Putri Perawan Milik Daddy "Balas Dendam Daddy"

Putri Perawan Milik Daddy "Balas Dendam Daddy"
Tidak mungkin bisa berdamai dengan waktu


__ADS_3

"Berhenti lah bergerak kesana-kemari aishe"


Murat tampak kesal, menatap aishe yang terus memutar tubuhnya tidak jelas.


"Kaki ku lelah Daddy, apa kau tidak punya tukang pijat? kaki ku rasa nya ingin lepas saat ini"


aishe bicara sambil terus menghentakkan kakinya sejak tadi.


"Aku tidak bisa tidur"


aishe mulai merengek.


Kakinya terasa ingin lepas, rasa lelah berhari-hari karena kesana kemari sejak bertemu Murat benar-benar menguras seluruh energi dan tenaga nya, dari acara Fitting pakaian, minggat-minggatan, shopping pakaian hingga berdiri berjam-jam di acara nikahan sampai mondar-mandir menemui tamu sejak awal pernikahan hingga selesai acara.


"Ada, besok baru panggilkan mereka"


"Ishhh....Tapi kaki ku sudah tidak bisa menundanya, kau lihat daddy, ini sakit sekali, memerah dan membengkak"


oceh Aishe, membalikkan kembali tubuhnya ke posisi tengkurap sambil merentangkan kaki dan tangan nya.


"Kau benar-benar menyiksa ku di acara pernikahan nya"


oceh Aishe lagi sambil terus menggerakkan kakinya dengan perasaan kesal.


"Sakit?"


"Tentu saja, memang nya enak pakai Hells tinggi Kesana-kemari dari pagi sampai sore? Daddy tidak ada baik-baik nya, menyeret ku mondar-mandir hanya demi menemui dan menyalami ratusan hingga Ribuan undangan"


aishe mulai bicara sambil menaikkan oktaf suara nya, terus mengoceh tanpa rem.


"Tidak lihat apa, padahal wajah ku sudah seperti di tekuk kemarin saking lelah nya tapi Daddy masih saja menyeret ku Kesana-kemari"


Dia terus saja mengoceh tidak mau berhenti, mengeluh ini dan itu hingga membuat Murat sakit kepala.


"Kau ini cerewet sekali"


oceh Murat, laki-laki itu langsung duduk, menarik kakinya tiba-tiba.


"Akhhh Daddy apa yang kamu lakukan?"


Aishe tersentak kaget, menoleh ke arah belakang karena Murat tiba-tiba memegang kaki kanan nya.


"Katanya lelah, diam dan rasakan"


"Apa yang akan Daddy lakukan?"


pekik aishe.


"Kau ini kapan bisa diam nya?"


Murat mulai menekan kaki aishe.


"Akhhh Daddy terlalu keras"


pekik nya sambil mencoba membalikkan tubuhnya.


"Jangan berbalik, tetap di posisi itu"


"Posisi ini tidak menguntungkan"


"Oh tuhan aishe berhentilah bicara, cukup rasakan"

__ADS_1


Murat bicara Kemudian kembali menekan kakinya.


"Akhhh Daddy pelan-pelan aku bilang"


Aishe kembali berteriak, mencoba untuk benar-benar membalikkan tubuhnya, hingga tanpa sengaja hampir menendang bagian bawah Murat.


"Aishe kau hampir menyakiti milik ku"


Murat mengoceh sambil kembali menekan kaki aishe, mencoba memijat nya beberapa kali dengan tangan kanannya.


"Oh no ..ini menyakitkan, bisa lakukan lebih halus sedikit? aku bisa mati Daddy"


aishe bicara sambil menatap kesal ke arah Murat, mencoba meraih kakinya yang memang mulai membengkak.


"Sebentar saja, ini akan terasa enak lama-lama"


Murat bicara sambil terus berusaha memijat nya.


Aishe diam sejenak.


Ahh he em lama-lama terasa enak.


batin nya sambil mengulas senyum.


"Yang mana lagi yang sakit?"


"yang ini dan ini"


tunjuk aishe.


