi kekonyolan ku"
Aishe kembali terkekeh geli, lantas tertawa senang.
"Dia cukup sabar menghadapi aku kak"
Aland Menyentuh lembut kepala Aishe, mengelusnya berkali-kali.
"Syukur lah"
Aland menarik nafasnya pelan.
__ADS_1
"Usia kandungan nya berapa bulan?"
Selena tampak antusias, menatap Perut Ailee masih sedikit rata.
"Hampir 2 bulan untie"
Selena mengangguk pelan.
"Apa ada sesuatu yang ingin kamu makan? misalnya sesuatu yang segar-segar?"
Ailee tampak berfikir sejenak.
"Tidak ada"
"Baby nya cukup penurut"
Goda Selena.
"Itu jika lagi dalam kondisi yang bagus"
"Aihhhh banyak maunya "
Aishe Terkekeh, mencoba mengelus lembut perut Ailee, tidak tahu kenapa timbul harapan manis dihati nya untuk mendapatkan hal yang sama, dia melirik ke arah Murat sejenak, sang suami tampak mengulum senyum, seolah-olah tahu apa yang ada di fikiran Aishe.
Murat menggerakkan bibirnya.
"Kita akan membuat nya"
Aishe tersenyum geli lantas membuang pandangannya nya.
"Sering tidak enak Perut?"
Tanya aishe lagi.
Ailee mengangguk cepat.
__ADS_1
"Biarkan para gadis bicara"
Tiba-tiba Abigail membuka suara.
"Seperti nya kita harus ikut mengobrol bersama dalam tim laki-laki"
Seloroh Abigail, tampak bercanda namun sebenarnya ekspresi wajah nya tampak menyiratkan kesungguhan, mereka benar-benar butuh bicara saat ini.
"Kita bisa ke ruang tamu"
Tawar bahrat tiba-tiba.
Murat terlihat mendekati Aishe, mencium puncak kepala istrinya itu lembut, sambil berkata.
"Kami akan kembali lagi nanti hmm''
Aishe mengembangkan senyumnya, langsung berdiri dan berbisik.
"tidak berdebat hmm"
Murat Terkekeh.
"Sayang aku tidak mungkin bersikap ke kanak-kanakan seperti itu"
ucap Murat sambil menyentuh wajah Aishe lembut.
"Tidak akan lama"
Aishe mengangguk cepat.
Membiarkan semua para laki-laki mulai pergi menjauh dari hadapan mereka, dia tampak sedikit was-was jika-jika dendam di masa lalu masih terus menghantui mereka, terutama suami nya.
"Jangan terlalu khawatir"
bisik Selena di Balik telinga nya.
__ADS_1