
Aishe masih melebarkan senyumannya, menatap wajah Murat dalam waktu yang begitu lama, lalu secara perlahan menyentuh wajah itu sejenak.
"He em"
dia bicara sambil menganggukkan kepalanya.
"Kita bisa memulai dari Saling menyakinkan diri masing-masing lebih dulu"
ucap Aishe kemudian.
"Mungkin kita bisa memulai nya dari berkencan"
lanjut Aishe lagi.
seketika murat melebarkan senyuman manisnya, terlihat begitu indah di mata aishe. dan tiba-tiba secepat kilat Murat mencium bi..bir nya untuk beberapa kali hingga membuat aishe cukup terkejut.
"Kita bisa memulai nya dengan perlahan"
ucap murat lantas menurunkan tubuh aishe dengan cepat, menarik kursi makan lantas membiarkan Aishe duduk disana.
"Apa malam ini bisa di bilang kencan pertama?"
Aishe bertanya sambil menoleh ke arah Murat.
"Anggap saja begitu"
"Kalau begitu Daddy harus membayar jasa koki nya, semua makanan nya terhitung harga istimewa"
goda Aishe, seketika Murat tekekeh, dia menautkan lembut kening mereka.
"Baiklah, aku akan membayar nya dengan harga yang paling setara"
Aishe tertawa renyah.
Murat dengan cepat meletakkan nasi di piring milik Aishe, kemudian meletakkan miliknya secara bergantian.
__ADS_1
Suasana makan malam terlewatkan dengan cara yang sangat luar biasa.
******
Setelah sesi makan malam, mereka berdua langsung naik ke atas menuju ke arah kamar, memilih untuk istirahat dan tidur.
"Aishe"
Murat bicara sambil melepaskan jam tangan nya, meletakkan nya ke atas nakas di samping kanan kasur mereka.
"Hmm?"
Aishe bertanya sambil naik ke atas kasur, membenahi posisi bantal mereka lantas menepuk-nepuk nya dengan lembut, aishe sudah bersiap untuk terlelap menuju ke peraduan mimpi nya.
"Usahakan jangan terlalu dekat dengan Eden"
ucap Murat tiba-tiba, menatap aishe Sejenak lantas membuang pandangannya, melepaskan kameja nya kemudian mengganti nya dengan baju kaos oblong berwarna putih.
"Daddy cemburu?"
Aishe bertanya sambil terkekeh, merebahkan diri nya secara perlahan.
Murat ikut naik ke atas kasur, duduk disamping aishe lantas secara perlahan menarik selimut ketubuh Aishe.
Laki-laki itu menggeleng pelan.
"Dia bukan laki-laki yang baik"
ucap nya pelan, seolah-olah fikiran nya melayang entah kemana.
Aishe menaikkan alisnya, kembali duduk ke atas kasur menghadap tepat ke arah Murat dan mengurungkan niat untuk tidur.
"Kenapa begitu?"
__ADS_1
"Kau tahu? Reputasi Eden soal perempuan tidak baik sejak dia muda, beberapa kali dia tersandung kasus pelecehan pada beberapa karyawan Al Jaber tapi selalu bisa lolos dari meja hukum berkat perdamaian dengan uang"
"Meskipun kami ber saudara,aku cukup tidak suka dengan sifat buruk nya, karena itu hubungan kami tidak pernah menjadi baik karena perbedaan prinsip dan juga pandangan"
"Tiap kali tersandung kasus dia selalu punya cara membela diri, memberikan alibi dan menyakinkan banyak orang, apalagi pengacara yang berdiri di depannya pun cukup berpengaruh hmm"
Murat bicara sambil menatap dalam wajah Aishe.
"Bahkan hubungan nya memburuk dengan Selena karena kasus mengajak nya tidur bersama"
lanjut Murat.
Aishe agak tercengang mendengar nya.
"Kamu mengerti maksud ku kan? aku mungkin tidak bisa melindungi kamu jika tiba-tiba kamu keluar dari pengawasan ku"
Murat menyentuh wajah Aishe.
"Meskipun kamu bisa mengerjai nya atau bahkan mengusili dirinya, tapi untuk ukuran mafia perempuan, laki-laki selalu punya cara untuk melumpuhkan seorang perempuan, apalagi seorang gadis bertubuh kecil seperti kamu hmm"
Murat terus bicara sambil mengelus lembut pipi kanan Aishe.
"Jadi usahakan untuk selalu menghindari di situasi Sepi berdua, jangan percaya ucapan nya meskipun itu dalam keadaan terdesak"
Aishe tampak diam, menatap bola mata yang dipenuhi kekhawatiran disana.
"Aku mengerti, jangan khawatir soal itu"
"Tidurlah"
Murat menepuk-nepuk bantal aishe.
"Kita akan kekantor besok"
"Hm"
__ADS_1
Aishe mengangguk pelan, menenggelamkan tubuhnya ke dalam bantal milik nya, secara perlahan Murat menaikkan selimut Aishe lantas dengan lembut mencium kening aishe dalam hitungan detik.