
"Apa aku terlihat sedang bercanda? jika iya maka aku tidak akan mengumumkan pernikahan nya hingga seperti ini"
bisik Murat pelan
"Apa yang sebenarnya kamu dapatkan saat menikah dengan ku, Daddy?"
Murat hanya tersenyum, bola matanya kembali berfokus pad Pastor, jemari tangan nya terus menggenggam erat jemari tangan aishe, dapat dia rasakan Betapa dinginnya jari-jari kecil itu.
Seketika aishe menatap tangan nya, dimana jari-jari Murat terus menggenggam nya dengan erat, dia diam sejenak kemudian kembali mendongak menatap laki-laki itu.
sepersekian detik kemudian dia menghela pelan nafasnya.
Apa ini akhir kehidupan ku???
oh tuhan, tidak bisakah aku menolak nya lagi? kan niatnya cuma pindah kerja, kenapa jadi menikah?
akhhhhh
rasanya dia benar-benar ingin mati saja saat ini.
Laki-laki ini benar-benar ingin cari mati.
Didalam lamunan panjangnya, sang pastor tiba-tiba sudah bertanya pada Murat.
"Apakah saudara bersedia meresmikan perkawinan ini sungguh dengan ikhlas hati?"
"Ya, sungguh"
Murat menjawab dengan begitu mantap
Ya?
jelas saja aishe kaget.
__ADS_1
"Bersediakah saudara mengasihi dan menghormati istri saudara sepanjang hidup?"
"Ya, saya bersedia"
"Bersediakah saudara menjadi bapa yang baik bagi anak-anak akan yang dipercayakan Tuhan kepada saudara, dan mendidik mereka menjadi orang Katolik yang setia?"
"Ya, saya bersedia"
Gila lancar sekali.
pekik aishe dalam hati
Tanpa disadari Pastor itu balik menanyakan aishe
"Apakah saudari meresmikan perkawinan ini sungguh dengan ikhlas hati?"
Aishe diam tidak menjawab, para tamu undangan tampak tegang, Murat menatap ke arahnya,meremas beberapa kali telapak tangan nya dengan lembut.
"Sayang?"
umpat Aishe
"Ya, sungguh"
pada akhirnya dia menjawab juga pertanyaan pertama. Murat menyunggingkan senyuman nya.
"Bersediakah saudari mengasihi dan menghormati suami saudara sepanjang hidup?"
"Ya, saya bersedia"
Semakin aishe lancar menjawab semakin erat Murat menggenggang telapak tangan nya.
"Bersediakah saudari menjadi ibu yang baik bagi anak-anak yang dipercayakan Tuhan kepada saudara, dan mendidik mereka menjadi orang Katolik yang setia"
"Ya, saya bersedia"
__ADS_1
Kelegaan tampak terpancar dari wajah semua orang.
"Apa yang dipersatukan oleh Tuhan, tidak bisa dipisahkan oleh manusia".
pastor itu bicara menutup kata-kata nya.
Aishe sesungguhnya masih cukup bingung dengan keadaan ini, seletika Murat sudah memasukkan sebuah cincin ke jari manisnya.
Seketika Murat menatap wajah itu penuh cinta, tersenyum dengan sejuta makna yang aishe sama sekali tidak pahami.
Aishe jelas tidak bergeming, kepalanya serasa berputar tidak menentu, dia dilanda sejuta kebingungan yang tidak dia pahami.
kenapa aku melangkah sejauh ini? menikah dengan orang asing yang baru aku kenal? laki-laki dewasa yang usianya jauh di atas ku, tidak pacaran, tidak saling tahu, bertemu karena ke salahan hingga berakhir ditempat ini?
aishe jelas saja masih bingung, bahkan kali ini hanya terpaku saat Sepersekian detik kemudian tahu-tahu Murat menahan wajahnya, dengan gerakan cepat menautkan bibir mereka.
Dia berharap kali ini ciuman nya terlepas dengan cepat, tapi rupanya dia salah, kali ini ciumannya begitu dalam dan lama, bahkan Murat sempat memasukkan li..dahnya ke dalam rongga mulut aishe, bermain begitu lincah didalam sana.
Seketika wajah aishe memerah, dia gemetaran, kali ini rasanya aneh dan membuat tubuhnya menjadi memanas secara tiba-tiba.
Saat Murat melepaskan ciuman nya, seketika wajah nya memerah seperti terbakar.
"Kau mencium ku lagi"
ucapnya gemetaran.
Murat hanya mengulum senyum, membuang pandangannya, hanya memeluk erat tubuh aishe dan merapatkan nya ke samping dirinya.
Permainan akan segera di mulai, sayang!
sekali ini kalian tidak akan bisa lari kemana-mana.
ucap Murat dalam hati.
__ADS_1