
Eden mengerutkan keningnya saat menyadari Belle datang dari arah berlawanan, dia fikir dari mana adiknya itu.
"Dari mana?"
tanya Eden sambil menatap wajah Belle
"Dari tempat kerja Ina, ngantar makanan titipan dengan majikannya"
bohong Belle.
Eden hanya mengangguk pelan, masukkan nomor intercom kamar kemudian setelah pintu nya terbuka mereka Langsung melesat masuk ke dalam.
"Kakak bawa apa?"
"Favorit kamu"
Eden memberikan 1 kantor kresek berisi makanan pada Belle dan sebuan paper bag berwarna pink.
Gadis itu berusaha mengintip.
"Akkhhhh ya tuhannnn"
Belle berteriak bahagia saat tahu apa isi dari paper bag itu, boneka harimau yang begitu lucu.
"ohhh bertambah satu koleksian ku"
Kau tahu kenapa mereka lucu???? karena mereka memang lucuuuu...!!!!
Belle memandangi beberapa boneka harimau yang ada di kamarnya itu.
"Ohhh imut nya"
Belle bicara sambil memejamkan bola matanya, menggeram gemas sambil memencet boneka kecil yang ada di tangan nya.
"Ckckck kamu seolah-olah baru dapat Undian 1 milyar ketika mendapatkan boneka harimau sayang"
Eden menggeleng-gelengkan kepalanya, melepaskan jas nya lantas meletakkan nya ke gantungan, kemudian secara perlahan melipat lengan kemeja nya.
"Hari ini akan di suguhkan menu apa?"
goda Eden pada Belle
seketika Belle meletakkan ujung jari telunjuknya ke arah bibirnya.
"Akan aku siapkan"
__ADS_1
Belle menarik lengan Eden menuju ke arah kursi makan, kemudian meminta Eden duduk disana lalu Belle beranjak mulai mengambil beberapa menu makanan di dalam microwave.
"Wow.... hutspot Belanda?"
Eden tampak tabjub melihat nya.
"Ini menu weekend"
Belle bicara dengan ekspresi bahagia.
"Baiklah, seperti nya harus di hidangkan dengan jenever"
"Ishhhh"
Belle memiringkan bibirnya.
"Tidak ada minuman, bir, wine, anggur ataupun winski"
Eden Terkekeh.
"Baiklah, siap yang mulia tuan putri"
Seketika Belle terkekeh bahagia, memberikan mangkuk dan sendok untuk sang kakak.
"Kakak mungkin tidak akan kembali selama 1 mingguan penuh"
ucap Eden tiba-tiba.
Seketika Belle terdiam.
Lagi?
batin nya.
"Akan ada banyak pekerjaan yang harus kakak selesai kan"
Belle mengangguk pelan.
"Kamu tidak apa-apa bukan? sudah kakak kirimkan uang jajan ke rekening mu"
"Sudah terlalu banyak, bahkan tidak akan habis bertahun-tahun"
jawab Belle dengan lidah yang keluh.
"Jaga diri baik-baik hmm selama kakak tidak ada"
__ADS_1
Eden menyentuh lembut ujung kepala Belle.
Gadis itu hanya mengangguk pelan.
Eden meneruskan makan nya secara lahap, bahkan hampir menghabiskan semua hutspot itu di mangkuknya.
Belle hanya memperhatikan kakak nya, dari luar bibir nya terus tersenyum, padahal didalam dia ingin menangis.
Saat sang kakak pamit pulang sambil mencium puncak kepalanya, dia masih mengembangkan senyuman terbaiknya, namun setelah pintu nya sudah tertutup rapat, seketika air matanya tumpah.
Dia menangis terisak dibelakang pintu, memukul dada nya berkali-kali, sesekali tangan nya menghapus air matanya, berkata didalam hati.
All it's well
tapi realita nya air mata dan raungan tangis nya tidak mau berhenti.
Satu-satunya orang yang dia miliki di dunia ini hanya Eden, tidak ada siapa-siapa lagi yang dia kenal atau dia ketahui, laki-laki itu selalu memanjakan dirinya dengan fasilitas, tapi lupa jika dia juga butuh kasih sayang.
Mama nya tidak kunjung sadar dari koma, hanya bertahan dengan alat bantu pernapasan, berkali-kali dokter berkata untuk melepaskan alat bantu nya dan membiarkan sang mama pergi dengan tenang, sang kakak selalu berkata.
Ini belum waktunya.
Sejak usia 5 tahun Eden selalu memaksa nya untuk hidup mandiri, memarahi dirinya tiap kali dia menangis bahkan tidak enggan memukul nya jika dia tampak rapuh.
Tegakkan kepala mu ke atas, jangan menangis, kau bukan manusia yang lemah.
Hanya boleh menangis karena mama, tidak boleh lebih dari itu.
Jangan cengeng dan jangan mengeluh, satu hari jika aku sudah tidak ada lagi, kau tidak akan pernah terkejut dalam keadaan.
Tempah diri mu sekuat mungkin, tertawalah meskipun kau sebenarnya ingin menangis.
Jangan menangis.
aku bilang jangan menangis Belle.
Yah karena itu dia tidak pernah sekalipun menangis di hadapan Eden, meskipun dia ingin menangis terisak di dalam pelukan sang kakak, dia pasti sebisa mungkin menahan nya kecuali menyangkut soal mama nya.
Setiap kali Eden datang dia selalu tertawa riang, jika Eden pulang dia hanya bisa menelan salivanya, menatap punggung kokoh itu yang kian menjauh, dengan sejuta perasaan bercampur aduk menjadi satu.
1 pertanyaan selalu menghantui nya Selama belasan tahun ini
Jika saja sang kakak pergi selama-lamanya, maka tangan siapa yang bisa dia jadikan sandaran nanti nya?
Acapkali Belle berusaha untuk tidak berbaur dengan banyak orang, mengurasi bergaul dengan teman-teman nya sebab dia takut rasa iri pada keluarga orang lain menghantam dirinya.
Meskipun dia ingin sekali mengeluh, menangis atau pun memberontak karena keadaan, tapi hati nya selalu menyakinkan diri nya.
__ADS_1
Come Belle, bukankah langit tidak selalu gelap? akan ada cahaya yang datang secara tiba-tiba, mungkin saja ini belum waktunya.