
Aishe jelas langsung memerah jika ingat soal kata abigail siang tadi, meskipun begitu denagn rasa penasaran dia sempat meminum nya tadi.
Shatavari....?!
ish keterlaluan.
Ucap Aishe dalam hati.
Dia menggeleng pelan sambil tersenyum geli, secara perlahan keluar dari dalam kamar mandi setelah sesi mandi nya.
Murat tampak sibuk berkutat dengan laktopnya, dia fikir sang suami belakangan begitu sibuk dengan proyek terbaru nya, karena itu setelah makan malam Aishe sama sekali tidak ingin mengganggu Murat.
Setelah berganti pakaian, Aishe langsung naik ke atas kasur, membenamkan tubuhnya disana dan perlahan terlelap untuk tidur, dia fikir besok harus bangun lebih awal karena ada beberapa urusan kantor yang harus dia kerjakan.
Murat secara perlahan merapikan semua berkas-berkas nya, menyusun nya menjadi satu lantas beranjak dari posisi nya semula.Dia fikir membersihkan diri kembali pilihan cukup bijak karena itu dengan Hera cepat dia menyambar handuk nya dan langsung membersihkan diri nya ke kamar mandi.
Sejenak setelah keluar dari kamar mandi, dia tersenyum menatapi wajah sang istri, tertidur begitu pulas di atas kasurnya. Secara perlahan Murat naik ke atas kasur, mencoba mencium wajah sang istri beberapa waktu.
Tapi sepertinya sebuah ciuman hangat tiba-tiba meningkatkan kadar testosteron dibawah sana.
Murat tertawa geli, dia fikir satu-satunya orang yang selalu membuat dia menginginkan nya hanya Aishe.
Secara perlahan Murat menaut kan bibirnya pada bibir Aishe, melakukan gerakan manis dan lembut disana, sambil tangan kanannya dengan lembut mulai menyusuri tiap inci ciptaan tuhan paling indah itu, di mulai dari bagian atas yang selalu membuat dirinya menjadi candu luar biasa, menyusup masuk ke dalam pakaian tidur milik sang istri.
Beberapa waktu pada akhirnya Murat dengan gerakan lembut mulai membuka kancing baju tidur sang istri, membuka penutup atasnya kemudian membuka kain penutup bawah nya agar dia bisa bergerak lebih leluasa, hingga aishe benar-benar terlihat seperti bayi mungil yang baru lahir ke dunia ini.
Setelah itu Murat kembali menautkan bibir mereka dengan begitu sempurna, bergerak leluasa menyesap sepanjang lehernya, hingga akhirnya berlari menuju ke bagian dada nya, Murat mulai menyapu bagian areola sang istri dengan tangan kanannya mulai menyapu ke bawah sana.
__ADS_1
Aishe yang tertidur lelap merasakan sesuatu Bergerak di atas tubuhnya, Awal nya bibirnya terasa begitu basah seakan-akan ada yang mencoba menyusuri tiap isi dalam rongga mu..lut nya, kemudian tahu-tahu menjalar ke leher lantas menyusup perlahan menuju ke da.da nya .
Sejenak Aishe berusaha membiasakan bola matanya untuk bangun dari rasa kantuknya.
"Ng.. Daddy?"
Aishe bergumam pelan saat sadar jika Murat yang sejak tadi menjelajahi diri nya, sang suami tampak baru selesai mandi, tubuh nya masih Terlilit handuk, dengan rambut yang masih basah sempurna, tengah menyapu lembut areola milik nya.
"Tidurlah"
Murat mencium lembut bibinya kemudian berbisik dibalik telinga nya.
"Biar aku yang bekerja"
Aishe terkekeh mendengar godaan Murat.
Ucap Aishe pelan.
"Akhh"
tiba-tiba dia menge..rang manja saat tangan Murat menekan lembut di bawah sana.
"Daddy.."
Belum sempat aishe bicara, Murat dengan lembut membungkam bibir nya, menautkan nya dengan sempurna bahkan didalam sana bergerak meminta nya untuk saling berbelit Indah.
Tangan kanan sang suami bergerak lembut menyapu ke dua kaki atas nya, membuat Aishe beberapa kali menggerakkan kakinya yang awalnya merapat sempurnah.
__ADS_1
Saat bibir itu menyesap ujung telinganya, Aishe jelas memejamkan pelan bola matanya, suara de..Sahan nya terdengar begitu menggoda di balik telinga murat.
Laki-laki itu dengan perlahan mulai turun ke bawah sana, mencoba bermain indah dengan Li..dahnya. Bergerak sempurna hingga membuat Aishe menge..Jang hebat, menarik lembut rambut Murat beberapa waktu, hingga akhirnya sesuatu terasa akan keluar dari dalam sana.
Aishe mengencangkan pegangan, sambil berteriak pelan.
"Dad..dy.."
Seakan tahu ini waktunya, Murat semakin mempercepat gerakan lidahnya, hingga akhirnya Aishe mencoba merapat kan pa..ha nya ke kepala Murat tapi Murat mencoba terus membuka pa..ha nya dengan ke dua tangan nya dan sesuatu benar-benar tumpah dari dalam sana.
Murat tersenyum senang, dengan gerakan cepat dia naik ke atas, melepas handuk nya sambil menautkan Bi..bir mereka kembali beberapa waktu.
Dalam hitungan detik, secara perlahan Murat mencoba menyatukan milik mereka, menggesek nya dengan lembut dan mulai menyeruak masuk sedikit demi sedikit.
"Akhhh"
Aishe me..Rin..tih kecil saat Murat mencoba membenamkan semuanya secara sempurna, tangan aishe memeluk erat punggung Murat.
Dengan gerakan lembut Murat mulai memompa di bawah sana, rasa dingin yang memenuhi kamar berubah menjadi rasa panas yang membakar, suara sesapan terdengar memenuhi kamar mereka, era..Ngan. teriakan..dan le..gu..Han indah dari bibir Aishe semakin menambah gai..rah Murat dalam membawa Aishe menuju ke nik..matan tiada Tara.
Semakin Murat bergerak cepat, semakin Aishe me..nge..rang nikmat, hingga akhirnya Aishe berusaha mencari pegangan merasa ini waktunya pelepasan , Murat langsung meraih jemari-jemari indah itu, merapatkan nya dan membiarkan sang istri mendapatkan pelepasan nya, setelah rasa hangat itu keluar, disusul oleh Pelepasan Murat yang menabrak kencang Din..Ding rahim Aishe.
Beberapa kali Murat mencium bi..bir lembut itu, memberi kode jika permainan akan berlangsung sekali lagi, aishe terkekeh, memeluk erat leher sang suami seakan berkata baiklah, aku akan mengikuti semua permainan nya hingga pagi.
"Aku mau di atas"
bisik Aishe manja.
__ADS_1
Murat Terkekeh, dia fikir ini mungkin efek Shatavari hingga membuat sang istri begitu bersemangat, lantas dengan gerakan cepat memeluk Aishe sambil menukar posisi mereka sesuai keinginan sang istri.