Putri Perawan Milik Daddy "Balas Dendam Daddy"

Putri Perawan Milik Daddy "Balas Dendam Daddy"
Menyusun rencana licik


__ADS_3

"Kau bertemu anak kecil itu lagi?"


ramira mengerutkan dahinya saat melihat Eden melambaikan tangan nya pada gadis kecil kemarin, raut wajah bahagia Eden jelas tercetak di wajahnya.


Ramira tahu betul bagaimana Eden, laki-laki itu bukan orang yang gampang Tersenyum dan tersentuh hanya karena orang lain.


"Hanya kebetulan bertemu"


"Kebetulan?"


cihh


ramira mendengus, dia fikir sejak kapan Eden akan bicara seperti itu.


"Kau jika tanpa motif mana mau mendekati perempuan"


ejek nya kemudian.


"Apakah Terlihat dengan jelas?"


Eden terkekeh.


Ramira tidak percaya bisa melihat laki-laki itu terkekeh begitu bahagia.


"Yah terlihat sangat jelas jika kau menyukai bocah kecil itu"


Eden kembali terkekeh.


Ramira tiba-tiba melepaskan tawanya saat menatap ekspresi wajah Eden yang tampak aneh tidak seperti biasanya.


"Jangan bilang kau sungguh-sungguh mencintai bocah ingusan itu, menginginkan nya bahkan berharap bisa menikahi nya?!"


Eden tampak diam, fokus dengan setir mobilnya.


"Aku sedang memikirkan nya"

__ADS_1


Ramira langsung menoleh ke arah Eden


"What? kau benar-benar sedang jatuh cinta?"


Ramira tampak melongok, menatap ekspresi Eden yang begitu bahagia.


"Baik lah, tapi aku harap kau jangan lupa, menyingkirkan gadis picik itu dari kehidupan Murat secepatnya sesuai janji mu kemarin, kemudian biarkan aku menikah dengan Murat secepat nya"


ucap Ramira dengan perasaan dongkol.


Eden tampak menaikkan sudut bibirnya.


"Aku sedang menyusun rencana"


ucap Eden dengan senyuman devil nya.


"Kau bisa mendapatkan nya dalam beberapa hari ini, perlahan tanpa harus tergesa-gesa sayang"


**********


Selena jelas tidak punya muka untuk bertemu Bahrat setelah kejadian tadi, bisa dibayangkan betapa malu nya dia tadi, seluruh lekuk tubuhnya jelas terlihat oleh laki-laki itu, bahkan sial nya laki-laki itu sempat mematung dan membeku sesaat saat menatapi tubuh nya yang berdiri tanpa sehelai benang pun.


Selena fikir jika saja dia di Indonesia, dapat dipastikan jika kejadian nya di rumah keluarga besar Al Jaber, dia pastikan tidak akan kembali ke rumah keluarga Al Jaber untuk waktu yang lama, dia pasti sudah melesat pergi menjauh entah tinggal dimana demi menghilang kan rasa malu.


Tapi ini di new York city, dia jelas buta soal


semua hal yang ada di sini, mana dia tahu dimana apartemen sewaan, dimana mencari rumah sewa, dimana dia harus menemukan rumah teman-teman nya disini.


tok tok


Seketika pemikiran selena buyar bersamaan dengan pintu kamar nya yang di ketuk tiba-tiba.


"Ya?"


Abigail membuka perlahan pintu kamar nya, berjalan masuk mendekati selena.

__ADS_1


"Ayo waktunya makan malam"


Seketika Selena menggigit bibir bawahnya.


"Bisakah aku makan di kamar saja?"


Selena bicara Cepat ke arah Abigail.


Abigail menggeleng cepat.


"Come sayang, kau tahu uncle paling tidak suka seseorang membawa makanan ke kamarnya, kecuali orang itu sedang sakit atau dalam keadaan tengah berbulan madu"


Abigail bicara serius di awal namun sedikit bercanda pada kalimat akhir nya.


"Aku serius"


pekik Selena tertahan.


"Kau tidak punya alasan spesifik untuk menolak makan malam bersama sayang, jadi agak tidak masuk akal tiba-tiba minta makanan nya di antar ke atas"


Abigail bicara sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Ditambah lagi ini tempat tinggal uncle bahrat kan? aku tidak punya alasan untuk meng iyakan permintaan mu"


"Katakan saja aku sakit"


rengek Selena ke arah Abigail.


melihat ekspresi Selena, Seketika Abigail menatap Selena dengan penuh rasa curiga.


"Apakah ada sesuatu yang tidak aku ketahui saat di kamar mandi tadi?"


"Apa?"


seketika Selena tercekat, dia menelan kasar salivanya.

__ADS_1


__ADS_2