
"Sudah menemukan titik terang?"
Selena bertanya pada bahrat, berjalan mendekati laki-laki itu kemudian duduk di atas kursi sofa tepat disamping bahrat duduk sambil dirinya memperhatikan tablet yang ada dihadapan bahrat.
"Karl menempatkan Malika bukan di wilayah Jawa"
Ucap bahrat sambil menatap wajah Selena yang tampak serius menatap layar tablet nya.
"Ya?"
Selena cukup terkejut.
"Artinya saat ini bisa jadi untie aima sedang mengunjungi untie Malika sesuai permintaan uncle Karl di telpon tempo hari"
Selena dan Bahrat saling Menoleh, bola mata mereka jelas saling bertemu.
"Apa Mereka menemukan titik lokasi tepat nya?"
Tanya Selena lagi, mencoba membuang pandangan nya. Tidak tahu kenapa saat menatap bola mata laki-laki itu rasa aneh tiba-tiba menghantam dirinya.
"Sudah, mereka mendapatkan nya pagi ini"
Bahrat bicara sambil menggeser duduknya, sedikit bergerak maju kemudian membuka beberapa gambar didalam sana.
Selena mencoba melihat gambar-gambar yang ada di hadapannya itu.
"Disekitaran kota Palembang?"
Bahrat mengangguk pelan.
"Cukup jauh dari Jakarta, jika mengendarai mobil bisa jadi memakan waktu sekitar hampir satu hari satu malam , itu cukup melelahkan"
ucap Selena pelan
Bahrat mengangguk lagi, membenahi posisi duduknya lantas bersandar pelan ke kursi sofa.
"Pesawat pilihan transportasi cukup menguntungkan, Kita bisa mencari mobil rental ketika tiba disana, tapi minimal kita harus membawa seseorang yang cukup hapal betul jalanan disana"
Bahrat tampak menghembuskan kasar nafasnya.
__ADS_1
"Siapa?"
Mereka tampak sama-sama berfikir.
"Edo!"
seru Selena cepat.
Ekspresi wajah bahrat langsung berubah serius, dia menggeleng cepat.
"Kamu bercanda, aku tidak suka laki-laki itu mengekori kita"
Selena jelas menaikkan alisnya.
"Alasannya?"
"Karena"
Bahrat menghentikan kata-kata nya.
Alasannya? jelas saja dia tidak suka jika ada laki-laki lain di antara mereka, apalagi laki-laki itu jelas adalah temannya Farhan. Dia hanya tidak suka.
Jawab bahrat cepat.
"Itu tidak masuk dalam list Menolak, dia satu-satunya orang yang bisa membantu kita"
Ucap Selena cepat.
"Bisa kita cari alternatif lain ? maksudku jadikan dia cadangan jika memang tidak memiliki orang yang tepat untuk menjadi guide tour pilihan"
Bahrat berusaha bernegosiasi pada Selena.
"Kamu sedikit aneh"
ucap Selena cepat sambil menaikkan alisnya.
Yeah aneh.
ucap bahrat dalam hati
__ADS_1
"Baiklah coba kita Fikirkan siapa yang bisa di andalkan"
Selena tampak berusaha berfikir.
"Laki-laki atau perempuan bagusnya?"
Selena kembali menoleh ke arah bahrat, lagi-lagi bola mata mereka bertemu.
"Aku tidak suka ada laki-laki di antara kita"
ucap bahrat cepat.
"Ya?"
Selena bertanya cepat, tapi sepersekian detik kemudian tiba-tiba laki-laki itu merapatkan wajahnya, dengan lembut tiba-tiba bahrat menaut kan bibir mereka.
Tung..gu.. dulu.
Jelas saja Selena kaget karena tahu-tahu bahrat mencium nya, bahkan tidak memberikan diri nya ruang untuk bicara atau menarik nafas dengan baik.
Bahrat mulai mengabsen tiap inci bibir nya, me..***** nya nya dengan begitu lembut dan indah.
Bola mata Selena yang awalnya terbelalak kaget langsung meredup, tahu-tahu terpejam sempurna, seolah-olah menikmati apapun yang bahrat lakukan. Bahkan ketika tangan kanan bahrat dengan empat jari nya menahan leher Selena dan ibu jarinya menyapu ujung telinganya Selena, sedangkan tangan kiri bahrat mulai dengan lincah menyapu perut hingga perlahan naik ke dadanya semakin membuat gadis itu semakin tenggelam ke dalam ciuman lembut itu, yang semakin lama semakin menuntun, bahkan tanpa Selena sadari tubuhnya jelas sudah berpindah posisi, semakin tenggelam ke dalam kursi sofa itu untuk waktu yang cukup lama.
Tiba-tiba bahrat melepaskan ciuman menuntun nya dan menghentikan gerakan tangannya, bola matanya menatap wajah dan tubuh Selena yang sudah berpindah di bawah Kungkungan nya.
Bola mata Selena terbuka secara perlahan, lagi-lagi mata mereka bertemu sempurna, sejenak rasa malu menyeruak didalam diri Selena.
Oh tuhan.
pekik nya pelan.
"Mari kita menikah"
Ucap bahrat tiba-tiba.
"Ah..?"
Kata-kata bahrat jelas mengejutkan Selena, Seketika mata nya terbelalak dan dia jelas kehilangan kata-kata.
__ADS_1