"Kau harus membayar ku karena berbaik hati memijat kaki mu'


aishe memunyungkan bibirnya.


"Semakin pelit semakin membuat mu kaya"


"Aihhh siapa bilang akh... Daddy kau menekan nya lagi"


"Kau ini suka sekali berteriak"


Murat bicara sambil menggeleng-geleng kan kepalanya, menarik kaki aishe satunya agar naik ke pahanya Kemudian mulai memijat nya berlahan.


"Hm... ini cukup baik"


aishe bicara langsung membaringkan tubuhnya.


"Keenakan huh?"


"ini nyaman sekali"


ucap aishe cepat.


"Katakan padaku, berapa usia mu yang sebenarnya?"


"February nanti 22 tahun, aku lahir tepat di hari valentine".


aishe bicara dengan berbangga hati.


seketika Murat menghentikan gerakan tangannya, dia menoleh ke arah aishe yang sudah mulai memejamkan matanya.


"Valentine?"

__ADS_1


"Daddy benar-benar suami yang payah sekali, bukan kah saat mengurus buku nikah Kartu tanda pengenal ku digunakan? ada tanggal lahir ku disana"


Murat Tampak diam, menatap kaki aishe kembali, kaki indah itu dihiasi pewarna kuku berwarna pink dengan dilingkari gelang kaki yang indah.


entahlah, kata Valentine langsung menurunkan semua kadar perasaan nya.


"Daddy kenapa berhenti?"


Murat kembali melanjutkan pijatan nya.


"Selamat tahun baru aishe"


"ishh baru mengucapkan nya sekarang, waktu nya sudah lewat dari tadi"


aishe tertawa geli.


"Ini pertama kalinya aku menghabiskan tahun baru tanpa teman-teman ku"


sungut aishe


"Sejak usia 8 tahun aku selalu menghabiskan malam tahun baru dengan teman-teman"


Murat menaikkan alisnya


"Bukan dengan keluarga?"


"Aku dan kakak terpisah jauh, tidak dengan orang tua"


"Dimana orang tua mu?"


pertanyaan bodoh itu keluar begitu saja dari mulut Murat.


Aishe tampak diam, Kemudian terkekeh pelan


"Kakak ku menipu ku dalam waktu yang begitu lama saat aku masih kecil, dia bilang mommy dan Daddy tengah berkunjung ke syurga, aku bertanya-tanya syurga itu seperti apa selama hampir 6 tahun, hingga akhirnya aku tahu mereka sudah pergi selama-lamanya"


"Kenapa kau tertawa?'


"Aku sudah menangis tidak kurang dari 15 tahun baik pagi, siang, sore ataupun malam tiap kali ada yang menanyakan dimana mommy dan Daddy mu karena itu jika ada yang menanyakan nya aku akan tertawa, air mata ku sudah lama mengering Daddy"


Murat tampak diam, menatap wajah Aishe untuk waktu yang lama, gadis itu mulai terbawa arus, Berlahan terlelap.


"Masih sakit?"


"Ngg"


"Benahi posisi mu, aku fikir kau sudah mengantuk"


aishe sama sekali tidak menjawab, gadis itu benar-benar terlelap.


Murat secara berlahan menurunkan kaki aishe dari pahanya, memajukan tubuhnya untuk menatap wajah gadis itu.


Kau mungkin akan sangat membenciku saat tahu siapa penyebab orang tua mu meninggal aishe, mungkin tidak akan bisa berdamai dengan waktu dalam kurun waktu yang lama.


ucap Murat dalam hati.


Dia mengangkat pelan tubuh gadis itu kemudian membenahi posisi tubuhnya secara berlahan. entah setan mana yang merasuki nya, secara berlahan Murat mendarat kan ciumannya ke bibir gadis itu, begitu lembut dan hangat.


"Selamat malam"


bisik nya pelan.

__ADS_1


mematikan secara berlahan lampu kamar, Kemudian mencoba ikut membaringkan tubuhnya disamping aishe, ikut terlelap bersama gadis itu.


__ADS_2