
Sejenak Belle tercekat, rasanya begitu aneh saat pinggang nya di genggam erat oleh laki-laki asing yang usia nya sama persis dengan sang kakak Eden.
Seketika Belle Seperti nya menyadari sesuatu, dia seperti nya pernah melihat laki-laki ini sebelumnya.
Ahh om om di lift.
pekik Belle dalam hati.
Tiba-tiba Belle seolah-olah menyadari sesuatu.
"Maaf om"
Belle berusaha melepaskan dirinya dari laki-laki itu, tampak Singkuh karena ternyata laki-laki itu masih menggunakan handuknya saja di pinggang.
Seketika rasa malu menyeruak di balik wajah nya.
Bern menaikkan ujung bibirnya, lucu melihat Rona wajah memerah di pipi bocah itu, masih berusaha menelisik wajah gadis kecil itu beberapa waktu, tiba-tiba dia menyadari soal sesuatu.
"Kau masih sekolah?"
Tanya Bern sambil menaikkan ujung alisnya.
Belle hanya mengangguk pelan.
"Ini pelanggaran, kenapa anak sekolah sudah di biarkan Bekerja?"
Bern bicara sambil meraih gagang telpon di meja samping.
__ADS_1
'Hahh?"
Seolah sadar apa yang akan dilakukan laki-laki itu, secepat kilat belle menyambar tangan laki-laki itu.
"Aku hanya pengganti dari bibi ku, dia Sedang pulang kampung karena ada keluarga yang sakit, om"
ucap Belle cepat, menggenggam erat telapak tangan Bern tanpa mengizinkan laki-laki itu menggunakan telpon nya, jika itu terjadi Belle fikir habislah sudah dia, Ina pasti akan menangis darah saat tahu diri nya dipecat secara tidak hormat.
"Hanya terhitung 4 hari tersisa setelah hari ini"
Ucap Belle lagi sambil berusaha melebarkan senyumannya Se imut mungkin.
Sejenak Bern menatap tajam bola mata gadis kecil itu, menaikkan alisnya seolah-olah berusaha menelisik perkataan gadis itu benar atau tidak.
"Aku tidak suka dibohongi"
Sejenak Belle menelan salivanya.
Yah dia tidak bohong, tapi yang bekerja aslinya juga anak-anak, Ina seusia dia kok. Harus nya memang ibu Ina yang awal nya bekerja di sini, karena sakit akhirnya pulang ke kampung beberapa bulan yang lalu, lah sekarang Ina ikutan pulang kampung karena baru saja sehat beberapa Minggu ibu nya malah sakit lagi, dan dia jadi yang terpaksa mengganti kan Ina.
"Saya benar-benar hanya pemeran pengganti, om"
ucap Belle cepat, berusaha menyakinkan Bern.
"Untuk sisa nya, om bisa tanyakan langsung pada bagian penerima pekerjaan milik tuan atau kantor pemberi tenaga kerja nya"
Belle juga tidak paham soal itu, bicara asal yang penting lolos dari kecurigaan.
__ADS_1
Yang penting tetap berusaha menyakinkan sang tuan bule.
Bern masih menatap dalam wajah Belle, masih dengan jutaan kecurigaan dan keraguan dia mengernyitkan dahinya.
"Oke,kau aku lepaskan kali ini"
Belle mengangguk dengan ekspresi imut seperti anak kucing sambil mengedipkan bola matanya senang.
Oh shit
Bern mengumpat kesal melihat ekspresi bocah kecil itu.
secepat kilat Bern menepis tangan belle agar menjauhi tangan itu dari tangan nya.
"Kau bisa pulang sekarang"
"Baik om"
dalam hitungan detik Belle langsung bergegas membereskan sisa lainnya di dapur, meraih tasnya dengan cepat lantas kabur secepat mungkin dari hadapan laki-laki itu ke arah pintu depan.
Tapi sepersekian detik kemudian tiba-tiba dia kembali lagi kebelakang, menghadap ke arah Bern yang baru saja akan beranjak ke arah kamar nya.
"Earphone ku, om "
secepat kilat Belle menyambar earphon miliknya yang tergeletak di atas meja makan, kemudian benar-benar langsung kabur dari sana dalam hitungan detik.
Fuhhh
__ADS_1
Belle membuang nafas nya lega.